Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Cara Melawan 'Low Battery Syndrome' Saat Puasa, Praktikkan!
illustrasi tubuh lemas (pexels.com/Polina Tankilevitch)
  • Artikel membahas fenomena “low battery syndrome” saat puasa, kondisi ketika energi cepat habis akibat perubahan ritme makan, tidur, dan aktivitas selama Ramadan.
  • Dijelaskan enam cara praktis menjaga stamina, mulai dari sahur bergizi, manajemen waktu kerja, power nap singkat, hingga detoks digital dan gerak ringan.
  • Pesan utamanya menekankan pentingnya berdamai dengan batas diri serta memahami kebutuhan tubuh agar tetap produktif dan tenang selama berpuasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa sering bikin tubuh kamu terasa seperti ponsel dengan baterai tinggal sepuluh persen. Baru siang sedikit, energi sudah kedip-kedip minta dihemat. Kepala berat, fokus kabur, dan mood ikut turun tanpa aba-aba. Banyak anak muda menyebut kondisi ini sebagai low battery syndrome, fase ketika semangat lebih cepat habis dibanding hari biasa. Padahal aktivitas tetap menunggu untuk diselesaikan.

Kondisi ini sebenarnya wajar karena ritme tubuh berubah total selama Ramadan. Jam makan bergeser, waktu tidur terpotong, dan kebiasaan harian ikut menyesuaikan. Masalahnya, kamu tetap dituntut produktif seolah gak ada yang berbeda. Kalau gak punya strategi, hari-hari puasa bisa terasa seperti maraton tanpa garis finish. Untungnya, ada beberapa cara sederhana untuk mengakali energi yang menipis.

1. Sahur dengan pola 'isi bensin', bukan sekadar kenyang

ilustrasi sahur (freepik.com/odua)

Banyak orang sahur asal penuh tanpa memikirkan kualitas asupan. Kamu mungkin tergoda makan mie instan atau gorengan karena praktis. Padahal tubuh butuh bahan bakar yang tahan lama seperti karbo kompleks dan protein. Sahur ideal itu seperti mengisi bensin, bukan sekadar menambal lapar. Pilihan menu sangat menentukan level energi seharian.

Coba biasakan ada sumber serat dan air yang cukup di meja sahur kamu. Nasi merah, telur, atau sayur sederhana jauh lebih ramah untuk stamina. Minum manis boleh, tapi jangan jadi pemeran utama. Kebiasaan kecil ini membantu baterai kamu bertahan lebih lama. Pagi terasa lebih ringan tanpa drama lemas berlebihan.

2. Atur ritme kerja ala mode hemat daya

ilustrasi puasa tetep bekerja (pexels.com/Anna Shvets)

Saat puasa, memaksa diri bekerja dengan tempo biasa sering berujung kelelahan dini. Kamu bisa meniru cara ponsel masuk mode hemat daya. Kerjakan tugas berat di jam ketika energi masih relatif penuh, biasanya pagi. Sisakan pekerjaan ringan untuk siang menjelang sore. Strategi ini membuat tenaga terpakai lebih bijak.

Jangan merasa bersalah kalau ritme kamu melambat sedikit. Ramadan memang mengajarkan menurunkan kecepatan, bukan menjadi mesin tanpa jeda. Membagi prioritas membantu pikiran tetap jernih. Low battery syndrome bisa dilawan dengan manajemen waktu yang lebih ramah tubuh. Produktif bukan berarti harus ngebut sepanjang hari.

3. Power nap singkat sebagai charger darurat

ilustrasi istirahat (pexels.com/Vlada Karpovich)

Tidur sebentar 15 sampai 20 menit bisa jadi penyelamat ajaib. Kamu gak perlu rebahan lama, cukup memejamkan mata dan membiarkan tubuh restart. Banyak Gen Z meremehkan power nap padahal efeknya besar. Setelah bangun, kepala terasa lebih segar seperti habis di-charge cepat. Cara ini jauh lebih aman daripada memaksakan diri dengan kopi berlebihan.

Pilih waktu yang tepat, misalnya setelah zuhur atau menjelang asar. Hindari tidur terlalu lama karena justru bikin pusing. Power nap adalah trik sederhana melawan energi drop tanpa drama. Tubuh kamu butuh jeda kecil untuk melanjutkan perjalanan sampai magrib. Jangan ragu memberi hadiah istirahat singkat.

4. Kurangi scrolling yang diam-diam menguras tenaga

ilustrasi gadget (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Banyak orang gak sadar bahwa menatap layar berjam-jam sama melelahkannya dengan aktivitas fisik. Kamu mungkin merasa hanya rebahan sambil scrolling, tapi otak bekerja keras memproses informasi. Akibatnya baterai mental cepat habis sebelum waktu berbuka. Low battery syndrome makin parah karena distraksi digital. Padahal niat awal cuma mencari hiburan ringan.

Coba buat batas sederhana untuk penggunaan ponsel saat siang. Ganti kebiasaan scrolling dengan kegiatan yang lebih menenangkan. Membaca buku tipis atau sekadar duduk tanpa layar bisa menghemat energi. Kamu akan kaget melihat seberapa besar pengaruh detoks digital pada stamina. Kadang musuh terbesar bukan lapar, tapi notifikasi.

5. Gerak ringan biar energi gak parkir

ilustrasi olahraga (freepik.com/odua)

Lemas sering membuat kamu ingin rebahan sepanjang hari. Padahal tubuh yang terlalu diam justru bikin energi makin drop. Jalan santai lima menit atau peregangan ringan bisa mengaktifkan kembali sirkulasi. Gak perlu olahraga berat, cukup gerakan kecil yang konsisten. Cara ini membantu melawan rasa kantuk berlebihan.

Banyak Gen Z mengira puasa adalah alasan berhenti bergerak. Kenyataannya, aktivitas ringan justru membuat kamu lebih segar. Cobalah berdiri sesekali, merapikan meja, atau menyiram tanaman. Energi yang tadinya parkir akan pelan-pelan hidup lagi. Low battery syndrome bisa dikurangi dengan tubuh yang tetap bergerak.

6. Berdamai dengan batas diri

ilustrasi merasa burnout (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kadang cara paling ampuh adalah menerima bahwa kamu memang gak sekuat hari biasa. Gak semua target harus selesai hari ini juga. Memberi ruang toleransi pada diri sendiri bukan tanda malas. Justru di sinilah makna puasa sebagai latihan kesadaran. Kamu belajar mengenali sinyal tubuh tanpa merasa bersalah.

Berdamai dengan batas membuat pikiran lebih tenang. Energi mental yang tadinya habis untuk mengeluh bisa dipakai untuk hal lebih penting. Ramadan bukan lomba menjadi superhero. Kamu manusia yang sedang berproses, dan itu sudah cukup. Sikap ini pelan-pelan mengusir low battery syndrome dari akarnya.

Melawan low battery syndrome saat puasa bukan soal mencari trik ajaib, melainkan memahami kebutuhan tubuh. Energi memang menurun, tapi bukan berarti kamu harus menyerah pada rasa lemas. Dengan langkah kecil dan konsisten, hari-hari Ramadan tetap bisa produktif dan bermakna. Kamu hanya perlu strategi yang lebih lembut dari biasanya.

Semoga puasa kali ini kamu gak lagi merasa seperti ponsel sekarat menjelang magrib. Jadikan setiap hari sebagai latihan mengelola tenaga dengan bijak. Kalau pun ada momen drop, ingat bahwa itu bagian dari proses. Pelan-pelan kamu akan menemukan ritme paling nyaman untuk diri sendiri dan disitulah kekuatan sebenarnya tumbuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team