Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Refleksi Diri saat Rayakan Lebaran di Rantau, Perjalananmu Jauh

5 Refleksi Diri saat Rayakan Lebaran di Rantau, Perjalananmu Jauh
ilustrasi memandangi bentang alam (pexels.com/Julio Lopez)
Intinya Sih
  • Artikel mengajak perantau yang tidak bisa mudik saat Lebaran untuk menjadikan momen tersebut sebagai waktu refleksi diri dan tetap bersyukur di mana pun berada.
  • Merantau digambarkan sebagai perjalanan penuh tantangan yang membentuk ketangguhan, kedewasaan, serta kemampuan beradaptasi jauh dari keluarga dan zona nyaman.
  • Rasa rindu kampung halaman diibaratkan panggilan spiritual menuju akhir kehidupan, mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi takdir dengan hati yang tenang dan penuh syukur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lebaran nanti sudah berapa tahun kamu merantau? Pasti senang seandainya ketika Idulfitri dirimu dapat pulang sejenak ke kampung halaman. Mudik seperti perantau lainnya. Makin lama kamu merantau, makin besar pula rasa kangen pada rumah asal.

Akan tetapi, bila Lebaran nanti dirimu tidak pulang ke kampung halaman, jangan terlalu bersedih. Tentu ada rasa sepi dan sendirian di kota bahkan negara orang. Namun, justru di momen itulah kamu dapat memanfaatkannya buat refleksi diri.

Dengan merenungkan seluruh perjalanan hidupmu sejauh ini bakal banyak sekali hikmah yang dapat diambil. Tanpa perenungan, berbagai hal penting boleh jadi sama sekali tak terpikirkan. Yuk, duduk sejenak sambil memahami poin-poin refleksi diri berikut.

1. Di mana pun kamu merayakan Lebaran, semuanya tetap bumi Allah

memandangi kejauhan
ilustrasi memandangi kejauhan (pexels.com/Bahaa A. Shawqi)

Di mana tempat terbaik untuk merayakan hari kemenangan? Jawaban mayoritas orang yang tinggal di negara dengan tradisi mudik pasti kampung halaman. Tidak salah, merayakan Lebaran di rumah orangtua serta bersama keluarga memang indah sekali.

Sampai kamu sering malas untuk kembali ke rantau. Namun, jangan lupa bahwa setiap jengkal tanah di bumi ini adalah milik Allah SWT. Tidak ada belahan bumi yang tak baik. Apalagi di hari yang fitri.

Oleh sebab itu, cegah dirimu larut dalam kesedihan sekalipun merayakan Idulfitri di rantau. Jangan ada lagi perasaan bahwa Lebaran-mu menjadi tidak sempurna. Kamu memang lahir dan besar di tempat lain. Namun, di sini dirimu memperoleh penghidupan yang baik. Berbahagialah walau kamu belum bisa pulang.

2. Mungkin kamu tak membayangkan bisa pergi sejauh ini

berjalan sendiri
ilustrasi berjalan sendiri (pexels.com/Benedict Mulderink)

Coba ingat-ingat lagi. Kapan pertama kali kamu punya keinginan merantau? Mungkin pergi dan menetap cukup lama di kota atau negara lain sama sekali bukan cita-citamu. Dahulu dirimu bahkan terlalu takut untuk membayangkannya.

Akan tetapi, di sinilah kamu sekarang. Jauh dari orangtua dan saudara. Malah di awal kedatanganmu, dirimu tak punya satu pun teman. Kamu sungguh-sungguh memulai segalanya dari nol.

Seperti tanaman yang dicabut dari potnya yang nyaman kemudian dipindah ke kebun yang penuh tantangan. Tanahnya lebih gersang, banyak ilalang, tidak ada orang yang rutin menyiram, dan sebagainya. Waktu membuktikan kamu bukan sekadar mampu menaklukkan rasa takutmu. Akan tetapi, kamu juga berhasil beradaptasi dengan sangat baik di rantau.

3. Merantau dan taat menjalankan puasa, karaktermu pasti tangguh

duduk sendiri
ilustrasi duduk sendiri (pexels.com/Thomas Ronveaux)

Merantau dengan berpuasa memang dua hal yang berbeda. Berpuasa lebih ke ibadahmu pada Allah SWT sesuai ajaran agama. Sementara keputusan merantau biasanya didorong oleh keperluan keduniaan. Seperti kamu ingin mencari nafkah atau berkuliah di kampus tertentu.

Akan tetapi, ada kesamaan di antara keduanya. Yaitu, baik merantau maupun berpuasa sama-sama membentuk mentalmu. Tanpa disadari, dirimu bakal lebih tangguh. Ketika kamu berpuasa mesti menahan segala hawa nafsu.

Lawan terbesar manusia bukan orang lain, melainkan hawa nafsunya. Demikian pula saat dirimu merantau kudu sanggup melawan dorongan ingin menyerah dan pulang saja. Puasa mendorongmu untuk bertahan hingga waktu berbuka. Sedang merantau membulatkan tekadmu buat sukses. Pantang pulang sebelum jadi orang.

4. Kamu bisa membentuk persaudaraan di mana saja mesti tak sedarah

memandangi bentang alam
ilustrasi memandangi bentang alam (pexels.com/Thomas Ronveaux)

Pengalaman merantau ternyata memberimu perspektif yang lebih luas tentang keluarga. Dahulu sebelum kamu merantau, keluarga semata-mata orang-orang yang masih punya hubungan darah denganmu. Di luar itu bukan keluarga.

Setelah tinggal di kota atau negara lain, ternyata keluarga tak hanya ditentukan oleh hubungan darah. Banyak orang di dunia ini baik padamu. Mereka tulus dan selalu berusaha mendukungmu.

Saat kamu sakit, ada teman yang menjenguk. Ia mengantarkanmu ke dokter bahkan sampai menemanimu dirawat inap. Dirimu dapat tertawa sampai menangis bersama mereka. Kamu tidak pernah benar-benar sendirian meski jauh dari keluarga di kampung.

5. Sejauh-jauh merantau pasti rindu kampung, selama-lamanya hidup akan mati juga

menatap kejauhan
ilustrasi menatap kejauhan (pexels.com/Gilberto Olimpio)

Tentu rasa rindu paling berat terhadap kampung halaman ialah di tahun-tahun pertama kamu merantau. Rasanya gak ada tempat sebaik di sana. Makanan paling lezat juga cuma ada di daerah kelahiranmu.

Setelah kamu lama merantau, rasa kangen juga tak hilang sepenuhnya. Dirimu cuma bisa berusaha buat lebih tegar menahan rindu yang tidak bisa setiap saat dilampiaskan dengan pulang kampung. Sadar gak sih, kalau hal ini mirip dengan ujung perjalanan setiap manusia?

Ada sesuatu yang tetap memanggilmu di ujung perjalanan. Seperti segala tentang kampung halaman yang seolah-olah tangan yang terus melambai padamu. Mirip dengan ini ialah kematian.

Dirimu menggenapkan rindu pada kampung halaman dengan mudik. Suatu hari nanti kamu pun akan menggenapi takdirmu dengan kematian. Dirimu mesti bersiap-siap menyambut datangnya keniscayaan tersebut.

Tetap di rantau saat Idulfitri bukanlah hal yang buruk. Ketika takbir berkumandang dari seluruh penjuru, kamu malah bisa merenung sampai begitu dalam. Rasa syukur sekaligus kesadaran akan banyaknya dosa yang pernah diperbuat mungkin akan membuatmu sampai menitikkan air mata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us