Kreator Muda, Mutia Hanifah. (instagram.com/ke.mudian)
Mudi mendedikasikan dirinya menjadi konten kreator. Setelah resign, Mudi memutuskan untuk mendalami dunia digital dan memanfaatkan footage yang telah diambilnya selama duduk di bangku kuliah. Berbekal wawasan dari non-governmental organization (NGO) bidang lingkungan, termasuk pengalamannya terjun ke lapangan, Mudi memutuskan untuk fokus menjadi content creator sejak September 2025 lalu.
Mudi yakin, perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Salah satunya melalui dokumentasi yang ia sebarkan sebagai alat edukasi yang kuat. Meski langkah kecilnya baru dimulai, Mudi mengaku senang jika aktivitas yang ditekuninya mampu memberi dampak yang lebih luas sekaligus menginspirasi orang lain untuk melihat konservasi dari sudut pandang yang berbeda.
Mudi berbagi tujuannya, "Biar temen-temen tahu juga bahwa ternyata konten konservasi juga menarik dan bisa mengajak teman-teman. Orang konservasi yang kerjanya di lapangan itu, jadi tahu bahwa kegiatan kita menarik dan kita harus bangga sama kegiatan kita."
Mudi melihat ada kesenjangan antara dunia akademis dan pemahaman masyarakat awam. Ia merasa bahwa para peneliti sering kali terlalu fokus pada publikasi jurnal yang bahasanya sulit dimengerti. Hal ini mendorongnya untuk mengambil peran sebagai penerjemah informasi ilmiah menjadi konten yang ringan, namun tetap akurat.
Awal mula kesungguhan Mudi untuk terjun sebagai konten kreator adalah perdebatan di media sosial terkait isu konservasi. Orang awam mempertanyakan peran peneliti Indonesia selama ini terkait dengan isu-isu lingkungan di media arus utama. Karena itu, Maudi berinisitaif memanfaatkan peluang tersebut untuk bisa menyebarluaskan dengan kemasan yang menarik.
"Gak ada yang menyederhanakan kalimat-kalimat ilmuwan, menyederhanakan konten-konten tersebut agar bisa dimengerti orang awam. That's why ini kayaknya bisa jadi peluang aku. Mungkin aku kurang di akademik, tapi aku mudah sekali untuk membuat sebuah konten, bisa membuat yang menyentuh masyarakat. Jadi, aku memanfaatkan skill yang aku bisa, sebisaku di bidang konservasi," ujarnya.
Perjalanan Mudi di dunia konservasi dimulai sejak bangku kuliah. Sebagai lulusan Biologi dengan fokus konservasi, isu terkait pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan ekosistem tentu bukan hal yang asing baginya. Ia pun terus memupuk pemahaman di bidang tersebut meski sebelum mendalami Biologi, Mudi justru menempuh pendidikan di bidang farmasi saat masih duduk di bangku SMK.
"Sebenarnya, dari awal gak ada ketertarikan terhadap isu konservasi. Jadi, awalnya SMK aku dulu Farmasi dan Biologi Konservasi ini kayak berbeda banget sama yang dunia farmasi tersebut," tambahnya.
Kesadaran untuk menekuni dunia konservasi muncul di tahun 2021. Saat itu, ia mulai terlibat sebagai relawan dalam kegiatan pengumpulan data dan informasi terkait primata owa. Dari sana, ia semakin banyak membaca dan memahami kondisi konservasi di lapangan hingga informasi tentang perdagangan ilegal satwa. Momen tersebut begitu menyentuh hatinya, membuat Mudi pun tergerak untuk mengambil langkah nyata dan berkontribusi dalam isu konservasi.
"Di situ aku nangis dan saat itu, aku memutuskan buat kuliah serius. Buat apa yang kubisa, aku akan terjun gitu kan. Jadi, that's why aku memutuskan untuk fokus ke dunia konservasi. Jadi yang namanya sebagai anak muda, pasti ada yang namanya galau, bingung. Ini salah jurusan apa gak ya? Nah, 2021 itu titik balikku. Jadi, ngerasa kayaknya aku benar dan aku mau melakukan kontribusiku di sini," ungkapnya.