"Aku memang dari kecil memang udah panggilannya, emang udah suka, emang udah cita-citanya pengen, dan cita-citanya itu ya memang jadi guru tari, jadi penari. Memang dari dulu ke situ, gak pernah berubah-ubah," kenang Vio saat menceritakan kegigihannya dalam mempertahankan mimpi.
Kisah Avionita Sinaga, Penari Berdaya di Balik Keterbatasan Fisik

- Avionita Sinaga, penari asal Pematang Siantar, bangkit dari tragedi kelam tahun 2017 yang mengubah kondisi fisiknya dan menjadikan tari sebagai sumber semangat hidup serta penghidupannya.
- Ia mendirikan sanggar Simalungun Home Dancer (SIHODA) sejak 2014 untuk melestarikan budaya tari Simalungun dan membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya di panggung dunia.
- Melalui perjuangan dan konsistensinya, Avionita meraih penghargaan nasional hingga internasional serta menginspirasi perempuan Indonesia agar berdaya, berdiri di atas kaki sendiri, dan mencintai diri apa adanya.
Jakarta, IDN Times - Selama ini, dunia tari kerap diidentikkan dengan gerakan yang luwes dan dinamis. Bagi Laura Tias Avionita Sinaga, menari adalah napas hidup yang membangkitkannya dari titik terendah dalam hidup. Meski harus menjalani hidup dengan keterbatasan fisik pasca sebuah tragedi kelam, semangatnya tak pernah padam.
Sebagai pendiri sanggar Simalungun Home Dancer (SIHODA), ia telah membuktikan bahwa kursi roda atau tongkat penyangga bukan penghalang untuk menaklukkan panggung dunia. Kepada IDN Times, Avionita menceritakan bagaimana keterbatasan itu menjadi bahan bakar semangatnya membawa SIHODA semakin mendunia. Melalui perjalanannya inilah, kita belajar menyelami bahwa disabilitas bukan akhir dari segalanya.
1. Menari adalah panggilan hidupnya

Menari bukan sekadar hobi untuk perempuan yang akrab disapa Vio ini. Menari adalah panggilan jiwa dan cita-citanya sejak kecil. Keteguhannya ini yang mengantarkan Vio mengambil kuliah di Jurusan Seni Tari Universitas Negeri Medan.
Sayangnya pada saat itu, ia harus berhadapan dengan stigma masyarakat yang memandang sebelah mata profesi pekerja seni. Namun, sosok ayahnya yang memberi dorongan untuk menempuh bangku kuliah di jurusan yang dia inginkan.
Namun, tragedi besar menimpanya di tahun 2017. Meski tidak bisa lagi melanjutkan perkuliahan, perempuan asal Pematang Siantar ini tetap membuktikan bahwa semangatnya tidak pernah padam. Meskipun banyak orang yang meragukan dan memandang sebelah mata, ia tetap akan hidup untuk terus menari dan melestarikan budayanya.
“Jadi, aku akan terus hidup dan terus menari. Dan menari ini bisa membuat aku terus hidup sampai saat ini. Hidup itu bukan hanya dalam artian aku bisa tetap hidup bernapas. Tapi, dengan menari pun, aku bisa berpenghasilan juga gitu. Kan banyak orang (beranggapan), emang bisa hidup ya kita dari nari? Aku terbukti, aku bisa hidup dari hanya menari,” katanya kepada IDN Times secara daring pada Kamis (19/3/2026).
2. Titik balik terendah, kecelakaan yang mengubah kondisi fisiknya secara permanen

