Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
SaveClip.App_345414379_571949914793781_7164840354469039865_n.jpg
Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)

Intinya sih...

  • Klub Literasi Anak: langkah konkret menghidupkan minat baca anak di Surabaya

  • Bicara literasi dan cara membangun minat baca anak, orangtua wajib ambil peran!

  • Literasi dibangun dengan konsistensi, akses harus terbuka dan ada dukungan orangtua

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia digadang-gadang menjadi negara dengan minat baca rendah. Menurut data UNESCO, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang punya minat baca. Rendahnya minat dan kemampuan literasi anak, tak sepenuhnya menjadi persoalan orangtua dan sekolah. Dapat dikatakan, persoalan tersebut menjadi masalah struktural. Salah satunya karena keterbatasan akses terhadap bacaan. Ketika buku sulit dijangkau, literasi tumbuh dalam ruang sempit yang dianggap tak menarik.

Keresahan inilah yang menjadi latar belakang lahirnya "Klub Literasi Anak". Komunitas ini hadir untuk mengasah kemampuan membaca, menulis, dan bercerita. Inisiatif yang berangkat dari kesadaran bahwa anak-anak terbuka dengan literasi, hanya saja memerlukan pendekatan yang lebih menyenangkan.

Klub Literasi Buku dinisiasi oleh 3 perempuan penggiat buku. Kali ini, IDN Times berkesempatan mengobrol lebih dalam dengan salah satu founder, Nindia Nurmayasari yang akrab disapa Maya. Selain membangun Klub Literasi Anak, Maya juga merupakan seorang penulis buku cerita anak yang telah menerbitkan lebih dari 100 buku. Simak perjalanan Maya di dunia literasi dari wawancara daring pada Jumat (26/9/25) silam.

1. Klub Literasi Anak: langkah konkret menghidupkan minat baca anak di Surabaya

Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)

Klub Literasi Anak didorong atas kesadaran bahwa kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, dan berbicara selayaknya diterapkan sejak dini. Keterampilan literasi tumbuh melalui penerapan yang dekat, menyenangkan, dan relevan bagi anak-anak. Bagi Maya, menghidupkan minat literasi anak tak hanya melalui kegiatan baca dan tulis, melainkan dapat tercipta melalui kegiatan atau proses belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

"Klub Literasi Anak sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 2016 gitu. Jadi, waktu itu bersama kedua rekan, yaitu ada Kak Nabila Budayana, juga Kak Nina Dika, kita sama-sama punya minat di bidang menulis, kemudian pendidikan, punya kepedulian yang sama tentang literasi," ujar Maya.

Klub Literasi Anak sendiri berdomisili di Surabaya. Kala itu, Maya dan kedua rekannya melihat, anak-anak punya banyak aktivitas, namun kegiatan menulis atau membaca masih kurang digencarkan. Terlebih, saat itu pemberitaan tentang minat baca anak-anak yang rendah santer terdengar. Dari situlah, Maya berinisiatif untuk membangun komunitas membaca bagi anak, terutama usia 7 sampai 12 tahun, yang mengajak si kecil dan orangtua untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan literasi.

Maya memahami betul bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan eksplorasi. Maka, Ia menginisiasi agar literasi tidak diposisikan sebagai aktivitas membebani, namun mengenalkan buku melalui pendekatan bermain.

"Kita buat Klub Literasi Anak, tapi dikemas dengan sesuatu yang menarik. Jadi, membaca, menulis itu gak tiba-tiba. Mereka datang baca, nulis gitu, tidak. Tapi, kita ajak anak untuk eksplorasi sesuatu. Misalnya, kita berkunjung ke perpustakaan, ke museum, melakukan semacam eksperimen, kemudian diskusi, bermain, kemudian baca referensi, kemudian menulis," jelasnya.

Meski menyandang nama "Klub Literasi Anak", namun kegiatan yang dilakoni tak sekadar membaca buku. Berbagai agenda diselenggarakan untuk mengasah kemampuan berpikir anak melalui eksplorasi, permainan, hingga kegiatan kolektif.

Kelas reguler digelar sebulan dua kali, diikuti oleh anak usia 7 sampai 12 tahun. Kegiatannya seputar bermain, eksplorasi, diskusi, kunjungan edukatif, mengenal tokoh, crafting, dan berbagai aktivitas lainnya.

