Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Dasar Skill Menulis yang Sering Diremehkan, Padahal Penting!

ilustrasi menulis di laptop (unsplash.com/Kenny Eliason)
ilustrasi menulis di laptop (unsplash.com/Kenny Eliason)
Intinya sih...
  • Kejelasan tujuan menulis: Tulisan harus memiliki tujuan yang jelas agar fokus dan jujur pada pembaca.
  • Kemampuan menyusun alur logis: Alur logis membuat pembaca merasa dituntun, bukan dipaksa.
  • Kepekaan terhadap pembaca: Pemilihan bahasa yang akrab bagi pembaca dan menjelaskan konsep tanpa merendahkan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mengira kemampuan menulis hanya soal bakat atau seberapa indah pilihan kata yang digunakan. Padahal, di balik tulisan yang enak dibaca dan terasa mengalir, ada dasar-dasar skill menulis yang kerap luput diperhatikan. Ironisnya, justru skill inilah yang menentukan apakah sebuah tulisan bisa dipahami, dipercaya, dan dinikmati pembaca.

Tidak jarang, penulis terjebak mengejar gaya, diksi puitis. Atau struktur rumit, namun melupakan fondasi paling mendasar. Akibatnya, tulisan terasa berat, membingungkan, atau kehilangan tujuan. Terdapat lima dasar skill menulis yang sering diremehkan, padahal perannya sangat krusial. Apa sajakah itu?

1. Kejelasan tujuan menulis

ilustrasi mengetik (pexels.com/Cottonbro studio)
ilustrasi mengetik (pexels.com/Cottonbro studio)

Banyak tulisan gagal bukan karena bahasanya buruk. Tetapi karena penulisnya sendiri tidak jelas ingin membawa pembaca ke mana. Apakah tulisan itu bertujuan menginformasikan, mengajak, menghibur, atau merefleksikan sesuatu.

Tanpa tujuan yang tegas, tulisan akan mudah melebar dan kehilangan arah. Kejelasan tujuan membantu penulis menentukan sudut pandang, gaya bahasa, hingga informasi apa yang perlu disertakan atau justru dihilangkan. Tulisan dengan tujuan yang jelas terasa lebih fokus dan jujur pada pembaca.

2. Kemampuan menyusun alur logis

ilustrasi mengetik (pexels.com/Vlada Karpovich)
ilustrasi mengetik (pexels.com/Vlada Karpovich)

Skill menulis sering dianggap otomatis akan terbentuk seiring waktu. Padahal untuk mengasah keterampilan menulis perlu kesadaran dan latihan. Alur logis bukan berarti tulisan harus kaku atau akademis, melainkan gagasan disampaikan secara runtut dan mudah diikuti.

Banyak tulisan yang ide-idenya menarik, tetapi terasa melelahkan karena loncat-loncat. Pembaca dipaksa menebak hubungan antar paragraf atau mengulang kalimat untuk memahami maksud penulis. Padahal, alur yang baik membuat pembaca merasa dituntun, bukan dipaksa.

3. Kepekaan terhadap pembaca

ilustrasi menulis (pexels.com/Vlada Karpovich)
ilustrasi menulis (pexels.com/Vlada Karpovich)

Menulis bukan aktivitas sepihak. Sayangnya, banyak penulis terlalu larut dengan sudut pandangnya sendiri. Mereka lupa mempertimbangkan siapa yang akan membaca tulisannya. Kepekaan terhadap pembaca mencakup pemilihan bahasa, contoh, hingga kedalaman pembahasan.

Tulisan yang baik mampu berempati menggunakan istilah yang akrab bagi pembaca. Juga menjelaskan konsep tanpa merendahkan, dan tidak mengasumsikan semua orang memiliki pengetahuan yang sama. Skill ini sering diremehkan karena dianggap sebagai urusan teknis, padahal dampaknya sangat besar pada kenyamanan membaca.

4. Ketepatan memilih kata sederhana

ilustrasi mengetik (pexels.com/Vanessa Garcia)
ilustrasi mengetik (pexels.com/Vanessa Garcia)

Banyak orang mengira tulisan yang bagus harus dipenuhi kata-kata rumit dan terdengar intelektual. Padahal, salah satu skill menulis paling penting justru kemampuan memilih kata sederhana yang tepat. Kesederhanaan bukan berarti dangkal.

Kata-kata yang lugas dan jelas membantu pesan tersampaikan tanpa hambatan. Menyederhanakan bahasa membutuhkan kejelian memilih diksi yang tepat, tidak berlebihan, dan sesuai konteks. Menulis sederhana menuntut pemahaman yang matang atas apa yang ingin disampaikan.

5. Konsistensi nada dan gaya

ilustrasi menulis di laptop (unsplash.com/Justin Morgan)
ilustrasi menulis di laptop (unsplash.com/Justin Morgan)

Nada dan gaya tulisan sering dianggap sebagai aksesoris. Padahal konsistensi keduanya menentukan identitas dan kenyamanan membaca. Tulisan yang tiba-tiba berubah dari santai ke formal, atau dari reflektif ke menggurui, dapat mengganggu ritme pembaca.

Konsistensi membantu pembaca menyesuaikan ekspektasi sejak awal. Apakah tulisan ini personal, informatif, atau persuasif. Saat gaya dan nada terjaga, pembaca merasa aman dan tidak perlu terus beradaptasi.

Menulis bukan hanya soal seberapa banyak kata yang bisa dirangkai. Melainkan seberapa baik pesan bisa sampai ke pembaca. Lima dasar skill di atas mungkin tidak terdengar spektakuler. Tetapi justru menjadi fondasi dari tulisan yang kuat, jujur, dan berdaya guna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Life

See More

5 MBTI yang Betah Lakukan Kegiatan Outdoor, Nyaman di Alam Terbuka

23 Jan 2026, 07:15 WIBLife