ilustrasi fitnah (pexels.com/olia danilevich)
Ketika menerima kritik, fokus pembicaraan biasanya berada pada tindakan tertentu. Seseorang bisa dikritik karena terlambat, kurang teliti, atau mengambil keputusan yang dianggap kurang pas. Hal-hal seperti itu masih berkaitan dengan sesuatu yang dapat diperbaiki seseorang.
Berbeda dengan tuduhan yang tidak benar atau fitnah. Dalam banyak kasus, yang dipersoalkan bukan lagi satu perbuatan, melainkan kesan tentang diri seseorang secara keseluruhan. Ada yang mendadak dicap tidak dapat dipercaya, dianggap memiliki niat buruk, atau dinilai berdasarkan cerita yang belum tentu sesuai kebenarannya. Padahal, citra diri sering dibangun melalui waktu yang panjang dan pengalaman yang tidak sedikit. Karena itulah, rasa sakit akibat fitnah kerap terasa lebih membekas dibandingkan kritik yang hanya menyoroti satu tindakan.
Walau bagi beberapa orang difitnah terasa lebih menyakitkan daripada dikritik, tetapi keduanya sama-sama menimbulkan ketidaknyamanan. Meski begitu, keduanya meninggalkan dampak yang berbeda. Kritik masih memberi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu, sedangkan fitnah sering memaksa seseorang menghadapi cerita yang tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya. Jika berada di posisi tersebut, mana yang menurutmu lebih sulit dihadapi, apakah kritik yang menyakitkan atau fitnah yang sama sekali tidak benar?