Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Tanda Kamu Pribadi Jujur, Sikap dalam Keseharian Diperhatikan
ilustrasi perempuan muda (pexels.com/Lindsey Adams)

Jika kamu ditanya seberapa jujur dirimu, apa jawabanmu? Jangan asal mengaku dirimu tidak suka berbohong karena sikapmu dalam keseharian tak mungkin bisa menutupinya. Gak usah pula selalu menambahkan sumpah di depan atau di akhir perkataanmu.

Bukan seringnya kamu bersumpah yang menentukan kepercayaan orang terhadapmu. Setiap saat sesungguhnya menjadi waktumu untuk membangun reputasi. Ada banyak tindakan kecil yang dapat menjadi petunjuk bagi orang lain tentang karaktermu yang asli. 

Memperhatikan hal-hal kecil ini lebih akurat untuk mereka memperkirakan tingkat kejujuranmu. Jika tidak menunjukkan enam tanda kamu pribadi jujur berikut ini, sekeras apapun dirimu mencoba meyakinkan orang lain dengan ucapan, belum tentu mereka mau percaya. Poin terakhir adalah yang paling sering dilakukan orang ketika janjian bertemu.

1. Gak menyerobot antrean meski ada kesempatan

ilustrasi membeli makanan (pexels.com/Jo Kassis)

Apabila antrean diatur secara ketat seperti dengan nomor sesuai kedatangan, pastinya kamu gak bisa berbuat banyak. Mau tidak mau dirimu menunggu sampai tiba giliranmu dilayani. Akan tetapi tanpa sistem antrean yang baik dan hanya orang-orang yang berkerumun, siapa saja bisa main serobot.

Kecuali, orang yang memang punya sifat jujur. Sebagai contoh, kamu hendak membeli makanan di pedagang kaki lima. Calon pembeli cuma berkerumun di sekitar pedagang. Biasanya banyak orang minta dilayani terlebih dahulu. Pedagang yang sejak tadi repot sampai gak tahu siapa yang datang duluan.

Ketika pedagang menanyakannya, hampir semua orang mengaku datang lebih dulu biar dilayani lebih cepat. Namun, kamu tidak pernah berusaha memanfaatkan situasi seperti ini buat keuntungan pribadi. Dirimu selalu langsung menunjuk orang yang datang lebih dulu daripada kamu dan menunggu giliranmu dengan sabar. Bahkan meski orang itu membungkus banyak dan dirimu cuma beli seporsi, kamu tak minta didahulukan.

2. Menemukan barang saat sendirian dan tetap membuat pengumuman

ilustrasi menemukan jam tangan (pexels.com/Wallace Chuck)

Dibandingkan dengan situasi ada banyak orang, sendirian membuatmu lebih bebas hendak melakukan apa saja. Apalagi tidak ada satu pun kamera pengawas yang akan merekam gerak-gerikmu. Cuma tingginya standar moral yang membuatmu tetap berperilaku jujur.

Misalnya, kamu menemukan jam tangan di toilet umum. Kalau kamu mau, bisa saja mengantongi dan membawanya pulang. Nanti saat ada orang yang mencari-cari jam tangannya, dirimu tinggal bilang gak tahu. Kamu bahkan dapat beralasan masuk ke kamar mandi yang berbeda.

Tapi karena sifat jujur, apa pun barang yang ditemukan tidak langsung dianggap milik sendiri. Kamu mengumumkannya dulu kalau-kalau ada orang yang kehilangan. Bila pun tak ada orang yang merasa kehilangan, dirimu menyerahkannya ke petugas setempat. Atau, menyimpannya dulu dalam waktu yang lama setelah memberikan nomor telepon yang dapat dihubungi jika pemiliknya ingin mengambil.

3. Mengembalikan uang kembalian yang terlalu banyak

ilustrasi membuka dompet (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Kamu belum bisa disebut jujur apabila tidak kuat dengan ujian berbentuk uang. Semua orang pada dasarnya menyukai uang. Apalagi ketika uang diperoleh tanpa perlu bersusah payah. Banyak orang menganggapnya sebagai bonus yang gak boleh disia-siakan. 

Contohnya, uang kembalian saat kamu berbelanja. Ketika dirimu mendapatkan uang kembalian lebih sedikit dari seharusnya, tentu kamu memprotes pedagang atau kasirnya. Namun, apa yang dirimu lakukan saat memperoleh uang kembalian yang lebih besar? 

