Kompas moral itu ternyata tidak hanya soal kemampuan menentukan baik dan buruk sebuah perilaku. Nyatanya, ada banyak faktor yang memengaruhi bagaimana kita melihat dan meyakini moralitas, salah satunya keberadaan privilese atau hak istimewa yang melekat sejak kita lahir atau diperoleh setelah bertahun-tahun menjalani hidup. Bahasan ini pernah disenggol Reginald Williams dalam tulisannya berjudul "Morality and Privilege" untuk Journal of Moral Philosophy.
Ia mencontohkan perbedaan kemampuan orang untuk membeli produk yang mementingkan etika—seperti terkait keberlanjutan lingkungan dan kondisi kerja yang layak—karena harganya jelas bakal lebih mahal. Artinya, untuk bisa menaruh moral dalam skala prioritas, seseorang butuh privilese. Pihak yang kurang beruntung (unprivileged), seperti butuh upaya ekstra untuk bertahan hidup, sayangnya kerap tak bisa menaruh moralitas dalam skala prioritas. Namun, Williams juga berargumen kalau manusia pun punya perbedaan persepsi moralitas yang berakar dari keberagaman kultur dan standar rasa bersalah yang bersifat relatif. Biar makin paham, kamu bisa pakai lima buku fiksi dan nonfiksi berikut. Dijamin makin peka!
