Anna Alboth, seorang jurnalis dan blogger keturunan Polandia yang saat ini menetap di Berlin, merasa tidak tenang melihat keadaan di Aleppo. Melihat banyaknya pemberitaan yang menyedihkan tentang keadaan di Aleppo, Anna merasa tidak bisa lagi duduk tenang tanpa melakukan apa-apa untuk Aleppo.
Musim gugur 2015, Anna membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk seorang pria tua berusia 50 tahun, pengungsi Syria bernama Akeel. Akeel sendiri mempunyai 2 orang anak, yang juga dengan berbagai upaya akhirnya berhasil meninggalkan Syria dan kini tinggal di Turki dan Dubai. Dia juga masih memiliki keluarga di Syria. Anna dan keluarganya sudah menganggap Akeel seperti keluarga mereka sendiri.
Saat ini di rumah tersebut Anna tinggal bersama suaminya Thomas Alboth, dua orang anak mereka yang masih kecil, dua orang teman dan tentunya Akeel. Sebelumnya Anna juga sangat aktif dalam mengkampanyekan "refugee welcome" di Eropa untuk menerima para pengungsi Syria.
Dia pernah mengumpulkan 3000 kantong tidur dari Polandia dan dibawa ke Berlin untuk dibagikan kepada para pengungsi. Kemudian banyak yang bertanya kepada Anna, apa yang sebenarnya terjadi di Syria, dan bagaimana kehidupan para pengungsi Syria di Jerman.
Lalu, Anna mengundang orang-orang tersebut untuk makan malam dan Akeel yang memasak untuk mereka. Orang-orang yang datang bisa bertanya langsung kepada Akeel mengenai keadaan di Syria. Dari sinilah tercipta ide gerakan Civil march for Aleppo setelah menyaring beberapa ide gerakan lainnya.
Civil March for Aleppo dimulai pada 26 Desember 2016 lalu, diikuti peserta awal berjumlah 300 orang dan ditargetkan akan memakan waktu tiga setengah bulan. Rute perjalanannya yaitu Jerman, Republik Ceko, Austria, Slovenia, Kroasia, Macedonia, Yunani, Turki dan terakhir Syria.
Mereka berjalan sekitar 15-20 km per harinya. Tidak lupa sebelum kegiatan ini dimulai, Anna juga sudah menghubungi pengacara di negara-negara yang akan mereka lewati untuk keperluan perizinan dan surat-surat. Hal ini sangat penting jika ada di antara mereka, yang mungkin saja tiba-tiba sakit, butuh ambulans dan harus ke rumah sakit.
Mereka juga membawa bahan makanan dan keperluan-keperluan pokok lainnya. Sejauh ini mereka sudah pernah tidur di masjid, gereja, sekolah, rumah warga, toko dan tempat lainnya. Suhu musim dingin yang sempat mencapai minus 14 pun sudah mereka lalui.
Selain untuk membantu para korban perang di Aleppo, Civil march for Aleppo ini juga bertujuan untuk menghentikan peperangan yang ada di sana. Meski kegiatan ini bertujuan baik, Anna masih saja mendapatkan kritikan dari beberapa orang yang pesimis akan keberhasilan kegiatan ini. Meskipun demikian, wanita 32 tahun ini mengatakan, jikapun mereka tidak sampai di Aleppo karena satu dan lain hal, setidaknya mereka sudah berusaha untuk Aleppo.
Saat ini, Anna dan kelompoknya sudah sampai di Serbia. Dikutip dari akun facebooknya, status terakhirnya menuliskan bahwa mereka sedang membutuhkan tempat untuk menginap di Serbia. Sebelumnya saat berada di Macedonia, Anna juga sempat diundang di sebuah stasiun TV setempat untuk wawancara mengenai Civil march for Aleppo yang digagasnya.
Banyak hal yang sudah dilalui Anna dan orang-orangnya, yang sudah berjalan selama tiga bulan ini. Mulai dari musim dingin yang sudah berganti menjadi musim semi, sampai bertemu orang dari berbagai golongan, suku dan agama.
Kita doakan semoga Anna dan orang-orangnya bisa mencapai Aleppo dan peperangan disana bisa berakhir. Anna sudah menunjukkan pada dunia, bahwa untuk menolong itu tidak perlu memandang agama dan golongan. Tetapi menolonglah karena kemanusiaan.
