Exclusive interview IDN Times dengan Salma Ranggita pada Selasa (23/12/25) di IDN HQ, Jakarta Selatan. (IDN Times/Nisa Zarawaki)
Keputusan Salma untuk terjun ke kontes kecantikan bukan lahir tanpa sebab. Dengan melakoni peran sebagai Miss Cosmo Indonesia 2025, Ia yakin suaranya akan menggema lebih lantang. Didengar tak hanya bagi anak muda Indonesia, tetapi juga menembuh kancah internasional.
Mengikuti ajang Puteri Indonesia menjadi strategi Salma untuk dapat berkontribusi lebih besar terhadap masyarakat. Baginya, beauty peagent tak hanya menobatkannya sebuah gelar baru, melainkan akan menjadi mandat untuknya bisa lebih vokal membicarakan isu struktural.
Meski terdengar tak berhubungan, ajang kecantikan dan background-nya sbagai engineer ternyata dapat berjalan selaras. Salma membuktikan bahwa kedua hal ini dapat saling mendukung. Cara berpikir yang dipelajarinya semasa kuliah, diterapkan menjadi sebuah rancangan jangka panjang ketika mengikuti kontestasi Puteri Indonesia.
Saat menempuh pendidikan di jurusan Materials and Metallurgical Engineering, Ia terbiasa berpikir untuk mencari inovasi dengan memetakan masalah paling mendasar. Kerangka berpikir tersebut diterapkan sebagai alat untuk menciptakan dan mendorong perubahan dalam masyarakat
"I learn so much, cara mengolah barang mentah jadi barang jadi. Jadi, specifically If we're talking about how the future industry is gonna work and everything, how the climate is gonna affect the human, how it's gonna affect the infrastructure, I learn rigorously dari awal sampai akhir," tuturnya.
Hal inilah yang kemudian diadaptasi Salma ketika terjun ke dunia pageant. “Jadi memang jurusan ini, mendorong aku untuk mempelajari dari hulu ke hilir sehingga menurut aku, in order for us to create the impact, we have the knowledge to actually bring the changes," akunya.
Sayangnya, Salma menyoroti adanya kesenjangan antara anak muda yang memiliki kesadaran akan konteks perubahan dengan mereka yang masih abai terhadap isu-isu di sekitarnya. Kesadaran publik terutama bagi generasi muda, belum sepenuhnya terbentuk. Padahal, sejumlah target nasional memerlukan upaya kolektif dari berbagai pihak. Tanpa pemahaman atas persoalan akar rumput, visi besar Indonesia maupun dunia internasional akan sulit terealisasikan.
“Tetapi permasalahan terbesarnya adalah pertama, those representations (anak muda) itu masih belum banyak. It can be seen by my own concern, di mana mungkin dulu pas zaman kuliah, belum terlalu banyak orang juga yang melek terhadap isu-isu yang terjadi secara nasional ataupun di internasional," terang Salma.
Tanpa kesadaran, generasi muda tidak merasa memiliki sense of belonging untuk menuntaskan problem tersebut. Apalagi, turut berkontribusi pada negara untuk mewujudkan mimpi besar yang progresif. Urgensi ini perlu dipahami sepenuhnya, terutama bagi anak muda yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa depan.
Di bangku kuliah, langkah pertama yang ditempuh oleh Salma adalah terlibat dalam organisasi riset di kampus. “Jadi, for me adalah you have to empower the youth first for them to actually move and to create the changes. Dan dari concern itu, akhirnya muncullah di Jurusan Teknik Meteorologi Material itu, I decided to get out of my comfort zone, to actually lead of the communities, di situ yang biasanya dipimpin oleh laki-laki,” kenang dia.
Dari langkah kecil penuh keberanian tersebut, perjalanan Salma semakin terbuka. Ia terus berupaya untuk memperluas kebermanfaatan, menjadi representasi perempuan di posisi kepemimpinan, serta mengambil peran lebih besar. Dengan menduduki posisi strategis, fokus advokasi seperti pemberdayaan perempuan, women in STEM, hingga sustanability akan didengar lebih banyak orang.
Salma bertekad untuk mengikuti ajang kecantikan ini demi menyuarakan gagasan, nilai, dan pemberdayaan yang ia yakini perlu diperjuangkan. Melawan ketakutan, mendobrak persepsi, menguatkan diri, Salma akhirnya dinobatkan sebagai Puteri Pariwisata 2025. Suaranya kini tak hanya didengar oleh kelompok kecil, namun bisa diadvokasi hingga ke level yang lebih besar.
“Dan itulah alasan mengapa aku ingin melangkah ke skala yang lebih besar, skala yang lebih luas, sehingga aku memilih dunia pageant meskipun sebelumnya aku tidak memiliki pengalaman di bidang tersebut. Pada awalnya, aku merasa takut karena kita tahu bahwa pageantry kerap identik dengan gemerlap dan glamor. Namun, aku melihat pageant sebagai sebuah platform untuk menjadi berdaya sekaligus memberdayakan perempuan. Aku mengetahui dengan jelas tujuanku, bahwa aku memiliki suara yang perlu disampaikan kepada dunia,” Salma berkisah.