5 Cara Berhenti Boros Tanpa Menyiksa Diri di 2026, Bisa Nabung!

- Kenali pola borosmu sendiri, fokus pada pengeluaran yang paling sering bikin dompet menipis.
- Ubah resolusi besar jadi target kecil dan terukur, seperti batasan belanja online per bulan atau menabung harian.
- Tetap sisakan uang untuk bersenang-senang, sediakan pos khusus untuk self-reward agar tidak merasa hidup serba dilarang.
Setiap awal tahun, resolusi soal keuangan hampir selalu ada dalam daftar teratas, mulai dari “tahun ini harus lebih hemat” sampai “gak mau impulsif.” Masalahnya, resolusi berhenti boros kerap terasa seperti hukuman. Tiba-tiba jajan dikurangi drastis, nongkrong dilarang, dan setiap beli kopi kekinian langsung muncul rasa bersalah. Ujung-ujungnya, baru bertahan beberapa minggu sudah menyerah dan berhenti di tengah jalan.
Padahal, berhenti boros itu bukan berarti harus menyiksa diri. Kuncinya bukan pada seberapa keras kamu menahan diri, tapi seberapa realistis kamu mengatur kebiasaan. Kalau caranya masuk akal, justru lebih mudah dijalani dalam jangka panjang. Ini beberapa cara berhenti boros tanpa menyiksa diri di 2026 yang bisa kamu praktikkan.
1. Kenali pola borosmu sendiri

Sebelum menyusun resolusi, coba jujur ke diri sendiri. Kamu paling sering boros di bagian mana? Apakah jajan kopi kekinian, belanja online tengah malam, atau tergoda promo paylater? Setiap orang punya titik lemah yang beda-beda.
Dengan tahu di bagian mana uangmu sering bocor, kamu tidak perlu memangkas semua pengeluaran. Fokus saja ke yang paling sering bikin dompet menipis. Misalnya, kalau belanja online yang paling bikin kalap, mulai dengan aturan sederhana, yakni tunggu 24 jam sebelum checkout. Sering kali, keinginan itu hilang sendiri.
2. Ubah resolusi besar jadi target kecil

Resolusi seperti “tahun ini harus hemat” sebenarnya terlalu abstrak. Kurang jelas hematnya seperti apa dan sampai sejauh mana. Akhirnya, kamu sendiri bingung menilai apakah dirimu sudah berhasil atau belum.
Coba pecah jadi target kecil dan terukur. Contohnya, boleh belanja online maksimal Rp300 ribu per bulan, menabung Rp20 ribu setiap hari, bujet nongkrong maksimal Rp400 ribu sebulan. Boleh mulai dari angka yang kecil, yang penting konsisten. Dari target kecil inilah kebiasaan baru terbentuk.
3. Tetap sisakan uang untuk bersenang-senang

Ini bagian yang sering dilupakan. Banyak orang mengira hemat itu artinya meninggalkan kesenangan. Kalau semua uang dialokasikan ke kebutuhan dan tabungan, tanpa sisa untuk bersenang-senang, rasa jenuh cepat datang. Saat jenuh, godaan untuk “balas dendam” belanja jadi makin besar.
Sediakan pos khusus untuk self-reward. Jangan terlalu besar, yang penting cukup untuk beli kopi, nonton, atau makan enak sesekali. Dengan begitu, kamu tidak akan merasa sedang menjalani hidup yang serba dilarang.
4. Jangan terlalu keras saat gagal, yang penting segera kembali ke jalur yang benar

Namanya juga proses, pasti ada saja momen kelepasan. Mungkin suatu hari temanmu datang ke rumah dan mengajak nongkrong di kafe, atau khilaf beli barang yang tidak direncanakan saat sedang jalan-jalan di mall. Tidak apa-apa. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri.
Yang membuat resolusi gagal total justru rasa bersalah berlebihan, lalu berpikir “sekalian aja boros" karena sudah terlanjur gagal. Lebih baik evaluasi pelan-pelan. Kenapa bisa kelepasan? Apakah karena capek, stres, atau tergoda promo? Dari situ, kamu bisa belajar dan menyesuaikan strategi ke depannya. Kemudian, saat sadar kamu sudah khilaf, segeralah kembali ke jalur yang benar.
5. Fokus ke tujuan, bukan sekadar menahan diri

Berhenti boros akan terasa lebih ringan jika kamu memiliki tujuan yang jelas. Entah itu target liburan, beli kendaraan, punya investasi, atau rencana besar lainnya. Setiap kali godaan untuk belanja itu muncul, ingat kembali alasan kenapa kamu ingin lebih hemat.
Pada akhirnya, resolusi berhenti boros bukan soal menjadi sempurna, tapi soal menjadi lebih sadar. Kebiasaan kecil yang konsisten justru lebih kuat daripada perubahan ekstrem yang hanya bertahan sebentar. Asalkan dijalani dengan cara yang manusiawi, hemat bukan lagi beban, melainkan bagian dari hidup yang lebih tenang dan terkontrol.


















