Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Respons yang Menandakan Orang Tak Tertarik Mengobrol denganmu 

5 Respons yang Menandakan Orang Tak Tertarik Mengobrol denganmu
Pixabay.com/MelanieSchwolert-1204817

Pernah gak kamu merasa diabaikan saat mengobrol dengan seseorang? Memang sih, banyak pengalih perhatian di sekitar kita yang bisa bikin kita kurang fokus saat mengobrol dengan orang lain. Tetapi jika lawan bicaramu secara konsisten menunjukkan respons-respons berikut ini, besar kemungkinan ia memang tidak tertarik dengan obrolanmu:

1.Hanya menyahut dengan sahutan-sahutan singkat

Pixabay.com/marcisim-595307
Pixabay.com/marcisim-595307

Misalnya, terus menanggapimu hanya dengan, “Oo...,” atau, “Terus?”

Kalau memang ceritamu masih ada tanda-tanda akan ada terusannya, tentu artinya dia justru menyimak dan penasaran dengan kelanjutannya. Tetapi jika sudah jelas ceritamu telah selesai dan dia masih saja merespons dengan, “Terus?” itu hanya berarti dua hal.

Dia tidak menyimaknya atau tidak tahu harus bereaksi bagaimana karena merasa obrolanmu gak relevan dengannya. Dua-duanya menunjukkan dia sebenarnya tidak cukup tertarik dengan apa pun yang kamu obrolkan. Dia tidak bisa masuk ke dalam topik obrolanmu.

2.Tiba-tiba mengalihkan pembicaraan

Pixabay.com/pasja1000-6355831
Pixabay.com/pasja1000-6355831

Tiba-tiba mengalihkan pembicaraan tentu bikin kamu kaget dan merasa kurang nyaman. Respons seperti ini juga bisa bikin kamu merasa tersinggung. Tetapi cobalah mengerti, barangkali lawan bicaramu justru menjadi yang terlebih dahulu merasa tidak nyaman sehingga ia ingin topik obrolan berubah.

Ada banyak alasan orang merasa tak nyaman dengan topik obrolanmu. Di antaranya topik itu sensitif baginya sekalipun yang sedang kamu bicarakan bukan dia. Atau kamu membicarakan orang lain yang menurutnya termasuk bergunjing dan dia tidak suka itu. Coba cek lagi apa yang kira-kira membuatnya tak nyaman dengan obrolanmu.

3.Mudah lupa apa yang tadi kamu katakan

Pixabay.com/pasja1000-6355831
Pixabay.com/pasja1000-6355831

Saking mudahnya lupa, kamu sampai harus sering mengulangi ucapan-ucapanmu. Inti dari mudahnya ia lupa adalah kurangnya fokus. Salah satu penyebabnya, ia tidak menganggap obrolanmu menarik sehingga saat kalian mengobrol, pikirannya lebih sering terbang ke hal-hal lain yang menurutnya lebih penting.

Bagaimanapun, orang memang tidak bisa membagi perhatiannya secara merata pada banyak hal di saat yang sama. Secara otomatis perhatiannya akan mengikuti skala prioritas.

4.Terus menyambi mengerjakan yang lain

Ilustrasi merasa kesal. (Pixabay.com/Nastya Gepp)
Ilustrasi merasa kesal. (Pixabay.com/Nastya Gepp)

Sekalipun sedang sibuk, jika obrolanmu menarik baginya, dia pasti akan mengambil jeda dari apa pun yang sedang dilakukannya. Sebaliknya bila menurutnya obrolanmu tidak menarik atau kalah penting dari yang apa pun yang sedang dikerjakannya, ia akan tetap mengutamakan pekerjaannya itu.

Bahkan bisa jadi, dia berharap dengan menunjukkan kesibukannya, kamu lekas tahu diri dengan menghentikan obrolan dan meninggalkannya. Meski terkesan tidak menghargaimu, hargailah dia. Barangkali dia memang sedang tidak ingin diganggu.

5.Mengakhiri percakapan dengan berbagai alasan

Pixabay.com/pasja1000-6355831
Pixabay.com/pasja1000-6355831

Ada kesan tergesa-gesa dalam keinginannya menyudahi percakapan. Dia mungkin berdalih harus segera melakukan ini itu. Tetapi kamu tahu sebenarnya tidak ada yang mendesak bahkan kamu meragukan alasan-alasannya.

Kalau sudah ada tanda-tanda dia tidak ingin memperpanjang obrolan, sebaiknya kamu memang lekas mengakhirinya. Jangan malah tidak peka, lanjut terus, dan membuatnya diam-diam merasa tersiksa.

Bagaimanapun, obrolan memang membutuhkan keaktifan orang-orang yang terlibat. Jika tidak, barangkali waktunya saja yang tidak tepat atau kamu memang perlu mencari topik-topik obrolan yang lebih menarik dan penting untuk orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agustin Fatimah
EditorAgustin Fatimah
Follow Us