Orang yang tidak jujur pasti langsung senang mendapati uang kembaliannya lebih banyak. Ia merasa untung dan sama sekali tak ada niat buat mengembalikan kelebihannya. Tapi meski kamu baru menghitung uang kembalian di rumah, besok bela-belain balik lagi ke toko atau warung untuk menyerahkan kelebihannnya.

Buatmu tak penting penjual atau kasir menyadari kelebihan kembalian itu atau tidak. Terpenting untukmu hanyalah mengembalikannya pada orang yang berhak. Sikap ini termasuk langka di tengah orang-orang yang sibuk mengejar keuntungan pribadi.

4. Mengakui kesalahan walau tak ada saksi

ilustrasi bercakap-cakap (pexels.com/Liliana Drew)

Sama seperti ketika kamu menemukan barang tanpa ada kamera pengawas, tiadanya saksi saat dirimu berbuat salah dapat dianggap sebagai keuntungan. Meski kesalahanmu menyebabkan kerusakan yang kentara, kamu bisa saja melarikan diri. Saat besok terjadi kegemparan, kamu pun dapat ikut berpura-pura kaget.

Bahkan bersama orang lain mengutuk perilaku seseorang yang amat tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, dirimu gak begitu. Kamu sadar berbuat salah dan otomatis membuat pengakuan di depan orang-orang yang perlu mengetahuinya. Terutama, orang yang dirugikan akibat kekeliruanmu.

Soal ada saksi atau tidak malah gak terpikirkan olehmu. Nuranimu terbebani apabila tak mengakuinya. Walaupun kamu tahu pengakuan itu akan berbuntut sanksi, dirimu sudah siap untuk menerimanya. Kamu tidak memandang hukuman yang layak diterima sebagai hal buruk. Justru setelah ini dirimu akan belajar jauh lebih berhati-hati. 

5. Berani mengakui saat tak bisa melakukan sesuatu atau gak tahu

ilustrasi mengerjakan tugas (pexels.com/Keira Burton)

Tantangan dalam melakukan ini ialah rasa gengsi. Maka tak sedikit orang yang malah suka bersikap sok tahu demi menjaga gengsinya. Tapi orang berkarakter jujur menganggap sikap seperti itu tidak perlu. Alasan pertama, berlagak tahu hanya akan menyusahkan diri sendiri.

Kamu harus berpusing-pusing memikirkan sesuatu yang memang di luar kemampuanmu. Bukan soal dirimu mau meningkatkan kemampuan atau tidak, tapi memang ada banyak hal yang tak bisa kamu lakukan. Alasan kedua dirimu gak mau sok tahu ialah kasihan pada orang lain yang telanjur berharap padamu.

Bukannya masalah lekas teratasi dengan bantuanmu, kamu malah memperlambat penyelesaiannya. Gengsimu sama sekali tidak menjadi pertimbangan ketika dirimu mengutamakan kejujuran. Toh, saat kamu mampu melakukan sesuatu juga bukan buat mencari pujian.

6. Gak bilang sudah OTW padahal masih di rumah

ilustrasi santai di rumah (pexels.com/Vitaly Gariev)

OTW atau on the way sering dipakai orang yang gak jujur buat mengelabui seseorang yang hendak ditemui. Misalnya, kamu janjian dengan teman untuk bertemu di suatu tempat. Dirimu menunda-nunda waktu berangkat sampai dia menghubungi dan menanyakan posisimu.

Kamu santai saja bilang OTW padahal aslinya masih di rumah. Seharusnya on the way hanya digunakan jika dirimu benar-benar sudah dalam perjalanan. Bukan kamu baru mau berangkat bahkan masih perlu waktu untuk bersiap-siap. Kasihan orang lain menunggu terlalu lama.

Sebaliknya jika kamu jujur, dirimu bakal termotivasi buat berangkat lebih awal. Dengan begitu, kamu datang tepat waktu sesuai janji dan teman gak perlu menanti sampai lebih dari 10 menit. Kalau betul-betul tak bisa datang tepat waktu, kamu sejak awal minta jam ketemuannya diundur karena ada keperluan mendadak. Bukan dirimu terus bilang OTW tapi tidak datang-datang.

Gak semua orang masih ingin mempertahankan sifat jujur setelah kejujuran berakibat kurang menyenangkan buat diri sendiri. Sampai kebohongan pun dibalut dengan sumpah berkali-kali agar orang lain memercayainya. Padahal, karakter asli bakal tampak juga dari perilaku-perilaku yang lebih sederhana seperti tanda-tanda kamu pribadi jujur pada penjelasan di artikel ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article