Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)
Klub Literasi Anak didorong atas kesadaran bahwa kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, dan berbicara selayaknya diterapkan sejak dini. Keterampilan literasi tumbuh melalui penerapan yang dekat, menyenangkan, dan relevan bagi anak-anak. Bagi Maya, menghidupkan minat literasi anak tak hanya melalui kegiatan baca dan tulis, melainkan dapat tercipta melalui kegiatan atau proses belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
"Klub Literasi Anak sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 2016 gitu. Jadi, waktu itu bersama kedua rekan, yaitu ada Kak Nabila Budayana, juga Kak Nina Dika, kita sama-sama punya minat di bidang menulis, kemudian pendidikan, punya kepedulian yang sama tentang literasi," ujar Maya.
Klub Literasi Anak sendiri berdomisili di Surabaya. Kala itu, Maya dan kedua rekannya melihat, anak-anak punya banyak aktivitas, namun kegiatan menulis atau membaca masih kurang digencarkan. Terlebih, saat itu pemberitaan tentang minat baca anak-anak yang rendah santer terdengar. Dari situlah, Maya berinisiatif untuk membangun komunitas membaca bagi anak, terutama usia 7 sampai 12 tahun, yang mengajak si kecil dan orangtua untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan literasi.
Maya memahami betul bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan eksplorasi. Maka, Ia menginisiasi agar literasi tidak diposisikan sebagai aktivitas membebani, namun mengenalkan buku melalui pendekatan bermain.
"Kita buat Klub Literasi Anak, tapi dikemas dengan sesuatu yang menarik. Jadi, membaca, menulis itu gak tiba-tiba. Mereka datang baca, nulis gitu, tidak. Tapi, kita ajak anak untuk eksplorasi sesuatu. Misalnya, kita berkunjung ke perpustakaan, ke museum, melakukan semacam eksperimen, kemudian diskusi, bermain, kemudian baca referensi, kemudian menulis," jelasnya.
Meski menyandang nama "Klub Literasi Anak", namun kegiatan yang dilakoni tak sekadar membaca buku. Berbagai agenda diselenggarakan untuk mengasah kemampuan berpikir anak melalui eksplorasi, permainan, hingga kegiatan kolektif.
Kelas reguler digelar sebulan dua kali, diikuti oleh anak usia 7 sampai 12 tahun. Kegiatannya seputar bermain, eksplorasi, diskusi, kunjungan edukatif, mengenal tokoh, crafting, dan berbagai aktivitas lainnya.
"Jadi, aktivitasnya kita sesuaikan dengan tahapan perkembangannya mereka," ujar Maya.
Dengan latar belakang pendidikan psikologi, Maya berupaya menerapkan bekal ilmu yang dimiliki ke dalam klub ini agar pendekatan yang diterapkan tetap relevan. Klub Buku Literasi menekankan skill yang sesuai dengan tahap perkembangan.
"Jadi, akhirnya dicocokkan tuh sama tahapan perkembangan mereka di usia 1 sampai kelas 3 SD. Kebanyakan, mereka lebih banyak ke senang-senangnya, melatih motoriknya, kemudian mereka banyak bercerita, banyak baca-baca, banyak eksplorasi tempat. Kemudian, untuk yang kelas 4 sampai kelas 6 sudah mulai serius untuk menulisnya, udah mulai panjang. Pemikirannya udah mulai kompleks, udah mulai kritis, udah mulai ajeg gitu cara mereka berpikir," jelasnya.
Selain anak, ada juga kelas remaja berbasis project untuk anak SMP hingga SMA. Berbeda dengan anak, kelas remaja menjadi upaya untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian melalui proses menulis.