Berhasil melewati titik terendah dalam hidupnya, kini Vio tampak percaya diri membagikan kisah inspiratif di baliknya. Ia telah berhasil melewati satu babak tergelap. Butuh waktu untuk memproses semuanya hingga akhirnya Vio memutuskan untuk membagikan kisah ini kepada publik.
Di tahun 2017, lembar hidupnya berubah menjadi hitam akibat suatu kecelakaan yang mengubah kondisi fisiknya. Di balik kecelakaan tersebut, Vio menyimpan kisah pilu yang membuatnya merasa hampir putus asa dengan hidupnya.
Vio mengaku sempat menikah muda. Namun, pernikahannya diwarnai oleh tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menyisakan tekanan mental luar biasa. Akibat peristiwa itu, ia merasa frustasi hingga akhirnya melakukan percobaan bunuh diri.
Dampaknya, Vio sempat mengalami kelumpuhan total dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Dari tiga rumah sakit, semua menyarankan amputasi. Diagnosa lainnya menyebut Vio tidak akan bisa duduk lagi. Situasi ini sangat menghancurkan semangatnya.
Ia juga menuturkan, “Dengan keadaan putus asa yang seperti itu dan ditambah gak punya siapa-siapa selain orangtua, ya lebih ke memaksa diri si sebenarnya. Berdamai itu gak langsung di situ juga. Jadi, sampai hari ini pun, Vio masih belajar menerima keadaan yang sekarang dan menerima semuanya gitu.”
Namun, perlahan pandangannya mulai berubah. Vio gak bisa memandang bahwa hidupnya akan terus terpuruk dan berdiam diri. Ia merasa diberi kesempatan hidup kembali yang seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin.
“Vio masih dikasih kesempatan hidup, berarti harus ada cerita indah yang kujalani lagi. Aku semangat lagi,” sambungnya.
Namun bersyukurnya, Vio tumbuh menjadi pribadi yang mau untuk bangkit dan mulai percaya diri lagi. Sekali pun harus berjuang cukup keras, ia mulai berlatih sendiri di rumah tanpa pengobatan apa pun. Belajar berdiri, belajar duduk, belajar berjalan hingga satu langkah kecil menuntunnya untuk menggapai mimpi yang selama ini ia ingin raih.
Kejadian di tahun 2017 ini, kini tidak lagi ia lihat sebagai aib, melainkan sebagai pembelajaran hidup yang sangat berharga. Ia memilih untuk terbuka mengenai masa lalunya agar orang lain juga punya semangat hidup yang sama terlepas dari apa pun masalah mereka.
Avionita percaya bahwa hal buruk tidak selamanya akan menjadi buruk jika kita memilih untuk memperbaikinya. Di tengah keputusasaannya kala itu, ia belajar bahwa menyesal dan merasa terpuruk bukanlah solusi. Ia tetap harus melanjutkan hidupnya dengan warna-warna baru yang lebih indah.
3. Sanggar SIHODA lahir dari kecintaannya terhadap budaya tari Simalungun

Jauh sebelum tragedi yang mengubah hidupnya, Vio sudah membangun Simalungun Home Dancer (SIHODA) sejak tahun 2014. Sanggar ini berdiri dari tekad dan rasa cintanya yang luar biasa terhadap seni tari tradisional Simalungun.
Lebih dari 10 tahun berdiri, SIHODA bertahan dari misi dan nilai yang Vio tanamkan. Bukan hanya membentuk kelompok tari, Vio menginisiasi SIHODA untuk terus melanjutkan budaya.
“Banyak kelompok tari, tapi mereka hanya untuk mencari job wedding. Kalau kami gak. Kami buat pentas, kami buat wadah. Kami konsisten mengadakan kegiatan pelestarian budaya,” tuturnya.
SIHODA selalu menggelar pagelaran budaya setiap tahunnya dengan tema-tema yang berbeda. Menurutnya, proses ini juga merupakan caranya menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak yang ia latih di sanggar.
4. Keterbatasan fisiknya tidak menghalangi untuk berhenti berlatih menari