"Jadi, aktivitasnya kita sesuaikan dengan tahapan perkembangannya mereka," ujar Maya.

Dengan latar belakang pendidikan psikologi, Maya berupaya menerapkan bekal ilmu yang dimiliki ke dalam klub ini agar pendekatan yang diterapkan tetap relevan. Klub Buku Literasi menekankan skill yang sesuai dengan tahap perkembangan.

"Jadi, akhirnya dicocokkan tuh sama tahapan perkembangan mereka di usia 1 sampai kelas 3 SD. Kebanyakan, mereka lebih banyak ke senang-senangnya, melatih motoriknya, kemudian mereka banyak bercerita, banyak baca-baca, banyak eksplorasi tempat. Kemudian, untuk yang kelas 4 sampai kelas 6 sudah mulai serius untuk menulisnya, udah mulai panjang. Pemikirannya udah mulai kompleks, udah mulai kritis, udah mulai ajeg gitu cara mereka berpikir," jelasnya.

Selain anak, ada juga kelas remaja berbasis project untuk anak SMP hingga SMA. Berbeda dengan anak, kelas remaja menjadi upaya untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian melalui proses menulis.

2. Bicara literasi dan cara membangun minat baca anak, orangtua wajib ambil peran!

Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)

Pandangan soal rendahnya minat baca anak masih ramai digaungkan hingga saat ini. Tak hanya soal kemauan, namun juga kemampuan membaca buku atau memahami suatu informasi yang masih minim, kerap menjadi sorotan atas persoalan literasi di Indonesia.

"Kalau saya melihat, anak-anak itu rendah minat bacanya karena memang pertama itu aksesnya. Jadi, mereka gak dapat buku. Kemudian yang kedua, itu mungkin karena bagaimana mereka dikenalkan dengan buku, dengan cara-cara yang menyenangkan, tidak semua lapisan masyarakat mendapatkan itu," ujarnya.

Maya optimis, pada dasarnya anak-anak memiliki ketertarikan terhadap dunia literasi. Hanya saja, persoalan ini perlu ditangani dengan membuka akses yang lebih luas agar anak dapat menjangkau bacaan secara lebih mudah. Selain itu, melakukan pendekatan yang lebih relevan, bisa jadi solusi untuk memperkenalkan dunia literasi.

Maya berpandangan terkait minat baca dan menulis anak, "Saya yakin bahwa sebetulnya anak-anak itu bukan rendah di kegemaran membacanya, tapi bagaimana mereka itu mungkin kurang dapat akses buku. Atau mungkin, mereka juga gak dapat pengalaman yang menyenangkan ketika membaca."

Maya menegaskan, orang dewasa sepatutnya mengambil peran dalam meningkatkan minat baca dan keterampilan terkait literasi untuk anak. Terlebih, orangtua adalah pihak terdekat untuk si kecil. Ayah, ibu, maupun orang dewasa di sekitar anak bisa memberi contoh untuk menularkan minat baca.

"Seharusnya, kita-kita sebagai orang dewasa yang ada di dekat dengan anak. Kita tuh yang jadi agen untuk mengenalkan mereka tentang membaca itu seru dan menyenangkan," sambungnya lagi.

Lebih lanjut, Maya berbagi pandangannya terkait peran orang dewasa terkait kegiatan literasi, "Jadi menurutku, mungkin kesadaran tentang pentingnya mengenalkan dunia membaca dengan cara-cara dan pendekatan yang menyenangkan itu, perlu disadari oleh orang-orang dewasa. Jangan melulu anak-anak 'disalahkan."

Dalam hal ini, Maya menekankan pentingnya keterlibatan orangtua. Sebaiknya, Ayah dan Ibu menerapkan kebiasaan membaca, menulis, dan berdialog untuk memberi gambaran bahwa dunia literasi begitu menyenangkan. Sebab, salah satu cara anak untuk belajar adalah dengan meniru orangtuanya.

Maya percaya, sejatinya, anak-anak selalu terbuka dengan bacaan. Pada dasarnya, mereka senang, antusias, dan bersuka cita ketika membaca maupun menuangkan ide melalui tulisan. Meskipun kegiatan membaca kerap diasumsikan sebagai kegiatan yang sepi dan sendiri karena memerlukan fokus untuk melakukannya, Maya menyebut kegiatan semacam ini bisa dikemas menjadi aktivitas kolektif.

