Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bolehkah Memilih Buku Berdasarkan Mood?

ilustrasi memilih buku
ilustrasi memilih buku (unsplash.com/Sonja Punz)
Intinya sih...
  • Memilih buku sesuai mood membantu pembaca lebih menikmati bacaan dan menyelesaikannya tanpa paksaan.
  • Banyak buku terasa “tidak cocok” bukan karena isinya buruk, melainkan karena dibaca pada waktu dan kondisi yang kurang tepat.
  • Fleksibilitas dalam memilih bacaan membuat kebiasaan membaca lebih sehat dan bertahan lama.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa sudah punya niat membaca, tetapi begitu buka buku justru menutupnya lagi tanpa alasan jelas? Bukan karena bukunya jelek, melainkan karena kepala seperti tidak sedang sanggup menerima isi buku itu. Di rak buku, ada bacaan yang dibeli dengan penuh semangat, lalu dibiarkan berdebu berbulan-bulan.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang akhirnya memilih buku lain yang terasa lebih ringan, lebih mudah diikuti, dan tidak menguras tenaga. Kebiasaan tersebut sering dianggap sepele, padahal sangat umum terjadi sehari-hari. Berikut beberapa hal yang menjelaskan kenapa memilih buku berdasarkan mood bukan keputusan asal-asalan.

1. Mood menentukan apakah buku dibaca sampai tuntas atau berhenti di halaman awal

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Dia Aram)

Banyak orang membeli buku nonfiksi yang tebal karena topiknya menarik atau sedang ramai dibicarakan. Namun, saat dibaca pada sela hari yang melelahkan, buku itu terasa berat, bahkan sejak halaman pertama. Akhirnya, buku ditutup dan disimpan kembali tanpa kepastian kapan akan dilanjutkan. Situasi ini sering disalahartikan sebagai kurangnya minat, padahal masalahnya ada pada waktu membaca.

Buku yang sama bisa terasa jauh lebih menarik ketika dibuka. Isi buku jelas tidak berubah, tetapi mood pembacanya berbeda. Karena itu, berhenti membaca di tengah jalan tidak selalu berarti buku tersebut tidak cocok. Bisa jadi, waktunya saja yang belum tepat.

2. Banyak rekomendasi buku kurang relevan karena tidak mempertimbangkan keadaan pembaca

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Christin Hume)

Rekomendasi buku biasanya dibuat berdasarkan kualitas isi, reputasi penulis, atau popularitas. Sayangnya, rekomendasi jarang mempertimbangkan kapan buku tersebut paling ideal untuk dibaca. Buku esai panjang mungkin menyenangkan saat akhir pekan, tetapi terasa melelahkan ketika dibaca sepulang kerja. Akibatnya, pembaca merasa gagal mengikuti rekomendasi yang sebenarnya tidak bermasalah.

Ketika beralih ke bacaan lain, keputusan ini sering dianggap tidak konsisten. Padahal, memilih buku yang sesuai kondisi justru lebih masuk akal. Rekomendasi buku seharusnya memberi opsi, bukan menambah beban pembacanya. Membaca menjadi lebih jujur ketika pilihan disesuaikan dengan keadaan saat itu alias mood.

3. Buku yang selesai dibaca bukan yang paling “bergengsi”

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Sincerely Media)

Dalam praktiknya, buku yang selesai dibaca sering kali bukan yang paling berat atau paling keren dari tema. Novel tipis, cerita pendek, atau buku dengan gaya bahasa ringan justru lebih sering ditamatkan. Alasannya sederhana, bacaan tersebut tidak menuntut energi besar dari pembaca. Setelah satu buku selesai, rasa ingin membaca biasanya muncul kembali.

Sebaliknya, memaksakan bacaan yang terasa berat sering berujung pada kebiasaan berhenti membaca. Banyak orang akhirnya merasa membaca bukan kegiatan untuk mereka. Padahal, masalahnya bukan pada minat, melainkan pada pilihan buku yang tidak sesuai kondisi. Menyelesaikan bacaan, sekecil apa pun, jauh lebih berdampak daripada memaksakan buku yang tidak pernah tamat.

4. Mood membantu menentukan peran buku dalam keseharian

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Yong)

Tidak semua buku dibaca untuk tujuan yang sama. Ada bacaan yang dicari untuk menemani perjalanan, menunggu antrean, atau sebelum tidur. Ada pula buku yang dibaca saat ingin benar-benar ingin fokus dan menyelami topik tertentu. Ketika tubuh kita lelah, bacaan ringan sering terasa lebih "masuk" dibanding teks panjang nonfiksi atau novel tebal.

Menyadari perbedaan ini membuat pembaca tidak lagi merasa bersalah atas pilihannya karena membaca sesuai mood. Buku tidak selalu harus memberi dampak besar bagi pembaca. Sebab, kadang fungsi buku juga sederhana: menemani hari-hari pembacanya.

5. Fleksibel saat memilih buku membuat kebiasaan membaca lebih bertahan lama

ilustraso membaca buku
ilustraso membaca buku (pexels.com/Yazid N)

Ketika satu buku terasa tidak cocok, pembaca bisa beralih tanpa merasa bersalah. Kebiasaan ini mencegah kejenuhan yang sering muncul akibat tekanan untuk menyelesaikan satu bacaan tertentu. Membaca kembali menjadi aktivitas yang dinikmati, bukan target yang harus dipenuhi.

Banyak orang berhenti membaca bukan karena tidak suka bukunya, tetapi karena merasa tidak pernah membaca dengan “benar”. Padahal, tidak ada cara baku dalam memilih bacaan. Dengan memberi ruang pada mood, membaca tetap menjadi kebiasaan yang bisa bertahan lama.

Memilih buku berdasarkan mood bukan kebiasaan yang perlu disalahkan. Cara ini justru membantu membaca tetap berjalan di tengah kondisi suasana hati yang tidak selalu ideal. Semoga kamu tak lagi merasa bersalah bila tak menyelesaikan buku dalam jangka waktu tertentu, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

Bolehkah Memilih Buku Berdasarkan Mood?

03 Feb 2026, 23:44 WIBLife