Semangatnya tak pernah benar-benar padam. Sekalipun raganya terbaring lemah, menari tetap menjadi obat terbaik yang menyembuhkan luka dalam hidupnya. Cahaya yang muncul dalam kegelapan itu, datang dari seorang teman komunitas Rumah Karya Indonesia. Vio diminta untuk mengisi acara di Siantarman Arts Festival.
Tanpa ragu, Vio mengiyakan ajakan tersebut sekalipun ia masih belum bisa duduk, bahkan tidak memiliki penari. Keterbatasannya membentuk Vio menjadi lebih kreatif dengan merekrut penari melalui media sosial Facebook. Keajaiban itu datang ketika ada enam orang yang mendaftar untuk dilatih olehnya.
“Ya, jadi Vio ngelatih, ngajar narinya di tempat tidur, bener-bener posisinya di tempat tidur. Karena kan Vio gak bisa ikut, karena memang belum bisa duduk, terus kakinya juga belum bisa pakai sandal. Jadi, Vio gak ikut. Nah, itulah pertama tampil. Dari situ jugalah, aku makin sadar bahwa, ‘Oh ternyata aku gini aja bisa kok melatih orang itu’. Ya udah, dari situ aku mulailah lanjutkan sanggarnya,” ceritanya.
Momen itulah yang membukakan matanya bahwa tarian yang memotivasi dirinya untuk sembuh. Perlahan, Vio mulai belajar untuk duduk, berdiri, dan berjalan ketika harus melatih anak-anak didiknya di sanggar. Ada percikan api semangat untuk hidup kembali.
“Waktu pertama kali Vio duduk, bahkan berdiri pun, itu pas lagi ngelatih nari. Jadi, kayak obatnya ya tari. Alasan aku semangat hidup masih tari,” ujarnya.
Vio kembali menghidupkan SIHODA. Justru, melalui SIHODA, ia menunjukkan bahwa penyandang disabilitas pun bisa berdaya mau sesulit apa pun keadaannya.
“Kebanyakan orang kan mikirnya orang disabilitas itu, kayak menyedihkan gitu, yang cuman bisa nunggu diajak untuk dikasihani. Nah, tapi di sini, Vio buktikan bahwa Vio disabilitas pun, Vio gak minta-minta,” jelasnya.
5. Dari panggung kecil ke penghargaan nasional hingga ke kancah dunia

Nama Avionita Sinaga semakin terkenal ketika ia mendapatkan penghargaan bergengsi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2024 dalam kategori Pelopor Budaya dalam gelaran Anugerah Kebudayaan Indonesia. Selain itu, ia juga dinobatkan sebagai salah satu perempuan inspiratif dalam ajang Puspa Bangsa Kompas TV 2025.
“Vio juga gak nyangka bisa dapet kemarin. Berarti kan karena sebuah kesabaran dan konsisten, akhirnya bisa tembus Anugerah Kebudayaan Indonesia itu. Itu satu penghargaan yang gak bisa dilupakan sih,” katanya.
Awalnya, Vio mengaku agak minder ketika mendapatkan penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan-penghargaan itu banyak diberikan kepada CEO, founder, atau orang-orang yang memang bergelut di perusahaaan-perusaaan ternama.
Namun, sebagai perempuan yang datang dari daerah, Vio merasa ini adalah pencapaian yang bermakna dalam hidupnya. Kegigihannya membangun SIHODA selama 10 tahun ternyata membuahkan hasil yang tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa selalu ada buah manis dari ketekunanmu selama ini.
Tak tanggung-tanggung, SIHODA berhasil menembus panggung internasional. Vio rela mengorbankan beberapa hal untuk membawa SIHODA lebih dikenal dunia. Pada tahun 2021 dan 2022, sanggarnya berhasil menyabet gelar Juara Dunia di Turki, termasuk memenangkan kategori The Best Costume selama dua tahun berturut-turut.
Apa yang dilakukan oleh Vio bisa mematahkan stigma masyarakat yang sering melihat penyandang disabilitas dengan rasa kasihan. Kesempatan yang diberikan Tuhan menjadi titik baliknya untuk berbuat lebih baik ke depannya
“Vio disabilitas pun, Vio gak minta-minta. Vio berdiri di atas kaki Vio sendiri. Bahkan, Vio bisa berkarya dengan anak-anak nondisabilitas,” ucapnya.
6. Cerita pahitnya menjadi kekuatan yang menginspirasi orang lain