"Sebetulnya, ada misi pribadi di mana saya ingin membuktikan bahwa sebetulnya anak-anak itu sebenarnya senang baca. Sebetulnya mereka itu suka sama buku, cuma gak ada yang mengenalkan ke mereka dengan cara-cara yang menyenangkan, dengan cara-cara yang seru, seperti main-main," tambah dia.

Membaca, menulis, dan berdiskusi sebagai bagian dari dunia literasi memiliki manfaat yang besar. Kegiatan ini dapat mengasah kemampuan berpikir, menciptakan kreativitas, serta menumbuhkan berbagai keuntungan lainnya.

3. Literasi dibangun dengan konsistensi, akses harus terbuka dan ada dukungan orangtua

Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)

Literasi sering kali hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, padahal maknanya lebih luas daripada itu. Dalam proses literasi, seseorang berupaya untuk menyusun, mengolah, dan membentuk pemahaman. Keterampilan inilah yang dapat membentuk cara seseorang melihat dan memaknai kehidupan. Menulis dan membaca menjadi bagian dari proses agar anak dapat melatih pikirannya menjadi lebih terstruktur serta berani mengekspresikan diri.

Maya berpendapat, "Kami merasa bahwa ternyata menulis itu merupakan cara bagaimana kita bisa mengasah kemampuan berpikir anak. Dengan menulis itu, ternyata anak bisa berkembang sesuai dengan potensi dirinya. Jadi dengan menulis, dia jadi percaya diri, ada anak yang dengan menulis, dia jadi bisa mengontrol emosinya."

Membentuk anak agar mencintai dunia literasi sejatinya adalah proses jangka panjang. Kegiatan ini dibentuk melalui kebiasaan yang dibangun secara konsisten. Menurut Maya, jika ingin mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan buah hati pada buku, maka orangtua juga harus menyukai membaca dulu

Maya beranggapan, mustahil bagi orangtua yang tidak suka baca, namun ingin anaknya senang membaca. Ini karena anak-anak tumbuh dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.

"Ketika orangtua itu tidak memberikan akses, tidak memberikan contoh, tidak menjadi pribadi yang juga pembaca atau pembelajar, anak-anak gak akan bisa dapat ketertarikan yang sama," jelas Maya.

Orangtua bisa mendampingi, melakukan diskusi buku, kemudian kids play. Proses ini harus menjadi kebiasaan sehingga tidak ada lagi anggapan bahwa membaca buku merupakan aktivitas sunyi, individual, dan membosankan.

4. Selain founder Klub Literasi Anak, Maya juga seorang penulis buku. Karyanya telah diterbitkan ke berbagai negara

Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)

Peran Maya di dunia literasi tidak berhenti sebagai pengagas klub buku saja. Demi memperluas dampak dan kontribusinya di dunia literasi, Maya juga menulis buku anak. Keputusan ini ditempuh agar ia dapat menjangkau lebih banyak anak. Ia menilai, buku dapat menjadi medium untuk bercerita, menumbuhkan imajinasi, dan meningkatkan kemampuan berpikir.

"Saya merasa, dengan terpapar cerita, mereka akan dapat banyak manfaat karena kan dongeng juga punya sejuta manfaat. Akhirnya, saya terpikir buku adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menjangkau banyak anak di luar sana," ceritanya.

Keputusan untuk menulis buku tidak datang dari latar belakang kepenulisan formal. Dengan bekal belajar secara mandiri, ia berupaya agar karya-karyanya dapat dinikmati oleh anak-anak.

"Buku bisa mengantarkan cerita ke banyak anak di luar sana. Dari situ, saya belajar otodidak, nulis buku, kemudian dikirim ke penerbit, terus diterima, kemudian diterbitkan," kenang Maya.

Respons positif yang diterima oleh Maya kian menguatkan langkahnya. Banyaknya orangtua dan anak yang menikmati karyanya, membuat ia semakin yakin bahwa buku memiliki kekuatan yang nyata dalam kehidupan seseorang. Maya yakin, cerita dapat memberi dampak koginitif hingga emosional.

"Aku merasa buku ini ternyata memang jadi peluru banget. Maksudnya itu peluru untuk kita bisa menjangkau semakin banyak anak-anak di luar sana," ujarnya.

