Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi membayar utang
ilustrasi membayar utang (freepik.com/rawpixel.com)

Intinya sih...

  • Pahami kondisi utang secara menyeluruh

  • Bedakan utang produktif dan konsumtif

  • Sesuaikan cicilan dengan kemampuan finansial

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Terkadang, utang menjadi bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan rumah tangga, entah untuk membeli rumah, kendaraan, atau memenuhi kebutuhan mendesak. Masalahnya, utang yang awalnya terasa membantu bisa berubah jadi sumber stres jika tidak dikelola dengan baik. Tagihan datang setiap bulan, gaji terasa cepat habis, dan obrolan soal keuangan pun jadi sensitif di rumah.

Padahal, utang tidak selalu identik dengan masalah. Yang membuatnya terasa menjadi beban adalah cara mengelolanya. Dengan strategi yang tepat, utang justru bisa tetap terkendali tanpa mengganggu kestabilan keuangan maupun keharmonisan rumah tangga. Yuk, kita bahas cara mengelola utang agar tidak membebani rumah tangga!

1. Pahami kondisi utang secara menyeluruh

ilustrasi mencatat utang (freepik.com/rawpixel.com)

Langkah awal yang sering terlewat adalah benar-benar memahami berapa total utang yang dimiliki. Banyak keluarga hanya fokus pada cicilan bulanan tanpa menghitung keseluruhannya, termasuk bunga dan tenor. Padahal, memahami gambaran utang secara utuh membantu kamu melihat apakah kondisi keuangan masih aman atau sudah mulai berat.

Coba catat semua utang yang ada. Mulai dari jumlah pokok, bunga, cicilan per bulan, hingga sisa tenor. Dari sini, kamu bisa menilai prioritas mana yang harus diselesaikan lebih dulu dan mana yang masih bisa ditoleransi.

2. Bedakan utang produktif dan konsumtif

ilustrasi menghitung tagihan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Tidak semua utang memiliki dampak yang sama. Utang produktif, seperti KPR atau modal usaha, berpotensi memberikan manfaat jangka panjang. Sementara itu, utang konsumtif biasanya hanya memenuhi keinginan sesaat dan tidak menambah nilai di kemudian hari. Dengan membedakan jenis utang, kamu bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan. Jika sudah memiliki cukup banyak utang konsumtif, hindari menambah utang baru sebelum yang lama berkurang.

3. Sesuaikan cicilan dengan kemampuan finansial

ilustrasi membayar utang (freepik.com/rawpixel.com)

Idealnya, total cicilan utang tidak lebih dari 30 persen penghasilan bulanan rumah tangga. Jika cicilan sudah melewati batas ini, wajar kalau keuangan terasa sesak. Dalam kondisi seperti ini, kamu perlu mengevaluasi kembali gaya hidup dan pengeluaran lain. Bila memungkinkan, pertimbangkan restrukturisasi utang, memperpanjang tenor, atau mencari cicilan dengan bunga lebih ringan. Tujuannya bukan untuk menghindar dari tanggung jawab, melainkan menjaga arus kas tetap sehat.

4. Komunikasi terbuka dengan pasangan

ilustrasi suami istri berbagi pengeluaran (pexels.com/Karolina Grabowska)

Utang sering jadi pemicu konflik karena kurangnya komunikasi. Diam-diam mengambil cicilan atau keputusan finansial sepihak bisa memperbesar masalah. Sebaliknya, keterbukaan membantu pasangan saling memahami kondisi dan mencari solusi bersama. Diskusikan rencana pembayaran, prioritas pengeluaran, dan target keuangan secara rutin. Dengan begitu, beban utang terasa lebih ringan karena ditanggung bersama, bukan dipendam sendiri.

5. Hindari menutup utang lama dengan utang baru

ilustrasi negosiasi dengan pemberi utang (freepik.com/Drazen Zigic)

Menutup satu utang dengan utang lain memang terlihat seperti solusi cepat, tapi sebenarnya ini hanya memindahkan masalah. Apalagi jika bunga utang baru lebih tinggi, maka kondisi keuangan bisa makin tertekan. Kalau keuangan sedang sulit, lebih baik fokus menekan pengeluaran, mencari tambahan penghasilan, atau bernegosiasi dengan pihak pemberi utang alih-alih menambah utang baru.

6. Sisihkan dana darurat agar tidak bergantung pada utang

ilustrasi dana darurat (freepik.com/user6702303)

Banyak utang muncul karena kondisi darurat yang tidak terduga. Dengan memiliki dana darurat, kamu tidak harus langsung berutang saat menghadapi situasi mendesak. Meski jumlahnya kecil, dana ini sangat membantu menjaga stabilitas keuangan.

Cara mengelola utang agar tidak membebani rumah tangga memang membutuhkan kedisiplinan dan kesadaran bersama. Meski begitu, perencanaan yang realistis, komunikasi yang terbuka, dan kebiasaan finansial yang sehat, utang bisa tetap terkendali tanpa mengorbankan ketenangan di rumah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team