Di tengah budaya kerja yang serba cepat, banyak orang merasa harus terus bergerak agar tidak dicap tertinggal. Pencapaian sering diukur dari seberapa cepat naik jabatan, seberapa sibuk jadwal harian, atau seberapa sering lembur dilakukan. Pola ini perlahan membentuk tekanan sosial yang membuat orang ragu ketika memilih ritme kerja yang lebih lambat. Padahal, kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas, apalagi keberlanjutan karier dalam jangka panjang.
Slow career menawarkan pendekatan yang lebih sadar dan realistis. Bukan berarti berhenti berkembang, tetapi menata pertumbuhan dengan ritme yang sesuai kapasitas diri. Tantangannya, banyak orang takut dianggap stagnan atau kalah langkah. Agar tidak terjebak perasaan tertinggal, diperlukan cara pandang dan strategi yang tepat. Berikut ini enam caranya!
