Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan membaca
ilustrasi perempuan membaca (freepik.com/diana.grytsku)

Intinya sih...

  • Memberi jeda nyata dari kelelahan layar

  • Pengalaman membaca terasa lebih personal

  • Buku fisik jadi simbol gaya hidup slow living

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah gempuran layar digital, notifikasi tanpa henti, dan konten serba cepat, kebiasaan membaca justru mengalami pergeseran menarik. Generasi yang tumbuh bersama smartphone ini perlahan kembali melirik buku fisik sebagai pilihan utama. Bukan karena nostalgia semata, tapi karena ada pengalaman berbeda yang sulit digantikan layar. Fenomena ini menunjukkan bahwa hobi membaca di kalangan Gen Z sedang menemukan bentuk barunya.

Buku cetak kini hadir bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tapi juga bagian dari gaya hidup. Rak buku, book haul, hingga sudut baca estetik ramai muncul di media sosial. Aktivitas membaca jadi lebih personal, reflektif, dan terasa intim. Yuk simak lima alasan mengapa membaca buku fisik kembali jadi tren di kalangan Gen Z.

1. Memberi jeda nyata dari kelelahan layar

ilustrasi perempuan membaca (freepik.com/freepik)

Gen Z dikenal sangat akrab dengan dunia digital, tapi paparan layar yang terus-menerus juga memicu rasa lelah mental. Membaca buku fisik menawarkan pengalaman tanpa cahaya biru dan distraksi notifikasi. Saat membuka halaman demi halaman, otak diberi ruang untuk bernapas lebih pelan. Aktivitas ini terasa seperti digital detox versi sederhana.

Berbeda dengan membaca lewat gawai, buku cetak mengajak pembaca fokus pada satu hal dalam waktu tertentu. Konsentrasi jadi lebih utuh tanpa godaan berpindah aplikasi. Banyak anak muda mulai menyadari manfaat ini untuk menjaga kesehatan mental. Tak heran jika tren baca buku fisik kembali menguat.

2. Pengalaman membaca terasa lebih personal

ilustrasi perempuan membaca (freepik.com/pressfoto)

Sentuhan kertas, aroma buku, dan suara halaman yang dibalik memberi sensasi yang sulit ditiru format digital. Buku fisik menciptakan hubungan emosional antara pembaca dan isi bacaan. Setiap coretan kecil atau lipatan halaman menyimpan cerita personal. Pengalaman ini membuat membaca terasa lebih intim dan bermakna.

Gen Z cenderung menghargai hal-hal yang autentik dan berkarakter. Buku cetak menawarkan keunikan yang gak seragam seperti screen. Aktivitas membaca pun berubah menjadi ritual, bukan sekadar konsumsi informasi. Inilah salah satu manfaat baca buku yang kembali dirasakan generasi muda.

3. Buku fisik jadi simbol gaya hidup slow living

ilustrasi perempuan me time (freepik.com/freepik)

Di tengah budaya serba cepat, banyak Gen Z mulai mencari ritme hidup yang lebih pelan. Membaca buku fisik sejalan dengan konsep slow living yang menekankan kesadaran dan kehadiran penuh. Aktivitas ini membantu mereka menikmati proses tanpa tekanan kecepatan. Membaca pun menjadi cara untuk kembali terhubung dengan diri sendiri.

Buku cetak sering dipilih sebagai teman minum kopi atau waktu santai di akhir pekan. Momen sederhana ini terasa menenangkan di tengah hiruk pikuk digital. Kebiasaan ini juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan waktu. Tak heran jika membaca buku jadi hobi Gen Z yang makin populer.

4. Media sosial ikut mengangkat budaya membaca

ilustrasi membuat konten video book reviewer (freepik.com/freepik)

Alih-alih mematikan minat baca, media sosial justru memberi panggung baru bagi buku fisik. Konten seperti book review, reading vlog, hingga foto rak buku estetik ramai di berbagai platform. Buku cetak tampil sebagai objek visual yang menarik dan mudah dibagikan. Hal ini membuat membaca terasa relevan dengan identitas digital Gen Z.

Komunitas pembaca juga tumbuh lewat diskusi daring dan tantangan membaca. Interaksi ini memberi rasa kebersamaan dan validasi sosial. Buku fisik gak lagi dianggap kuno, tapi justru keren dan berkarakter. Fenomena ini memperkuat tren membaca di era digital.

5. Membantu fokus dan pemahaman lebih dalam

ilustrasi perempuan membaca (freepik.com/freepik)

Banyak pembaca muda merasa lebih mudah menyerap isi bacaan lewat buku fisik. Tanpa scrolling dan hyperlink, alur membaca jadi lebih terjaga. Pemahaman teks pun terasa lebih mendalam dan reflektif. Hal ini penting bagi mereka yang ingin membaca untuk belajar, bukan sekadar lewat.

Buku cetak juga membantu membangun kebiasaan fokus dalam jangka waktu lebih lama. Kemampuan ini semakin bernilai di tengah budaya serba instan. Dengan membaca buku fisik, Gen Z melatih kesabaran dan ketekunan. Manfaat ini membuat buku cetak tetap relevan hingga sekarang.

Kembalinya buku fisik di kalangan Gen Z menunjukkan bahwa teknologi gak selalu menghapus kebiasaan lama. Justru, generasi muda memilih apa yang paling sesuai dengan kebutuhan emosional dan mental mereka. Membaca buku cetak kini hadir sebagai bentuk perlawanan halus terhadap distraksi digital. Yuk, luangkan waktu sejenak, buka halaman pertama, dan rasakan sendiri kenapa buku fisik kembali dicintai.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian