Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sendirian saat Liburan? Ini Cara biar Tetap Happy Tanpa Ada Pasangan

ilustrasi perempuan berpose di alam (unsplash.com/paulweaver)
ilustrasi perempuan berpose di alam (unsplash.com/paulweaver)

Musim liburan sering dikaitkan dengan kebersamaan, pasangan, dan momen romantis yang muncul di mana-mana. Tak heran jika banyak orang yang sedang single justru merasa kesepian atau tertekan di tengah suasana yang seharusnya menyenangkan. Padahal, liburan tetap bisa dinikmati tanpa harus punya pasangan.

Menjadi sendirian bukan berarti hidupmu kurang atau tidak lengkap. Dengan cara pandang yang tepat, liburan justru bisa menjadi momen terbaik untuk lebih mengenal diri sendiri dan membangun kebahagiaan versi pribadi. Yuk, ketahui cara biar tetap happy saat liburan tanpa harus punya pasangan!

1. Akui keinginan punya pasangan tanpa merendahkan diri sendiri

ilustrasi perempuan Jepang (pexels.com/vgenytchebotarev)
ilustrasi perempuan Jepang (pexels.com/vgenytchebotarev)

Keinginan untuk memiliki pasangan saat liburan adalah hal yang wajar dan manusiawi. Perasaan tersebut tidak otomatis berarti kamu tidak bersyukur atau tidak bisa bahagia sendiri. Yang perlu dihindari adalah menjadikan status hubungan sebagai penentu nilai diri.

 “Tidak ada yang salah dengan menginginkan hubungan romantis, sama seperti tidak ada yang salah jika tidak menginginkannya,” Jennifer Creson, LMHC, konselor kesehatan mental asal Seattle, dikutip dari SELF.

Jennifer Creson juga menegaskan bahwa menghakimi diri sendiri atas kebutuhan emosional justru dapat melukai kesehatan mental. Lebih sehat jika kamu memahami perasaanmu tanpa menyalahkan diri sendiri.

2. Sadari bahwa tekanan keluarga bukan cerminan nilai dirimu

ilustrasi perempuan menghirup udara segar (pexels.com/freestockpro)
ilustrasi perempuan menghirup udara segar (pexels.com/freestockpro)

Pertanyaan tentang status hubungan sering kali muncul saat berkumpul bersama keluarga. Meski niatnya tidak selalu buruk, pertanyaan berulang dapat menimbulkan rasa tertekan dan tidak nyaman. Penting untuk memisahkan ekspektasi keluarga dari nilai hidup yang kamu yakini.

Jennifer Creson menjelaskan bahwa tekanan keluarga sering kali berangkat dari rasa takut. Keluarga memberi tekanan karena banyak alasan, tetapi sebagian besar berakar pada rasa takut, yaitu takut untuk kita atau takut untuk diri mereka sendiri. Kamu tidak wajib memikul ketakutan tersebut dan menjadikannya beban pribadi.

3. Jangan remehkan peran pertemanan saat merasa kesepian

ilustrasi dua perempuan memotret makanan (pexels.com/marcusaurelius)
ilustrasi dua perempuan memotret makanan (pexels.com/marcusaurelius)

Rasa sepi saat liburan tidak selalu harus diobati dengan hubungan romantis. Pertemanan yang sehat juga mampu memberi rasa hangat, dukungan emosional, dan perasaan diterima. Terkadang, satu obrolan jujur dengan teman bisa terasa jauh lebih menenangkan.

“Gunakan waktu untuk bertemu dan beraktivitas bersama teman atau ikut kegiatan di lingkungan sekitar, karena banyak orang yang sudah berpasangan justru jarang menjaga hubungan sosial seperti ini,” kata Amie Leadingham, seorang pelatih kencan, dikutip dari Bustle.

Sayangnya, banyak orang justru memilih mengisolasi diri karena takut merepotkan orang lain. Padahal, meminta dukungan bukan tanda kelemahan. Menjalin koneksi dengan teman adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

4. Hindari pelarian sesaat yang justru bikin makin kosong

ilustrasi perempuan sedang berjemur (pexels.com/arminrimoldi)
ilustrasi perempuan sedang berjemur (pexels.com/arminrimoldi)

Sebagian orang mencoba mengusir rasa sepi dengan pesta berlebihan, hubungan singkat, atau maraton tontonan sedih. Meski terasa menghibur di awal, aktivitas seperti ini sering kali hanya memberi kenyamanan sementara. Setelahnya, rasa hampa justru bisa semakin dalam.

“Meski cara-cara ini mungkin terasa menenangkan untuk sesaat, aktivitas yang membuat seseorang menarik diri justru bisa berdampak sebaliknya dan memperparah perasaan tidak nyaman,” kata Jennifer Creson.

Jennifer Creson menyebut kebiasaan tersebut sebagai aktivitas yang bersifat mengisolasi. Ia menyarankan untuk memilih kegiatan yang “pro-hubungan”, yakni aktivitas yang memberi rasa terhubung, baik dengan orang lain maupun diri sendiri. Contohnya seperti berolahraga, memasak, atau melakukan hobi yang membuatmu merasa utuh.

5. Ciptakan tradisi liburan versi dirimu sendiri

ilustrasi perempuan berpose di taman bunga (pexels.com/leahkelley50725)
ilustrasi perempuan berpose di taman bunga (pexels.com/leahkelley50725)

Tidak semua tradisi liburan harus mengikuti standar yang berpusat pada pasangan dan romantisme. Kamu berhak menciptakan tradisi baru yang membuatmu merasa nyaman dan dihargai. Liburan seharusnya menjadi momen untuk merayakan hidup, bukan menekan diri sendiri.

Mulai dari merawat diri, quality time dengan sahabat, hingga menikmati waktu sendirian tanpa rasa bersalah. Saat kamu menentukan sendiri cara merayakan liburan, kebahagiaan terasa lebih jujur dan bermakna. Sendirian bukan berarti kesepian, jika kamu tahu cara menikmatinya.

Menjalani liburan tanpa pasangan bukanlah tanda kegagalan, melainkan kesempatan untuk mengenal dan merawat diri sendiri dengan lebih jujur. Saat kamu berhenti membandingkan hidupmu dengan standar orang lain, kebahagiaan pun bisa datang dari hal-hal sederhana yang kamu pilih sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

Ramalan Shio 20 Januari 2026, Ketenangan Shio Naga Bawa Kemujuran

19 Jan 2026, 22:00 WIBLife