Baju baru sudah digantung sejak malam, ketupat sudah tersaji di meja, dan senyum sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tapi ada satu hal lain yang diam-diam ikut dipersiapkan banyak orang menjelang kumpul keluarga saat Lebaran, mental untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sudah bisa ditebak sebelum acara dimulai. 'Kapan nikah?', 'Kerja di mana sekarang?', 'Gajinya berapa di kerjaan sekarang?' Deretan pertanyaan itu hadir begitu konsisten, seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi silaturahmi itu sendiri.
Hal yang membuatnya semakin berat, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak datang dari orang asing. Melainkan dari wajah-wajah familiar yang kita temui setahun sekali, om, tante, atau kerabat jauh yang mungkin memang berniat baik, tapi tanpa sadar menyentuh hal-hal yang sedang kita perjuangkan dalam diam. Di situlah letak sesungguhnya dari rasa draining yang sering dirasakan banyak orang usai acara keluarga.
Menanggapi fenomena yang begitu lekat dengan budaya Lebaran di Indonesia ini, IDN Times menggelar sesi live bertajuk Survival Guide Lebaran: Hadapi Pertanyaan Keluarga Tanpa Draining bersama Faza Maulida, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis, pada Selasa (10/3/2026). Dalam sesi tersebut, Faza membagikan berbagai tips dan perspektif agar kita tetap bisa merespons pertanyaan keluarga dengan santai, tanpa merasa tertekan atau kelelahan secara emosional. Lalu, apa saja yang perlu kita ketahui?
