Pola Pikir Keliru yang Bikin Orang jadi People Pleaser, Capek Sendiri!

- Istilah people pleaser menggambarkan orang yang berusaha menyenangkan semua pihak hingga mengabaikan kebutuhan dan batasan diri, menyebabkan kelelahan emosional serta hubungan yang tidak seimbang.
- Pola pikir keliru seperti keyakinan bahwa penerimaan hanya datang dari kesempurnaan dan penilaian orang lain menjadi tolok ukur diri membuat seseorang sulit menolak permintaan orang lain.
- People pleaser sering menilai nilai dirinya berdasarkan validasi eksternal, padahal harga diri seharusnya tumbuh dari penerimaan diri tanpa bergantung pada persetujuan atau penolakan orang lain.
Istilah people pleaser muncul untuk menggambarkan orang dengan dorongan untuk menyenangkan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan, perasaan, bahkan batasan dirinya. Kebiasaan ini bisa berdampak pada kelelahan secara emosional, bahkan mengganggu kualitas hubungan dengan orang lain.
Tanpa disadari, perilaku people pleaser atau gak enakan bisa didorong dari pola pikir yang keliru. Keyakinan bahwa harus selalu disukai oleh orang lain, tidak boleh mengecewakan orang lain, maupun nilai diri yang bergantung pada persepsi orang lain inilah yang kerap menimbulkan sikap gak enakan. Simak pola pikir keliru yang membuat orang jadi people pleaser.
1. Pujian orang lain didapatkan melalui kesempurnaan

Mengutip Psychology Today, kesalahan pola pikir yang membuat orang menjadi people pleaser adalah keyakinan bahwa penerimaan atau apresiasi dari orang lain, hanya bisa didapatkan melalui kesempurnaan. Begitu pula dengan kasih sayang, muncul anggapan dari orang people pleaser, bahwa rasa kasih dari orang lain hanya akan muncul bila memenuhi harapan orang tersebut.
Akibatnya, seseorang cenderung mengukur nilai dirinya dari penilaian orang lain, bukan dari usaha atau kualitas yang sebenarnya telah dimiliki. Orang seperti ini berupaya keras untuk menciptakan sesuatu dengan sempurna agar dapat diterima oleh orang lain. Pandangan inilah yang membuat mereka sulit menolak orang lain.
2. Penilaian orang lain adalah tolak ukur dirinya

Orang yang memiliki sikap people pleaser juga menganggap penerimaan dan penilaian orang lain sebagai tolok ukur nilai diri. Muncul kecenderungan bahwa mereka harus selalu membantu dan memenuhi harapan orang lain agar dianggap baik. Hal ini dijelaskan oleh Leon Garber, Mental Health Counselor dalam Psychology Today.
Pandangan ini mendorong individu dengan sikap 'gak enakan' fokus pada bagaimana orang lain memandang diri mereka daripada memahami kebutuhan, batasan, dan perasaan pribadi. Ketakutan untuk berkata tidak atau menolak orang lain karena ada perasaan bersalah jika tidak memenuhi ekspektasi. Padahal, harga diri yang sehat seharusnya tidak bergantung pada validasi dari orang lain, melainkan pada kemampuan menerima diri sendiri apa adanya.
3. Nilai diri tergantung pada validasi orang lain

Kesalahan umum yang diyakini oleh orang people pleaser adalah anggapan bahwa value diri, rasa aman, dan kebahagiaan bergantung pada persetujuan orang lain. Apabila orang lain memberi pengakuan, maka dirinya merasa berharga. Sebaliknya, jika seorang people pleaser mendapat penolakan, muncul anggapan bahwa nilai dirinya tak berharga.
Pandangan ini menentukan harga dirinya. Pola pikir semacam itu mendorong kebiasaan pada mereka yang punya kecenderungan people pleaser untuk memuaskan harapan orang lain agar tidak tersakiti atau ditolak. Pengorbanan inilah yang selalu membuat seorang people pleaser takut jika dirinya tak disukai oleh orang lain, menurut Leon.
Orang dengan people pleaser dapat mengubah pandangan mereka dengan melepaskan keyakinan bahwa dirinya harus selalu disukai oleh setiap individu. Sebab, diterima oleh semua orang sangat mustahil, akan selalu ada penolakan. Namun, tanamkan pemahaman bahwa tak semua orang harus menyukainya, jadi tak masalah jika beberapa orang menolaknya.


















