5 Cara Ampuh Mengurangi Tumpukan Buku yang Belum Terbaca

- Istilah tsundoku merujuk pada kebiasaan membeli buku baru tanpa membacanya.
- Kurangi tumpukan buku dengan memilah, menjual, atau mendonasikan buku yang tak terbaca.
- Lakukan pembelian buku secara mindful dan pertimbangkan format buku digital sebagai alternatif.
Tsundoku merupakan istilah dalam bahasa Jepang untuk kebiasaan membeli buku baru dan menambah tinggi tumpukan buku dalam daftar baca. Ini penyakit hampir semua pembaca buku di dunia. Kebiasaan ini memang menguntungkan pegiat industri penerbitan yang memanfaatkan momen untuk mengeksploitasi nafsu sesaat konsumen. Gak ada yang salah dengan mendukung penerbit dan penjual buku, tetapi sebagian dari kamu mungkin mulai muak dengan tumpukan buku di rak yang tak terbaca, bahkan masih tersegel.
Untuk membantumu lepas dari masalah ini, coba beberapa tips berikut. Ampuh dan dijamin bakal bikin kamu bisa belanja dengan lebih mindful. Jangan cuma lapar mata.
1. Jual buku-buku yang sekiranya tak bakal kamu baca atau masuk daftar DNF

Cara pertama untuk mengurangi kekacauan di rak bukumu dengan mulai memilah mana yang bisa dipertahankan dan mana yang harus kamu ikhlaskan. Mulai dengan buku-buku yang menurutmu tak bakal kamu baca akibat beli karena lapar mata. Lanjut dengan buku-buku yang masuk daftar did not finish (DNF) alias tak sanggup kamu tamatkan.
Caranya coba tawarkan ke media sosial sebagai pre-loved atau silakan titipkan ke toko-toko khusus buku bekas. Deskripsikan dengan jelas kondisi bukumu lewat kata dan foto agar calon pembeli tahu betul bentuk fisiknya. Ini karena bisa saja buku bekasmu sudah menguning, kotor, bahkan tertekuk. Silakan beri harga yang masuk akal sesuai harga pembelian pertama, tahun pembelian, dan kondisi terakhirnya.
2. Belajar dari kesalahan, pelajari pola buku-buku yang menumpuk dan tak terbaca tadi

Dari pengalamanmu menumpuk begitu banyak buku yang akhirnya tak terbaca, kamu bisa belajar banyak hal. Pertama, kenali jenis-jenis buku yang ternyata tidak terbaca tadi, terutama dari genre dan gaya berceritanya. Bisa saja waktu itu kamu sedang mencoba keluar dari zona nyaman dan ingin mengeksplorasi genre lain. Ternyata genre baru yang sedang kamu coba tadi sama sekali tidak mencerminkan seleramu. Kalau sudah begitu, silakan hindari genre tersebut saat beli buku lagi.
Selain genre, gaya bercerita juga penting. Kamu mungkin tergocek gaya bercerita penulis-penulis tertentu yang ternyata menurutmu kurang menarik dan imersif untuk seleramu. Alasan lain bisa saja sampai ke kualitas translasi bilamana buku yang menumpuk tadi ternyata berformat terjemahan. Singkatnya, pelajari pola buku-buku yang menumpuk tak terbaca tadi: apa genrenya, siapa penulisnya, bagaimana gaya berceritanya, siapa penerjemah, apa penerbitnya, dan lain sebagainya. Pengalaman tsundoku bisa jadi titik balik untuk mengenal diri sendiri.
3. Jangan beli buku karena tergiur diskon

Diskon dan obral sering jadi alasanmu membeli buku sebanyak mungkin. Namun, dari kacamata konsumen, momen seperti itu sebenarnya momen cuci gudang penerbit dan toko buku. Bisa saja buku-buku yang diobral tadi memang sudah lama teronggok di gudang karena kualitasnya yang tak seberapa bagus.
Lain kali, saat beli buku, pastikan kamu benar-benar tertarik pada kontennya, bukan hanya tergoda harga miring. Penyesalan sering datang terlambat, jadi lebih mindful dan hati-hati saja saat belanja. Trik lain untuk menghindari lapar mata karena diskon dan obral ialah menunda pembelian selama beberapa waktu. Saat melihat buku bagus, misalnya, jangan langsung terpikat untuk menggelontorkan dana. Tunggu beberapa hari, bahkan minggu, dan lihat apakah kamu masih ingin beli bukunya? Bisa saja kamu sudah berubah pikiran.
4. Sebagai pembaca buku, tak ada kewajiban untuk punya perpustakaan pribadi di rumah

Seiring dengan meningkatnya pengguna media sosial yang fokus ke konten seputar buku dan hobi membaca, kamu mungkin tergoda juga buat punya perpustakaan di rumah. Tak ada yang salah dengan aspirasi itu, kok. Namun, ingat itu bukan kewajiban atau keharusan.
Kamu bisa saja menjual atau mendonasikan buku-buku yang sudah kamu baca. Sebagai pembaca, kamu juga tidak perlu memaksakan diri untuk beli buku fisik. Membeli buku digital pun bentuk dukungan untuk penerbit dan penulis. Tidak ada yang bisa mencerabut kenikmatan baca buku darimu, terlepas dari format buku yang kamu miliki.
5. Set waktu yang pasti untuk membaca buku

Jika ternyata kamu belum tega melepas tumpukan buku yang belum terbaca tadi, lakukan langkah-langkah tertentu untuk memperbaiki kecepatan bacamu. Kamu bisa mengalokasikan waktu rutin untuk membaca tiap harinya. Satu jam, misalnya, sebelum tidur atau setelah bangun pagi.
Kamu juga bisa bawa buku ke mana-mana selayaknya kamu membawa gawai. Saat ada waktu luang, keluarkan buku dari slot di tasmu dan langsung baca. Dengan begitu, dijamin kamu bakal segera melahap buku demi buku yang ada dalam daftar to be read (TBR).
Membaca memang hobi yang butuh investasi waktu dan dana. Tentunya, kamu tak mau salah investasi dengan terus menumpuk TBR tanpa tahu akan ke mana akhirnya, kan? Coba kurangi kebiasaan lapar mata dan lebih sadar diri saat belanja buku.