5 Cara Sederhana Membahagiakan Diri yang Kerap Dilupakan

- Memercayai pujian orang lain padamu
- Berhenti membuat daftar kegagalan
- Tidak menekan diri terlalu keras untuk produktif
Setiap orang punya kewajiban terhadap diri yang harus dipenuhi. Dari aspek fisik misalnya, kamu memberikan makanan dan minuman yang sehat untuk tubuh. Jangan justru sebaliknya.
Kamu seperti meracuni diri sendiri dengan makanan serta minuman yang enak, tapi kurang baik buat kesehatan. Ada juga aspek psikis yang perlu diberikan kasih sayang. Kerap kali mental justru tertekan oleh diri sendiri.
Faktor eksternal atau dari luar tetap ada. Akan tetapi, kamu yang lebih menentukan hal itu bakal merusak psikismu atau tidak. Dalam keseharian misalnya, lima cara sederhana membahagiakan diri berikut ini menunjukkan rasa cinta yang besar terhadap diri. Kadang orang lain baik padamu, tapi kamu sendiri malah jahat ke diri.
1. Memercayai pujian orang lain padamu

Pernahkah kamu dipuji oleh orang lain? Pujiannya bisa tentang apa pun. Seperti kebaikan, kecerdasan, atau penampilanmu. Bagaimana reaksimu saat dan setelah menerimanya? Sayang sekali kalau sejauh ini dirimu malah kurang menghargai pujian tersebut.
Bentuk sikapnya memang bukan sinis ke pemberi pujian. Namun, dalam hati kamu gak memercayai pujian tersebut. Dirimu melawan setiap kalimat positif yang ditujukan padamu. Misal, kamu dibilang cantik atau tampan.
Meski dirimu tersenyum dan mengucapkan terima kasih di depan orang itu, di belakang lain lagi. Kamu justru bilang ke diri sendiri bahwa fisikmu buruk. Orang tersebut pasti kasih pujian palsu. Barangkali maksud yang sesungguhnya malah kebalikannya. Belajarlah untuk memercayai serta mensyukuri pujian orang terhadapmu.
2. Berhenti membuat daftar kegagalan

Mana yang lebih sering dibuat olehmu, daftar keberhasilan atau kegagalan? Pada titik tertentu menyadari kesuksesan dan kegagalanmu memang penting. Dari keberhasilan, kamu menjadi tahu kemampuan terbaikmu.
Dari kegagalan, dirimu dapat memetakan sisi-sisi yang masih perlu diperbaiki. Ke depan semoga kamu tak kembali gagal dalam hal yang sama. Akan tetapi, kalau daftar kegagalan malah membuatmu terlalu fokus ke situ, rasa cinta terhadap diri pun memudar.
Kamu tetap perlu menyadari kegagalan. Bukan menyangkalnya. Namun, barangkali tak perlu dirimu sampai bikin daftarnya segala. Itu terlalu membebani pikiran. Apalagi jika daftar kegagalan lebih panjang daripada keberhasilan. Rasa bangga terhadap diri dapat hilang sama sekali.
3. Tidak menekan diri terlalu keras untuk produktif

Produktif memang bagus. Namun, seharusnya kamu tak menekan diri terlalu keras hanya untuk mencapai tingkat produktivitas tertentu. Apalagi kamu sudah merasa gak bisa menikmatinya. Muncul rasa lelah yang berlebihan, terus-menerus, dan malah membuat ide-ide padam.
Produktivitas perlu dijaga. Akan tetapi, semampumu saja. Terpenting ialah membentengi diri dari kemalasan yang merusak produktivitas. Bukan lantas kamu seperti mesin yang harus menyala 24 jam penuh selama 7 hari.
Bahaya jika dirimu sudah di puncak kelelahan akibat terus berusaha seproduktif mungkin. Kamu bisa burnout parah yang tiba-tiba membuatmu tak bisa bekerja sama sekali. Produktivitas yang baik bersifat konsisten. Meski gak terlalu tinggi dalam suatu waktu, tetapi cenderung stabil dalam jangka panjang.
4. Tak memaksakan keramahan pada semua orang

Kamu tentu bermaksud baik dengan keramahanmu. Masalahnya, tidak semua orang di sekitarmu bisa disikapi secara ramah. Bukan semata-mata mereka judes. Akan tetapi, keramahanmu kerap disalahartikan bahkan dimanfaatkan.
Persis seperti orang yang bila diberi hati malah minta jantung. Apabila kamu tidak terlalu mengenal karakter seseorang, membatasi keramahan lebih baik. Mending di awal orang mengira dirimu kurang ramah daripada belakangan keramahanmu mendatangkan masalah.
Toh, seiring waktu orang bakal lebih tahu seperti apa dirimu yang sesungguhnya. Ramah atau sebaliknya. Sebab sulit buat mengontrol perilaku buruk orang lain terhadapmu jika mereka telanjur berpikir dirimu tidak bakal marah dan gak bisa tegas.
5. Gak berusaha mengendalikan semua hal

Sadar gak bila kamu sering stres karena ingin mengatur segalanya? Dirimu mungkin tidak merasa seperti itu. Kamu juga masih dapat mengikuti aturan yang dibuat pihak lain. Namun, keinginan mengendalikan setiap hal tampak saat kamu menyalahkan diri atas kejadian-kejadian yang tak sesuai harapan.
Dirimu lupa bahwa hanya ada tiga hal yang benar-benar di bawah kendalimu. Yaitu, pikiranmu, ucapanmu, serta tindakanmu. Sementara dalam hidup banyak sekali peristiwa terjadi karena peran orang lain juga.
Misal, dirimu menjadi ketua panitia penyelenggaraan suatu acara. Memang tanggung jawabmu besar. Akan tetapi, tidak tepat apabila ketika terjadi insiden tak diharapkan, kamu langsung berpikir itu salahmu. Seharusnya dirimu dapat mencegahnya.
Padahal, ada begitu banyak pihak yang terlibat. Aksi dan reaksi setiap orang tidak bisa dianggap nol atau gak ada. Walaupun posisimu ketua panitia, secara individu dirimu cuma satu bagian kecil dari seluruh perhelatan tersebut.
Mencintai diri tidak harus dengan cara-cara yang mungkin terasa aneh ketika dipraktikkan. Ada beragam cara sederhana membahagiakan diri, seperti bilang terima kasih ke diri sendiri sambil becermin. Kalau menurutmu itu absurd, coba kelima cara di atas. Kamu bakal mencintai diri sendiri dengan cara pandang yang lebih baik serta tindakan nyata.


















