Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Memutus Rantai Trauma agar Tak Jadi Pelaku Kekerasan
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Arto Suraj)
  • Artikel menyoroti bagaimana pengalaman kekerasan masa kecil dapat memicu seseorang mengulang pola serupa saat dewasa jika trauma tidak disadari dan diatasi dengan benar.
  • Ditekankan pentingnya mengenali trauma, mencari bantuan profesional seperti psikolog, serta membangun empati agar tidak menyalurkan luka batin menjadi perilaku agresif.
  • Pembaca diajak mengubah keyakinan negatif tentang diri, menjauhi lingkungan kerja yang berpotensi kekerasan, dan memilih jalan hidup yang lebih damai serta penuh kasih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak semua pelaku kekerasan punya latar belakang trauma yang kuat sebagai korban kekerasan di masa lalu. Akan tetapi, apabila dirimu memiliki trauma karena pernah diperlakukan dengan sangat buruk oleh seseorang, apalagi keluarga, potensi itu membesar. Dirimu punya faktor pendorong untuk melakukan hal yang sama dengan pengalamanmu dulu.

Misalnya, ketika kamu kecil melakukan kesalahan sedikit saja dihajar oleh orangtua. Bahkan dirimu, gak salah pun, selalu menjadi pelampiasan amarah mereka. Pasti dalam hati rasanya sangat sakit. Kamu juga merasakan kecewa serta marah.

Namun, dirimu tidak punya keberanian serta kemampuan untuk melawan orangtua. Hidupmu masih bergantung pada mereka. Ketika kamu dewasa dan bertemu orang lain yang tak memiliki kuasa besar atas hidupmu, dirimu lantas berusaha menguasainya dengan perlakuan semena-mena. Ada cara memutus rantai trauma agar tak jadi pelaku kekerasan di kemudian hari.

1. Mengakui rasa traumamu dan penyebabnya

ilustrasi korban kekerasan (pexels.com/RDNE Stock project)

Langkah pertama untuk memutus rantai trauma ialah menyadari bahwa dirimu masih di bawah bayang-bayangnya. Ingatan memang tidak bisa hilang begitu saja. Terlebih terkait peristiwa buruk.

Namun, kalau setiap kamu mengingatnya masih merasakan emosi negatif yang kuat, itulah trauma. Seperti rasa takut, sedih, bahkan dirimu seolah-olah masih dapat merasakan setiap rasa sakit akibat dipukuli orangtua misalnya. Runtuhkan dinding pertahanan yang membuatmu seakan-akan tidak takut pada apa pun.

Jika kamu selalu berpura-pura tak trauma atau takut pada apa pun, cara menunjukkan keberanian bakal salah. Dirimu berusaha mendominasi hingga tega melakukan kekerasan pada orang lain. Tindakanmu seperti topeng yang menyembunyikan kecemasan-kecemasan masa kecilmu.

2. Jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog

ilustrasi konsultasi psikologi (pexels.com/SHVETS production)

Datang ke rumah sakit, klinik, atau menggunakan layanan konsultasi online dengan psikolog bukanlah aib. Jangan malu. Kamu harus menyelamatkan diri dari belenggu trauma. Mengakui rasa trauma dan menyadari penyebabnya seperti dalam poin pertama memang sudah satu langkah maju.

Akan tetapi, makin dalam rasa traumamu, makin tidak mudah memulihkannya seorang diri. Ahli kejiwaan harus dilibatkan. Agar seumpama traumamu seperti lapisan pada bawang merah dapat dilepaskan satu per satu sampai tuntas.

3. Tidak berpikir orang lain harus mengalami hal yang sama denganmu

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Aris Munandar)

Kami memahami bahwa kamu telah mengalami ketidakadilan dalam hidup. Saat dirimu kecil dan teman sebaya hanya merasakan kebahagiaan, kamu malah senantiasa menderita. Dirimu menjadi sasaran tindak kekerasan oleh orangtua.

