Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Kamu Kesal saat Ada Orang Mau Utang, Gayanya Lebih Wah!

6 Alasan Kamu Kesal saat Ada Orang Mau Utang, Gayanya Lebih Wah!
ilustrasi marah (pexels.com/Mikhail Nilov)

Memberikan pinjaman sejatinya bagian dari sikap menolong. Namun, tak jarang kamu malah kesal ketika ada teman atau saudara yang hendak meminjam sejumlah uang. Ini tidak bermakna dirimu pelit.

Terkadang orang yang ingin berutang juga kurang beretika. Bahkan ia dapat terkesan hendak memanfaatkan kebaikan hatimu. Gak usah terlalu mudah merasa tidak enak dan berpikir kamu jahat lantaran sebal dengan maksud kedatangannya.

Dirimu berhak untuk menolak pengajuan utangnya bila itu akan berakibat buruk untukmu. Pun wajar kamu sukar luluh dengan permintaannya, apabila situasinya seperti di bawah ini. Kebanyakan orang juga bakal jengkel bila berada di posisimu.

1. Penampilannya lebih kaya daripada kamu

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Mushtaq Hussain)
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Mushtaq Hussain)

Contohnya, teman yang punya mobil ingin meminjam uang padamu yang gak punya kendaraan pribadi. Tentu kamu jadi bertanya-tanya, apa dunia tidak terbalik kalau begini? Padahal jumlah uang yang diperlukannya sangat kecil dibandingkan harga mobilnya bahkan biaya bahan bakarnya dalam sebulan.

Logikanya, jika ia punya uang untuk mengisi bahan bakar, seharusnya dia gak perlu meminjam uang sekecil itu padamu. Bahkan bila kebutuhannya lebih besar, ia dapat menjual mobilnya kalau mau. Bukan dia ingin masalah keuangannya teratasi tanpa kehilangan satu pun barang pribadi.

Justru kamu atau orang lain yang diandalkannya sebagai sumber pinjaman. Perilakunya membuatmu kesal dan berpikir dirinya gak tahu diri. Seharusnya ia malu untuk meminjam uang darimu.

2. Masalahnya terus berulang

ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Christina Morillo)
ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Christina Morillo)

Dahulu, seseorang meminjam uang padamu dengan alasan usahanya sepi. Sekarang ia kembali mengajukan pinjaman dengan dalih yang sama. Manusiawi apabila kamu ingin bertanya, kenapa dia tidak ganti jenis usaha yang lebih mungkin diminati orang?

Mau sampai kapan ia mengandalkanmu untuk menutup kerugian? Pun makin sering usahanya sepi dan utangnya bertambah, makin kecil kemungkinan dia mampu melunasinya. Kamu tak cuma bosan mendengar cerita tentang persoalannya, melainkan cemas kalau-kalau uangmu gak balik.

Masalah yang berulang dan menjadi pendorong dia berutang butuh solusi yang lebih tepat. Utang telah terbukti gagal mengatasi problemnya. Malah utangnya yang berkali-kali menjadi masalah baru bagi kalian berdua.

3. Utang sebelumnya saja belum dilunasi

ilustrasi menunjuk ke laptop (pexels.com/Tim Douglas)
ilustrasi menunjuk ke laptop (pexels.com/Tim Douglas)

Kamu mungkin merasa gak masalah untuk memberikan pinjaman pada orang yang tertib membayar utang. Satu utang terlunasi, baru berutang lagi kalau benar-benar terdesak kebutuhan. Bukan malah utang lama dicicil saja belum, dia sudah kembali hendak pinjam uang.

Sikapnya yang tidak bertanggung jawab pada utang bikin dirimu nyaris kehilangan kesabaran. Batinmu sebal, dengan apa kamu akan kembali memberinya pinjaman bila utang sebelumnya saja belum dibayar? Masa gajimu mesti terpotong lagi buat mengutanginya?

Ingatkan dia dengan sopan tetapi tegas mengenai utang lamanya. Kalaupun ia belum bisa membayarnya sekarang, minimal jangan menambah jumlah pinjamannya padamu. Katakan bahwa ini supaya bebannya dalam melunasi tidak terlalu besar serta kamu sendiri tak punya uang lagi buat dipinjamkan.

4. Dia gak peduli dengan kondisi finansialmu

ilustrasi dua perempuan (pexels.com/SHVETS production)
ilustrasi dua perempuan (pexels.com/SHVETS production)

Ia selalu datang padamu dan memintamu memahami kondisi finansialnya. Akan tetapi, dia tak melakukan hal yang sama terhadapmu. Padahal, kondisi keuanganmu juga tidak selalu baik.

Sebagai contoh, dirimu telah berkata bahwa ada masalah dalam pekerjaanmu. Pendapatanmu pun terpengaruh sehingga tidak sebanyak sebelumnya. Namun bukannya mengerti serta memberikan semangat, ia justru tetap mengajukan utang.

Sikapnya yang sama sekali gak peka tentu membuatmu jengkel. Apakah ceritamu masih kurang jelas untuknya? Bahkan kamu kembali menggambarkan situasi dalam pekerjaanmu pun, niatnya meminjam uang tak juga batal.

5. Ia malas dalam bekerja

ilustrasi malas bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi malas bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kamu bekerja keras demi mendapatkan cukup uang buat beragam kebutuhan. Namun, orang yang kerjanya bermalas-malas dengan entengnya ingin meminjam uang padamu. Ini membuatmu serasa bekerja demi dia, bukan buat diri sendiri.

Lagi pula selama ia tidak giat bekerja, bagaimana penghasilannya akan layak? Dia tidak boleh terus mengandalkan kamu, apa pun hubungan di antara kalian. Apabila ia rajin bekerja tetapi ada kebutuhan darurat yang lebih besar daripada penghasilannya, tentu dirimu juga siap membantu.

Dalam situasi seperti itu, kamu bahkan ikhlas memberi dan bukan sekadar meminjamkan uang. Akan tetapi, kamu sangat tidak suka kalau seperti diminta memanjakan orang lain dengan hasil kerja kerasmu. Sama-sama mengeluarkan uang, kamu lebih suka memberikannya pada seseorang yang tidak mampu bekerja karena sakit parah daripada meminjamkannya pada pemalas.

6. Alasan berutang tidak jelas

ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Alexander Suhorucov)
ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Sebagai pemilik uang, kamu berhak tahu uang tersebut akan dipakai untuk apa. Alasannya menjadi pertimbangan buatmu mengambil keputusan perlu atau tidaknya memberikan pinjaman. Namun, dia malah mengatakan sejumlah alasan yang tak jelas.

Dari perkataannya seolah-olah ada yang hendak ditutupi. Kamu khawatir jangan-jangan uangmu akan digunakan untuk hal-hal yang berbeda dari ucapannya. Bagaimanapun, dirimu bekerja keras untuk setiap rupiah yang diperoleh.

Gak salah bila kamu tidak rela orang lain memakai uangmu dengan sesuka hati meski ia janji bakal mengembalikannya. Sikapnya yang terindikasi gak jujur sama dengan menyepelekan kerja kerasmu. Selama alasannya jelas, kamu tentu gak keberatan memberi pinjaman.

Masih banyaknya orang yang menggampangkan perkara utang apalagi tidak berbunga memang menyebalkan. Perilakunya menjadi kurang menjaga perasaanmu. Bukannya malu dan merasa gak enak padamu, orang yang sudah terbiasa berutang justru bisa lebih galak daripada kamu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Marliana Kuswanti
EditorMarliana Kuswanti
Follow Us