Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
film adaptasi novel The Hate U Give.
film adaptasi novel The Hate U Give (dok. 20th Century Fox/The Hate U Give)

Buku yang pernah dicekal atau dilarang sering kali langsung dicap berbahaya. Padahal, di balik kontroversinya, banyak karya justru menyimpan makna mendalam dan membuka diskusi penting soal kemanusiaan, ketidakadilan, dan trauma, . Larangan biasanya muncul karena tema sensitif, bahasa yang keras, atau penggambaran realitas yang terasa terlalu jujur.

Menariknya, buku-buku yang dipermasalahkan ini justru sering dianggap sebagai karya sastra penting dan dipelajari secara luas. Buku-buku tersebut menantang pembaca untuk berpikir lebih kritis dan berempati terhadap pengalaman yang berbeda. Berikut beberapa buku kontroversial yang pernah dicekal tapi sarat makna serta isinya sangat relevan dengan masa kini.

1. Beloved — Toni Morrison

sampul buku Beloved (britannica.com)

Novel ini dikenal sebagai salah satu karya sastra modern paling berpengaruh, tapi juga termasuk yang sering diprotes dan dihapus dari beberapa perpustakaan sekolah. Alasannya karena memuat kekerasan dan adegan yang dianggap terlalu eksplisit. Ceritanya mengikuti seorang mantan budak yang dihantui masa lalu dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang.

Meski berat, kekuatan buku ini ada pada cara penulisnya meramu bahasa yang puitis untuk membahas luka sejarah dan dampaknya. Banyak kritikus memuji keberanian novel ini dalam menampilkan sisi paling menyakitkan dari sejarah perbudakan. Justru karena tidak mempercantik kenyataan, pesannya terasa lebih menghantam dan membekas lama setelah dibaca.

2. The Hate U Give — Angie Thomas

buku The Hate U Give (harpercollins.com)

Buku ini sempat dilarang di beberapa distrik sekolah karena dianggap mengandung bahasa kasar, isu narkoba, dan muatan politik. Ceritanya mengikuti seorang remaja perempuan yang menyaksikan temannya ditembak polisi, lalu harus menghadapi tekanan dari dua dunia berbeda, yakni  lingkungan rumah dan sekolahnya. Sudut pandangnya personal, tapi dampaknya sosial.

Yang membuat novel ini kuat adalah kemampuannya menunjukkan konflik ras dan keadilan tanpa terasa menggurui. Pembaca diajak melihat bagaimana sebuah peristiwa bisa terasa sangat berbeda tergantung posisi sosial dan pengalaman hidup. Kontroversinya justru membuka ruang diskusi penting tentang empati dan sistem yang tidak selalu adil.

3. The Kite Runner — Khaled Hosseini

buku The Kite Runner (penguinrandomhouse.com)

Sejak terbit, novel ini langsung menjadi best seller internasional, tapi juga sering ditantang untuk ditarik dari kurikulum sekolah. Kritik biasanya menyorot adegan kekerasan seksual dan latar konflik politik di Afghanistan. Kisahnya berpusat pada persahabatan dua anak laki-laki dan rasa bersalah yang membayangi hingga dewasa.

Di balik kontroversinya, buku ini sebenarnya adalah cerita tentang penebusan, loyalitas, dan konsekuensi pilihan masa kecil. Latar sejarah dan budaya ditampilkan dengan detail sehingga pembaca bisa memahami dampak perang terhadap kehidupan pribadi. Emosinya kuat, kadang menyakitkan, tapi justru di situlah nilai reflektifnya terasa.

4. This One Summer — Jillian Tamaki & Mariko Tamaki

buku This One Summer (macmillan.com)

Graphic novel coming of age ini beberapa kali dilarang di sekolah karena dianggap terlalu vulgar, memuat isu seksualitas, dan ilustrasi yang dinilai sensitif. Ceritanya mengikuti dua remaja perempuan yang menghabiskan musim panas bersama sambil menghadapi perubahan emosi dan rasa ingin tahu tentang dunia dewasa. Gaya visualnya lembut, tapi temanya cukup tajam.

Yang membuat buku ini istimewa adalah kejujurannya dalam menggambarkan masa transisi remaja tanpa filter berlebihan. Topik kesehatan mental, hubungan keluarga, dan kebingungan identitas ditampilkan secara manusiawi. Meski formatnya komik, kedalaman pesannya tidak kalah dengan novel tebal.

5. The Handmaid's Tale — Margaret Atwood

buku The Handmaid’s Tale (goodreads.com)

Novel distopia ini juga sering masuk daftar buku yang dipermasalahkan karena memuat kekerasan, seksualitas, dan kritik tajam terhadap kekuasaan serta agama. Ceritanya menggambarkan masa depan di mana perempuan kehilangan hak dan tubuh mereka dikontrol negara. Suasananya menekan dan terasa sangat dekat dengan ketakutan dunia nyata.

Kekuatan buku ini ada pada gagasannya tentang propaganda dan bagaimana sistem bisa mengubah moral masyarakat. Banyak pembaca merasa novel ini makin relevan seiring waktu karena isu kontrol tubuh dan politik identitas terus muncul. Walau tidak nyaman dibaca, justru ketidaknyamanan itu yang memicu kesadaran.

Buku kontroversial yang pernah dicekal tapi sarat makna bukanlah sekadar sensasi, melainkan cerminan keras terhadap realitas manusia. Dari daftar buku terlarang ini, mana yang paling membuatmu penasaran untuk dibaca lebih dulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team