Kerja keras dan keyakinan Maya membuahkan hasil. Kini, sudah lebih dari 100 buku yang ditulisnya. Bahkan beberapa buku telah diterjemahkan ke bahasa asing, seperti Bahasa Inggris, bahasa Thailand, dan bahasa Arab.

Bagi Nindia, kebahagiaan terbesar adalah melihat karyanya dinikmati oleh anak-anak, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Tak pernah disangka, pencapaian tersebut bisa turut meningkatkan kontribusinya yang mengabdi di jalur literasi anak.

Dengan antusias, Maya berbagi pandangannya, "Saya rasa buku se-powerful itu. Jadi ya udah, saya lebih fokus nulis buku untuk anak-anak dengan nilai-nilai yang lekat dengan pendidikan karakter, psikologi, dan pengembangan diri."

Melalui buku, Maya tak hanya menghadirkan cerita, namun juga menanamkan nilai dan empati kehidupan, terutama bagi anak-anak. Dapat dikatakan, literasi tak sekadar kemampuan membaca dan menulis, namun juga langkah untuk membentuk anak yang lebih berdaya.

5. Harapan untuk literasi Indonesia

Nindia Nurmayasari founder Klub Literasi Anak. (instagram.com/ Nindia Nurmayasari)

Literasi dibangun sebagai fondasi penting untuk tumbuh kembang anak. Dengan meningkatkan keterampilan membaca, menulis, hingga berkomunikasi, diharapkan individu dapat mencapai potensi terbaiknya. Maya menyampaikan, harapannya agar lebih banyak anak dapat merasakan manfaat dari membaca, menulis, berkomunikasi, dan punya kecakapan literasi.

Tentunya, Maya juga ingin akses terhadap buku semain mudah dijangkau. Pasalnya, ini menjadi langkah awal yang krusial untuk menciptakan ekosistem membaca yang komprehensif. Dengan aktivitas literasi yang semakin masif, Maya berharap manfaat dan keseruan dari kegiatan membaca buku dapat dirasakan oleh lebih banyak individu.

"Sebetulnya, melalui menulis itu kita mengasah kemampuan berpikirnya. Jadi, saya berharap dengan anak-anak yang punya kegemaran membaca, mereka latihan menulis sejak dini. Mereka punya kecakapan literasi yang baik sejak dini, itu mereka bisa menjadi pribadi yang lebih berkarakter, lebih berdaya. Karena dengan mereka punya kemampuan berpikir yang tajam, yang dalam, mereka bisa membawa diri mereka nanti ke mana saja, bisa punya banyak pilihan, melakukan perubahan, perbaikan, bisa menyebarkan kebermanfaatan," jelas dia.

Lebih jauh, Maya juga berharap agar ekosistem membaca dapat terbangun lebih kuat. Tidak hanya ditujukan bagi anak-anak, namun Maya juga menekankan peran penting orang dewasa di sekitar anak, baik orangtua, pendidik, maupun masyarakat umum.

Untuk masyarakat, Maya berharap ada kontribusi atau keterlibaran lebih besar terkait literasi, "Karena kita juga punya kendali untuk mengenalkan anak-anak tentang membaca, menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sejak dini ke anak-anak. Kita seharusnya bisa berbuat lebih," dikatakannya.

Kontribusi tersebut tentu dapat dituangkan melalui ketertarikan dan kegemaran akan literasi. Dengan menjadikan bacaan sebagai bagian dari kehidupan, orang dewasa dapat menghadirkan literasi sebagai pengalaman yang menyenangkan, bukan beban atau kewajiban.

"Kalau kita ingin membuat anak-anak itu suka membaca, punya kecintaan literasi yang tinggi, mereka gak bisa sendirian. Mereka butuh orang dewasa di sekitarnya untuk ambil peran itu," pungkas Maya

Sebagai penutup, Maya mengajak agar seluruh elemen masyarakat agar lebih gencar mengambil peran terkait dengan literasi. Sama-sama menumbuhkan kecintaan anak terhadap dunia literasi dengan jadi pribadi pembaca. Orang dewasa juga bisa jadi pribadi yang bisa mengenalkan bahwa kegiatan baca, tulis, dan diskusi sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk anak-anak

Editorial Team