Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Tidak Semua Orang Harus Punya Karier Impian di Usia Muda

Seorang perempuan sedang bersantai.
ilustrasi seorang perempuan bersantai (freepik.com/lookstudio)
Intinya sih...
  • Usia muda masih masa pencarian jati diri, nilai hidup dan minat sering berubah.
  • Kondisi hidup tidak selalu ideal, pekerjaan bukan soal impian melainkan kebutuhan.
  • Passion tidak selalu harus menjadi pekerjaan utama, karier bisa berkembang secara bertahap.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak remaja, banyak orang tumbuh dengan gagasan bahwa menemukan karier impian sejak dini adalah tanda keberhasilan hidup. Sekolah, media sosial, dan lingkungan sering menampilkan narasi bahwa hidup akan terasa lebih mudah jika seseorang sudah tahu ingin menjadi apa sejak muda.

Padahal, realitas hidup jauh lebih beragam. Tidak semua orang memiliki kesempatan, kondisi, atau kesiapan untuk langsung menentukan karier impian. Menjadi dewasa bukan soal siapa yang paling cepat menemukan arah, melainkan siapa yang mampu bertahan dan beradaptasi. Berikut beberapa alasan mengapa tidak semua orang harus memiliki karier impian di usia muda.

1. Usia muda masih masa pencarian jati diri

Seorang perempuan sedang fokus belajar.
ilustrasi seorang perempuan fokus belajar (pexels.com/RF._.studio _)

Di usia muda, seseorang masih berada dalam fase mengenal diri sendiri. Nilai hidup, minat, dan cara pandang terhadap pekerjaan sering kali berubah seiring pengalaman. Memaksa diri menentukan karier impian terlalu cepat justru bisa membuat seseorang terjebak pada pilihan yang belum benar-benar dipahami.

Banyak orang baru menyadari ketertarikannya setelah mencoba berbagai hal. Proses ini wajar dan sehat. Tanpa eksplorasi, karier impian bisa terbentuk dari ekspektasi orang lain, bukan dari kebutuhan diri sendiri. Memberi waktu untuk mengenal diri adalah langkah penting agar pilihan karier nantinya lebih matang dan realistis.

2. Kondisi hidup tidak selalu memberi pilihan ideal

Seorang perempuan sedang berpikir.
ilustrasi perempuan sedang berpikir (freepik.com/jcomp)

Tidak semua orang tumbuh dengan kondisi yang memungkinkan mereka mengejar karier impian sejak awal. Faktor ekonomi, tanggung jawab keluarga, atau keterbatasan akses sering kali membuat seseorang harus memilih pekerjaan yang realistis terlebih dahulu.

Dalam situasi ini, bekerja bukan soal impian, melainkan kebutuhan. Hal tersebut tidak membuat seseorang gagal atau kurang ambisius. Justru, kemampuan bertahan dan menyesuaikan diri menunjukkan kedewasaan. Karier impian bisa datang belakangan, atau bahkan berubah bentuk seiring kondisi hidup yang membaik dan pengalaman yang bertambah.

3. Pekerjaan tidak selalu harus selaras dengan passion

Seorang perempuan sedang bekerja.
ilustrasi seorang perempuan bekerja (freepik.com/senivpetro)

Narasi bahwa passion harus menjadi pekerjaan utama sering kali membebani anak muda. Padahal, tidak semua minat cocok dijadikan sumber penghasilan. Ketika passion berubah menjadi tuntutan finansial, tekanan yang muncul justru bisa menghilangkan rasa suka itu sendiri.

Bagi sebagian orang, pekerjaan cukup berfungsi sebagai penopang hidup yang stabil. Kepuasan dan makna bisa ditemukan di luar pekerjaan, seperti dari relasi, hobi, atau kontribusi sosial. Memisahkan antara pekerjaan dan passion bukan kegagalan, melainkan strategi hidup yang sehat dan seimbang.

4. Karier bisa berkembang secara bertahap

Seorang perempuan sedang bekerja.
ilustrasi seorang perempuan bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Banyak orang mengira karier harus dimulai dari titik impian, padahal kenyataannya sering berkembang secara bertahap. Pekerjaan pertama tidak selalu menentukan tujuan akhir. Dari pengalaman awal inilah seseorang belajar tentang dunia kerja, kemampuan diri, dan batasan pribadi.

Melalui proses tersebut, arah karier bisa berubah dan berkembang. Tidak sedikit orang menemukan bidang yang lebih sesuai setelah mencoba hal lain terlebih dahulu. Menjadi dewasa berarti menerima bahwa hidup tidak selalu lurus. Karier adalah perjalanan panjang, bukan keputusan sekali jadi di usia muda.

5. Tekanan sosial bisa menyesatkan pilihan

Seorang perempuan sedang burnout.
ilustrasi seorang perempuan burnout (freepik.com/cookie_studio)

Lingkungan sering membandingkan pencapaian karier berdasarkan usia. Melihat orang lain sudah mapan atau sukses di usia muda bisa memicu rasa tertinggal. Tekanan ini membuat banyak orang memilih karier impian versi sosial, bukan versi diri sendiri.

Padahal, setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Memaksakan diri mengikuti standar orang lain justru berisiko menimbulkan kelelahan dan ketidakpuasan. Menyadari bahwa hidup bukan perlombaan membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih jujur. Karier yang tepat bukan soal cepat, melainkan soal sesuai dan berkelanjutan.

Lima alasan di atas menunjukkan bahwa tidak memiliki karier impian di usia muda bukanlah kegagalan. Setiap orang berhak menjalani prosesnya sendiri, bertumbuh dengan ritme yang berbeda, dan menemukan makna hidup dengan caranya masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

8 Inspirasi Makeup ala Member No Na, Eye Catchy!

06 Feb 2026, 18:03 WIBLife