ilustrasi motivasi (unsplash.com/the blowup)
Sudah baca puluhan thread soal produktivitas, sudah simpan ratusan quotes, sudah nonton video self-improvement berjam-jam, tapi dua minggu kemudian semuanya terasa basi dan kamu kembali mencari konten baru yang rasanya sama persis. Siklusnya selalu begitu dan kamu tahu itu, tapi tetap saja diulang. Bukan karena kamu malas berubah, tapi karena format konten itu memang tidak dirancang untuk mengubah cara berpikirmu secara mendasar.
Motivasi bekerja di level perasaan, dan perasaan naik turun tergantung suasana hati. Hari ini kamu merasa terinspirasi, besok situasinya berubah dan semua itu menguap begitu saja. Stoicism tidak menawarkan semangat yang meledak-ledak karena memang bukan itu yang kamu butuhkan. Seneca menulis bahwa filosofi bukan soal kata-kata indah, tapi soal bagaimana kamu benar-benar hidup setiap harinya, dan perbedaan itu terasa jelas ketika kamu mulai membaca bukunya dibandingkan dengan scroll konten yang sama berulang-ulang.
Nah, sekarang kamu sudah tahu, kan, mengapa seseorang butuh baca buku stoicism? Stoicism tidak menjanjikan hidup tanpa masalah atau hari-hari yang selalu berjalan mulus. Tapi cara berpikirnya memberi kamu motivasi yang jauh lebih tahan lama daripada semua konten motivasi yang pernah kamu konsumsi. Mulai dari Meditations, Letters from a Stoic, sampai The Obstacle Is the Way karya Ryan Holiday, semuanya bisa jadi titik awal yang jauh lebih solid daripada quotes yang kamu save tapi tidak pernah kamu baca lagi.