Akan tetapi, salah besar apabila kamu lantas berpikir orang lain seharusnya mengalami hal yang sama denganmu. Mereka bahkan tidak punya salah apa pun padamu. Balas dendam ke orang yang pernah bersalah padamu saja gak baik. Apalagi mengarahkan perilaku agresif akibat trauma yang dialami ke sembarang orang.

4. Yakini bahwa kamu pantas dicintai dan bisa mencintai

ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Jika kamu pernah menjadi korban kekerasan oleh siapa pun, pasti ada rasa bahwa dirimu tidak pantas dicintai. Terlebih ketika pelakunya orangtua yang seharusnya mencintai anaknya apa pun yang terjadi. Kamu lantas merasa buruk sekali serta gak diinginkan oleh siapa pun.

Keyakinan yang menyesatkan ini harus dibalikkan secara total. Orangtuamu hanyalah 1 atau 2 orang di antara begitu banyak manusia di dunia ini. Mustahil semua orang membencimu seperti mereka. Sama seperti orang-orang, dirimu layak dikasihi. Kamu pun punya hati buat mengasihi orang lain dengan tulus dan lembut.

5. Terus mengasah empati

ilustrasi relawan banjir (pexels.com/Juan Moccagatta)

Orang yang menganiaya kamu pasti tidak mampu berempati padamu. Sehingga dia gak bisa membayangkan rasanya menjadi dirimu yang terluka baik secara fisik maupun psikis. Ditambah dengan segala derita yang ditanggung olehmu, empatimu kepada orang lain pun dapat mati.

Hatimu terasa dingin. Sikapmu terhadap orang-orang kaku. Jangan biarkan ini terus berlanjut. Asah empatimu dengan beragam cara. Seperti menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan, berdoa supaya hatimu dilembutkan, hingga membaca karya sastra untuk mempertajam rasa.

6. Berpikir lebih panjang mengenai risiko berbuat jahat pada siapa pun

ilustrasi pelaku kekerasan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Saat rasa trauma berkuasa, pikiran memang seperti tertutup oleh emosi yang campur aduk. Kamu mungkin hanya merasakan kemarahan yang kuat. Juga dorongan untuk terlebih dahulu menyakiti orang lain sebelum dirimu disakiti.

Kamu hanya tidak mau kembali menjadi korban agresivitas orang lain, tapi malah bisa berubah jadi pelaku. Tenangkan dirimu lalu mulailah berpikir dengan kepala dingin. Setiap tindakan melawan hukum bakal berbuntut panjang. Tentu kamu gak mau bertahun-tahun dikurung dalam penjara dan kehilangan kebebasan.

7. Jauhi pekerjaan yang dekat dengan kekerasan

ilustrasi pria bekerja (pexels.com/Istiak Remon)

Terakhir, cara memutus rantai trauma agar tak jadi pelaku kekerasan adalah menghindari pekerjaan yang dekat dengan hal tersebut. Pekerjaan yang bernuansa kekerasan hanya akan membangkitkan trauma itu. Contohnya, pekerjaan menagih utang yang menghalalkan segala cara untuk menekan orang. Juga pengawal sekaligus tukang pukul.

Berada di lingkungan pekerjaan seperti di atas sebenarnya gak nyaman untuk mentalmu. Akan tetapi, bukannya dirimu menjauh, malah tetap menjalaninya. Akibatnya, trauma yang belum sembuh seperti diluapkan melalui pekerjaan tersebut.

Awalnya, dirimu hanya bersikap kasar pada orang yang nunggak bayar utang atau membahayakan bos yang dikawal. Lama-lama siapa saja dapat menjadi sasaran perilaku menyimpangmu. Carilah pekerjaan yang lebih menenangkan psikismu dan berkebalikan dengan rasa traumamu akan kekerasan. Seperti perawat, konselor, motivator, atau pekerjaan administrasi.

Kamu sudah dewasa sekarang. Tidak tepat apabila dirimu selalu menyerah pada rasa trauma. Kamu tetap harus mengembangkan kontrol diri yang baik dan berusaha memulihkan diri. Pengalaman buruk itu cukup berhenti pada kamu dan jangan menjadi penyebab trauma orang lain. Apalagi orang yang konon disayangi olehmu, seperti pasangan serta anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article