Ferdinand Tikus Mondok dan Kenangan yang Hilang karya Mickael Brun-Arnaud (gramedia.com)
Di tengah Hutan Bellécorce, Archibald si Rubah menjalankan sebuah toko buku unik tempat para hewan menyimpan buku karya mereka sendiri. Suatu hari, Ferdinand si Tikus Mondok datang dengan putus asa karena ingatannya mulai memudar akibat penyakit "Lupa-Lupa". Ia mencari buku memoar miliknya untuk mengingat kembali orang-orang yang ia cintai, tetapi buku itu baru saja terjual kepada pelanggan misterius. Bersama Archibald, Ferdinand pun memulai petualangan menyusuri hutan untuk melacak jejak sang pembeli sekaligus mengumpulkan kembali kepingan kenangan yang tersisa melalui foto-foto lama.
Buku ini menggunakan metafora yang lembut untuk membahas duka akibat penyakit kehilangan ingatan, yang sering disebut sebagai "kehilangan seseorang yang masih ada secara fisik". Melalui kisah persahabatan Archibald dan Ferdinand, pembaca diajak memahami bahwa meskipun identitas dan ingatan seseorang bisa memudar, ikatan cinta dan jejak perasaan yang ditinggalkan tidak akan pernah hilang. Cerita ini menjadi pengingat yang menyentuh agar kita menghargai setiap momen selagi ingat masih utuh, serta tetap mencintai mereka yang mulai kehilangan memorinya dengan penuh kesabaran.
Berdamai dengan duka bukan berarti kita harus menghapus kenangan, melainkan belajar untuk terus melangkah sambil membawa cinta yang tersisa di dalam hati. Melalui kelima rekomendasi buku untuk sembuhkan luka dan berdamai dengan duka, pembaca diingatkan bahwa setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk pulih. Semoga rekomendasi buku di atas dapat menjadi teman setia yang memeluk kesedihanmu, sekaligus memberikan cahaya baru untuk melihat bahwa hidup, meskipun tidak lagi sama, tetap memiliki makna yang berharga untuk dijalani.