Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Sebab Kenapa Kamu Sering Membuat Harapan yang Gak Realistis

6 Sebab Kenapa Kamu Sering Membuat Harapan yang Gak Realistis
ilustrasi seseorang berharap (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Harapan adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Punya harapan tentunya akan memberi dampak positif dalam hidup ini. Walaupun terkadang, ada dampak negatifnya juga kalau kamu gak bisa mengontrol harapan tersebut dengan baik.

Harapan bisa memberikan kamu tujuan, motivasi, dan mimpi yang indah. Namun, terkadang kamu cenderung membentuk harapan yang gak realistis.

Sebenarnya, itu adalah masalah yang umum dihadapi banyak orang dan bisa berdampak negatif pada kesejahteraan emosional dan hubungan dengan orang lain. Untuk mengatasinya, kamu tentu perlu mencari tahu penyebab munculnya harapan yang gak realistis tersebut. Berikut enam di antaranya.

1. Pengaruh media sosial

ilustrasi seseorang kecanduan medsos (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi seseorang kecanduan medsos (pexels.com/Pixabay)

Salah satu penyebab utama pembentukan harapan yang gak realistis adalah pengaruh media sosial. Media sosial sering kali menampilkan kehidupan yang seolah sempurna. Padahal sebenarnya itu hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

Kamu melihat orang lain berlibur, punya barang mewah, atau punya hubungan yang bahagia. Lalu, kamu mengira bahwa semua orang sebahagia itu, padahal sebenarnya tidak demikian.

Selain itu, film, acara TV, dan musik juga sering menggambarkan cerita-cerita yang gak realistis tentang kehidupan serta cinta. Semua ini akhirnya bisa menciptakan harapan yang gak realistis, soal apa yang seharusnya kamu miliki atau rasakan dalam hidupmu.

2. Perbandingan sosial

ilustrasi iri (freepik.com/freepic.diller)
ilustrasi iri (freepik.com/freepic.diller)

Perbandingan sosial adalah kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Apa kamu pernah melakukannya? Ketika melihat teman, keluarga, atau bahkan orang asing yang seakan-akan punya segalanya, kamu jadi cenderung merasa kurang puas dengan hidupmu sendiri.

Ini akhirnya bisa mengarah pada pembentukan harapan yang gak realistis, bahwa kamu harus punya hal yang sama, bahkan lebih baik daripada yang dimiliki olehnya. Perbandingan sosial bisa merusak harga dirimu dan memicu rasa gak puas yang gak sehat, lho.

3. Tekanan dari lingkungan sekitar

ilustrasi seseorang takut gagal (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi seseorang takut gagal (pexels.com/MART PRODUCTION)

Lingkungan sosialmu, termasuk teman-teman, keluarga, dan rekan kerja, juga bisa memberikan tekanan secara gak langsung. Supaya kamu memenuhi harapan yang sebenarnya gak realistis.

Mungkin teman-temanmu sudah mencapai pencapaian tertentu dalam hidup mereka. Alhasil, kamu jadi merasa perlu untuk melakukan hal yang sama. Mungkin juga keluargamu mungkin punya harapan tertentu, soal apa yang seharusnya kamu capai. Tekanan ini bisa banget bikin kamu merasa perlu untuk mencapai standar yang gak realistis, demi persetujuan sosial atau demi validasi semata.

4. Pengalaman masa lalu

ilustrasi tidak memiliki tujuan (pexels.com/Dana Tentis)
ilustrasi tidak memiliki tujuan (pexels.com/Dana Tentis)

Pengalaman masa lalu juga bisa menjadi penyebab pembentukan harapan yang gak realistis, lho. Jika pernah merasa kecewa atau mengalami kegagalan dalam hidup atau hubungan sebelumnya, kamu mungkin jadi mengembangkan harapan yang sangat tinggi, sebagai reaksi terhadap pengalaman tersebut.

Kamu mungkin jadi berpikir bahwa kali ini harus sempurna dan gak boleh ada kesalahan. Namun, harapan semacam ini bisa mengarah pada stres dan kekecewaan yang berlebihan, lho.

5. Kecenderungan untuk berkhayal

ilustrasi seseorang berkhayal (pexels.com/Cup of Couple)
ilustrasi seseorang berkhayal (pexels.com/Cup of Couple)

Sebagian orang punya kecenderungan untuk membiarkan khayalan mereka mengambil alih kenyataan. Jika di situasi ini, kamu mungkin membayangkan skenario yang sempurna dalam hidup atau hubunganmu, tanpa mempertimbangkan kenyataan yang kompleks.

Ini adalah bentuk lain dari harapan yang gak realistis. Meskipun punya impian dan ekspektasi adalah hal yang baik, tapi kamu juga harus tetap berpegang pada realitas dan menerima, bahwa memang gak ada yang sempurna.

6. Gak punya rencana yang jelas

ilustrasi salah personal branding (pexels.com/Moose Photos)
ilustrasi salah personal branding (pexels.com/Moose Photos)

Sering kali, ketika kamu gak punya rencana yang jelas dalam hidup, kamu akan cenderung membentuk harapan yang gak realistis. Tanpa rencana atau tujuan yang nyata, kamu bisa saja terjebak dalam pemikiran, bahwa segalanya akan berjalan dengan sendirinya. Di mana dirimu akan mencapai kebahagiaan, tanpa usaha yang signifikan.

Hati-hati, ya, ini bisa jadi bumerang bagi dirimu sendiri. Sebab, kamu akan merasa frustrasi dan kecewa ketika kenyataan gak sesuai dengan harapan. Mengatasi harapan yang gak realistis adalah langkah penting dalam mencapai kesejahteraan emosional dan hubungan yang sehat.

Kamu perlu menyadari bahwa harapanmu gak realistis. Cobalah untuk memahami dari mana harapan tersebut berasal dan kenapa kamu merasakannya. Berbicaralah dengan teman, keluarga, atau pasanganmu soap harapan serta tekanan yang kamu rasakan.

Jangan lupa, praktikkan mindfulness atau kesadaran diri untuk tetap terhubung dengan kenyataan. Ini bisa membantumu menghindari terlalu terbawa oleh khayalan dan ekspektasi yang gak realistis. Sebab, bagaimanapun juga punya harapan yang gak realistis adalah hal yang umum. Namun, bisa berdampak negatif pada kesejahteraan emosional dan juga hubunganmu.

Penting banget untuk mengenali sebab-sebab terbentuknya harapan semacam ini dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya. Jadi, hidupmu bisa lebih tenang dan bahagia. Apakah kamu juga punya harapan yang tidak realisitis?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Desy Damayanti
EditorDesy Damayanti
Follow Us