Menilik hidupnya ke belakang, Vio merasa berbagi cerita hidup bukanlah hal yang mudah. Terlebih, gak semua orang bisa memahami apa yang dia alami.
“Tapi ketika kita berbagi cerita gimana kita dari terpuruk, kita bisa menyadari kesalahan kita, kita bisa memperbaiki hidup kita, dan melanjutkan hidup kita, mungkin orang bisa lebih relate. Lebih masuk akal nangkepnya gitu. Daripada kita cerita, ‘Oh untuk menggapai sukses, harus seperti ini, harus seperti ini, aku bisa berdamai harus seperti ini,’ gitu tapi kita gak bener-bener mengalaminya,” tuturnya.
Dari banyaknya hal buruk yang terjadi, Vio tetap bisa melihat sisi baiknya. Ia merasa gak semua hal buruk akan terus menjadi buruk. Justru, hal buruk yang ia alami bisa menjadi pembelajaran hebat untuk memperbaiki kehidupan ke depannya.
“Yang penting kan kita sudah coba. Jadi, kalaupun berhasil atau gagal, kita gak akan menyesal. Tapi kalau kita gak coba apa pun, kita hanya tetap stay di situ, menyesali sesuatu yang kita kerjakan, tapi hanya menyesal, menyesal, dan menyesal tanpa perbaikan," sambung dia.
Soal dukungan, Vio menyadari sebanyak apa pun semangat yang diberikan lingkungan sekitar, semuanya gak akan berarrti kalau gak ada kesadaran dari dalam diri sendiri. Menurutnya, bangkit dari titik terendah dalam hidup harus dimulai dari keputusan pribadi.
7. Pesan Vio untuk perempuan Indonesia

Ketika ditanya soal mimpi, Vio menjawab bahwa sejak peristiwa di tahun 2017 itu, ia memilih untuk menikmati setiap prosesnya. Bukan karena tidak berambisi, tetapi Vio percaya ketika ia menikmati setiap proses perjalanan hidupnya, maka akan ada buah manis di belakangnya.
“Dinikmati setiap prosesnya, terus apa yang mau dikejar itu, nanti akan tercipta dengan sendirinya,” kata Vio. Hal ini terbukti dari pencapaiannya secara pribadi maupun pencapaian SIHODA secara nasional dan internasional.
Dari seluruh pengalaman hidupnya, Vio ingin menyampaikan pesannya kepada para perempuan untuk tidak mencari diri sendiri di orang lain. Artinya, jangan membandingkan kemampuan maupun pencapaian kita dengan orang lain. Dengan begitu, kita akan lebih mudah bersyukur dengan apa pun yang kita miliki.
“Ketika kita fokus gimana mengejar untuk bisa terlihat hebat seperti si ini gitu, jadinya kan bukan diri kita sendiri lagi gitu. Jadi, lebih ke gimana kita fokus aja sama apa yang kita punya sekarang, apa yang ada di diri kita, terus kita kembangin itu gitu. Gak usah ikut-ikutan. Kita punya keunikan sendiri, kita punya cerita masing-masing. Justru kalau bisa, itu yang kita kembangin,” lanjutnya.
Vio mendorong setiap perempuan untuk menggali keunikannya masing-masing. Menurutnya, setiap perempuan itu hebat dengan versinya masing-masing.
“Tanpa kita sadari pun, mungkin banyak orang yang pengen hidup di posisi kita. Mungkin banyak orang yang pengen berada di posisi kita. Jadi ya, kita fokus aja ke diri kita, fokus dengan apa yang kita kerjakan, apa yang kita impikan. Nikmati proses itu, jalani dengan tenang, jalani dengan santai,” kata Vio.
Ukuran hebat seseorang bukan soal seberapa banyak pencapaian atau seberapa sukses dirinya. Perempuan kelahiran 1996 ini, melihat bahwa setiap orang hebat di porsi hidupnya masing-masing. Baginya, perempuan itu hebat ketika mereka bisa memberikan yang terbaik dan bisa bermanfaat untuk orang lain.
Baginya, perempuan juga berdaya. “Ketika kita sebagai seorang perempuan memilih untuk bisa berdiri di atas kaki kita sendiri, tidak tergantung dengan laki-laki, tidak menganggap kita ini tidak mampu dan rendah. Ya, kita bisa bangkit dengan keadaan kita sendiri dan kita bisa membuktikan bahwa kita perempuan pun bisa berkarya, bisa melakukan pekerjaan yang bahkan bisa dilakukan oleh laki-laki. Kita bisa melakukan banyak hal yang bahkan mungkin orang sepele melihatnya, tapi perempuan bisa melakukan itu," paparnya.
Seraya menutup obrolan hangat ini, Vio menjabarkan perempuan berdaya baginya. Perempuan berdaya adalah perempuan yang bisa dan sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Perempuan yang mencintai dirinya dengan sepenuh hati, berdiri di atas kakinya sendiri, dan dia bisa memberikan manfaat untuk orang lain.