ilustrasi berjabat tangan (Pexels.com/Pixabay)
Apa maksudnya menyandarkan nikmat kepada selain Allah? Misalnya, kita sedang mengalami kesusahan. Tiba-tiba, orang lain datang membantu. Alih-alih mengucapkan Alhamdulillah, kita malah berkata, "Untung ada kamu. Kalau tidak, aku pasti bakal begitu".
Nah, itu merupakan penyandaran nikmat yang keliru dan berpotensi menjerumuskan kita ke dalam sikap kufur. Sebagai muslim, kita harus sadar bahwa setiap rezeki dan nikmat yang kita terima, baik dengan atau tanpa ikhtiar, semata-mata adalah atas pemberian dan izin Allah SWT.
Hal tersebut ditegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 53 yang berbunyi, "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl, [16]:53).
Dalam hal ini, orang yang membantu kita sejatinya adalah nikmat dari Allah, tapi dalam bentuk perantaraan manusia. Merujuk laman muslim.or.id, apabila kita mengucapkan perkataan sebelumnya tanpa ada keyakinan bahwa uluran tangan orang tersebut berasal dari Allah, kita sudah bisa dianggap melakukan syirik besar, lho!
Namun, dikutip dari muslim.or.id, ulama menyebutkan situasi tertentu di mana menyandarkan nikmat kepada selain Allah masih diperbolehkan, di antaranya
- Menyandarkan nikmat kepada selain Allah sekadar untuk memberitakan sesuatu. Namun, perlu diingat bahwa informasi yang diberitakan harus sesuai kenyataan. Contoh kasusnya adalah tentang warisan. Semisal ada yang bertanya, "Dari mana kamu mendapatkan tanah ini?", maka tidak masalah jika kita menjawab, "Tanah ini warisan orangtua saya."
- Menyandarkan nikmat kepada sesuatu yang pengaruhnya sudah teruji oleh hasil penelitian atau percobaan. Contohnya adalah konsumsi obat. Obat memang dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Namun, kita tetap tak boleh lupa bahwa kesembuhan yang didapatkan merupakan nikmat yang datang dari Allah. Dalam hal ini, tidak apa-apa jika kita berkata, "Atas izin Allah, saya sembuh setelah meminum obat ini."