ilustrasi mendengar ceramah tarawih (pexels.com/Masjid Pogung Rayal)
Jamaah yang dimuliakan Allah, istikamah berarti teguh dan konsisten dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Istikamah bukan hanya tentang semangat sesaat, tetapi tentang kemampuan menjaga komitmen dalam jangka waktu yang panjang. Begitu juga dengan bulan suci ini, Ramadan bukan perlombaan cepat selesai dalam beberapa hari, tetapi perjalanan selama sebulan penuh yang membutuhkan ketahanan iman.
Sering kali kita begitu bersemangat di awal Ramadan dalam membuat target tinggi, seperti khatam Al-Qur’an, selalu tepat waktu dalam mengerjakan salat, atau rutin menjalankan salat-salat sunah lainnya. Apa yang ditargetkan tersebut baik. Namun tanpa istikamah, semangat tersebut bisa menurun sebelum Ramadan berakhir. Padahal, amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit, seperti hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Dari Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: ‘amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 6455).
Maka dari itu, pada malam ini, mari kita mengevaluasi diri untuk terus beristikamah dalam menjalankan ibadah Ramadan. Ramadan masih panjang dan janganlah kita kehabisan tenaga di awal dan pertengahan bulan suci ini. Jadikan malam keenam ini sebagai pengingat bahwa kemenangan Ramadan bukan hanya milik mereka yang semangat di awal saja, tetapi milik mereka yang mampu bertahan hingga akhir.