Pembukaan:
Alhamdulillahi-ladzi an‘ama ‘alaina bini‘am la tuhsaa, wa subhanal-ladzi asra bi‘abdihi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam minal masjidil haram ilal masjidil aqsha, wa ‘araja bihi bi shuhbati Jibrilil amin ilas samawati-l ‘ula.
Asyhadu an la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, dzul asma’i-l husna, wa asyhadu anna sayyidana Muhammad ‘abduhu wa rasuluhu, shahibu-l huda. Allahumma solli wa sallim ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadil Musthafa, wa ‘ala alihi wa ashabihi nujumid duja, wat tabi‘in wa tabi‘iihim bi ihsan ila yaumil jazai-l kubra.
Amma ba‘du:
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena hanya dengan itulah kita akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.
Kemuliaan Bulan Rajab:
Hadirin rahimakumullah,
Saat ini kita berada di bulan yang agung, yaitu bulan Rajab. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Allah berfirman:
"Inna ‘iddatal syuhur ‘indallahi itsna ‘asyar syahran fi kitabillahi yawma khalaqas samawati wal-ardh, minhaa arba‘atu hurum" (QS At-Taubah: 36)
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan sebagaimana telah ditetapkan Allah pada waktu menciptakan langit dan bumi, di antara dua belas bulan tersebut terdapat empat bulan yang mulia."
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"As-sanatu itsna ‘asyar syahran, minhaa arba‘atu hurum: tsalatsatu mutawaliyat dzul qa‘dah, dzul hijjah, al-muharram, wa rajab mudhori alladzi baina jumada wa sya‘ban" (Shahih Bukhari 1599)
"Satu tahun itu dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan mulia. Tiga berurutan yaitu Dzul Qa‘dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan keempat adalah bulan Rajabnya Qabilah Mudhor yang berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban."
Peristiwa Isra’ Mi’raj:
Hadirin rahimakumullah,
Bukti kemuliaan bulan Rajab terlihat pada peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat pertama. Menurut Imam Nawawi Al-Bantani:
"Al-masyhur kaana dzalika lailatal itsnaini lailatas sab‘i wal ‘isyri min syahri Rajab qablal hijrah bisanah"
"Menurut pendapat yang populer, peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam Senin, malam kedua puluh tujuh bulan Rajab, satu tahun sebelum Hijrah Nabi SAW."
Peristiwa ini menjadi momentum turunnya syariat sholat lima waktu, sehingga bulan Rajab juga menjadi bulan turunnya syariat sholat.
Aspek Syariat dan Hakikat:
Hadirin rahimakumullah,
Dalam syariat Islam, semua ibadah akan sempurna jika memenuhi dua unsur, yaitu unsur lahir (syariat) dan unsur batin (hakikat). Hal ini juga berlaku dalam memahami Isra’ Mi’raj. Syeikh ‘Ali Al-Qari Al-Harawi Al-Makki menjelaskan:
Kana li Rasulillahi mi‘rajan: mi‘raj fi ‘alamil hissi minal masjidil haram ilal masjidil aqsha, thumma ilal ‘alamil malakut wa mahalil mala’il a‘la; wa mi‘raj fi ‘alamil arwah minasy syahadah ilal ghayb, wa minal ghaybi ilal ghaybi-l ghayb. Falammaa arada an yarji‘a qala rabbul tabaaraka wa ta‘ala: 'Al-musafiru idza ‘aada ila watanihi athfasa ahsabah, wa inna tuhfat umatika ash-sholatu al-jami‘ah bainal mi‘rajayni-l jismiyyu bil-adab wal-af‘al, wa-r-ruhaniyyu bil-adzkar wal-ahwal (Marqaatul Miftaah 1/108)
Artinya: "Nabi SAW mengalami dua peristiwa Isra’ Mi’raj sekaligus, pertama secara jasmani (perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke alam malakut dan Malail A’la), kedua secara ruhani (perjalanan ruh dari alam syahadah menuju alam ghaib). Ketika kembali, Allah berfirman: “Oleh-oleh untuk umatmu adalah sholat yang menggabungkan dua Mi’raj: jasmani dengan gerakan dan adab, serta ruhani dengan dzikir dan akhlak.”
Makna Salat dalam Isra Mikraj:
Hadirin rahimakumullah,
Perjalanan ruhani ini mengajarkan bahwa nilai sholat ditentukan unsur batin, yaitu penghayatan dan kesungguhan hati. Nabi SAW bersabda:
"Innal ‘abda layusolli-sh sholata la yuktabu lahu sudusuha wa la ‘usruha, innama yuktabu lil ‘abdi min sholatihi ma ‘aqala minha" (Ihya’ ‘Ulumiddin 1/147)
"Seseorang yang salat, bukan seper-enam atau sepersepuluh sholatnya yang dicatat, tetapi yang dicatat adalah kadar penghayatan dan kesadarannya dalam salat."
Penutup Khotbah :
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Semoga memahami peristiwa Isra Mikraj ini menambah iman dan hidayah kita, sehingga ibadah sholat dapat dilaksanakan dengan sempurna. Amin ya robbal ‘alamin.