Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)
ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

Penolakan sering kali terasa menyakitkan karena langsung menyentuh harga diri. Entah ditolak dalam hubungan, pekerjaan, atau kesempatan lain, rasanya mudah sekali menyimpulkan bahwa diri sendirilah masalahnya. Padahal, penolakan tidak selalu berkaitan dengan nilai atau kemampuan pribadi.

Agar tidak terjebak dalam spiral overthinking dan menyalahkan diri sendiri, ada beberapa cara sehat untuk menghadapi penolakan. Dengan sudut pandang yang tepat, penolakan justru bisa menjadi momen refleksi dan pertumbuhan diri. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu coba.

1. Sadari bahwa penolakan adalah hal yang manusiawi

ilustrasi perempuan berpegangan tangan(pexels.com/shvetsproduction)

Penolakan adalah pengalaman yang hampir semua orang alami, termasuk mereka yang terlihat sukses dan percaya diri. Mengalami penolakan tidak otomatis berarti kamu gagal atau tidak cukup baik. Ini hanyalah bagian dari proses hidup dan berkembang.

Menurut Molly Burrets, PhD, seorang psikolog, dikutip dari SELF, penolakan sering kali terasa personal karena berkaitan dengan harapan dan impian yang sudah kita bangun, bukan karena nilai diri kita benar-benar berkurang. Dengan memahami hal ini, kamu bisa lebih berlapang dada dan tidak langsung menyimpulkan hal negatif tentang diri sendiri.

2. Hentikan narasi negatif tentang diri sendiri

ilustrasi perempuan mengekspresikan kecemasan (pexels.com/alexgreen)

Setelah ditolak, pikiran sering kali langsung dipenuhi kalimat seperti “aku tidak layak” atau “aku selalu gagal.” Narasi internal seperti ini bisa memperparah luka emosional dan membuat penolakan terasa jauh lebih berat. Padahal, pikiran tersebut belum tentu berdasarkan fakta.

“Emosi sering kali membuat kita sulit melihat situasi secara akurat sehingga kita mengabaikan faktor-faktor yang tidak bersifat personal dan justru berfokus pada kekurangan diri sendiri,” kata Molly Burrets.

Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah kesimpulan itu benar-benar objektif. Dengan memisahkan fakta dan asumsi, kamu bisa melihat bahwa penolakan tidak selalu mencerminkan kekurangan pribadi, melainkan situasi yang tidak sesuai.

3. Lihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas

ilustrasi perempuan menatap fokus ke laptop (pexels.com/lizasummer)

Penolakan sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak berada dalam kendalimu. Bisa jadi timing yang kurang tepat, kebutuhan yang berbeda, atau kondisi pihak lain yang tidak kamu ketahui. Melihat gambaran besar membantu mengurangi kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

Dikutip dari SELF, Lauren Phillips, PsyD, seorang psikolog, menjelaskan, ketika kita memahami bahwa orang lain memiliki kondisi dan pertimbangannya sendiri, kita akan lebih mudah menyadari bahwa penolakan bukan serangan pribadi. Perspektif ini dapat membantu emosi menjadi lebih stabil dan rasional.

4. Kuatkan kembali rasa percaya diri lewat hal yang kamu kuasai

ilustrasi perempuan pakai lip balm (unsplash.com/kxvn_lx)

Saat rasa percaya diri menurun, penting untuk kembali terhubung dengan hal-hal yang membuatmu merasa berharga. Melakukan aktivitas yang kamu kuasai dapat mengingatkan bahwa kamu tetap memiliki kemampuan dan kualitas positif. Ini membantu menyeimbangkan emosi setelah penolakan.

Menghabiskan waktu dengan orang-orang yang suportif juga berperan besar dalam proses pemulihan. Dukungan sosial membuatmu merasa diterima dan dihargai, sehingga penolakan tidak mendefinisikan seluruh dirimu.

5. Jadikan penolakan sebagai awal tujuan baru

ilustrasi perempuan sedang melakukan perjanan ke luar negeri (pexels.com/gustavofring)

Penolakan adalah bentuk kehilangan, dan wajar jika kamu perlu waktu untuk bersedih. Namun, terlalu lama terjebak di dalamnya justru menghambat langkah ke depan. Setelah menerima perasaan tersebut, cobalah membuka diri pada kemungkinan baru.

“Penolakan sering disalahartikan sebagai akhir dari segalanya. Padahal, penolakan bisa dilihat sebagai tanda bahwa hidup sedang mengarahkan kita ke jalan lain, bukan menghentikan perjalanan,” kata Dr. Martha, seorang psikolog klinis, dikutip dari BBC.

Dalam banyak kasus, penolakan justru mengarahkan seseorang ke jalan yang lebih sesuai. Dengan menetapkan tujuan baru, kamu memberi ruang bagi peluang lain yang mungkin lebih sejalan dengan kebutuhan dan jati dirimu saat ini.

Penolakan memang menyakitkan, tetapi tidak harus menghancurkan kepercayaan diri. Dengan cara pandang yang lebih sehat, kamu bisa menghadapinya tanpa menganggap semuanya sebagai kegagalan pribadi. Ingat, terkadang ditolak justru berarti sedang diarahkan ke sesuatu yang lebih tepat.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team