Doom Spending atau Impulsive Buying, Kamu Termasuk yang Mana?

- Impulsive buying muncul karena dorongan spontan terhadap produk menarik, sedangkan doom spending dipicu oleh stres atau kecemasan yang mendorong seseorang berbelanja untuk mencari ketenangan emosional.
- Tujuan impulsive buying adalah memuaskan keinginan sesaat, sementara doom spending digunakan sebagai pelarian dari tekanan emosional yang belum terselesaikan sehingga cenderung berulang.
- Doom spending lebih berisiko bagi keuangan karena terjadi terus-menerus saat emosi tidak stabil, sedangkan impulsive buying bisa dikendalikan dengan jeda dan perencanaan belanja yang rasional.
Sekilas, impulsive buying dan doom spending terlihat serupa karena sama-sama berkaitan dengan kebiasaan membeli barang tanpa banyak pertimbangan. Padahal, keduanya memiliki pola yang berbeda. Memahami perbedaannya penting agar kamu dapat mengenali kebiasaan belanja sendiri sekaligus menentukan cara yang tepat untuk mengendalikannya.
Impulsive buying umumnya terjadi karena dorongan sesaat saat melihat barang yang menarik. Sementara itu, doom spending lebih berkaitan dengan kondisi emosional dan rasa cemas terhadap berbagai ketidakpastian. Lebih lengkapnya, berikut beberapa perbedaan mendasar yang bisa kamu ketahui.
1. Penyebab munculnya keinginan belanja

Impulsive buying biasanya dipicu oleh rangsangan yang datang secara langsung, misalnya melihat diskon besar, kemasan yang menarik, atau promosi dengan waktu terbatas. Keputusan membeli muncul dalam hitungan menit karena rasa tertarik terhadap produk tersebut. Fokus utamanya berada pada barang yang sedang dilihat.
Berbeda dengan itu, doom spending berawal dari kondisi emosional yang sedang tidak stabil. Rasa cemas, stres, atau khawatir terhadap masa depan membuat seseorang mencari pelampiasan melalui aktivitas belanja. Barang yang dibeli menjadi sarana untuk memperoleh rasa lega, meskipun hanya sementara.
2. Tujuan di balik aktivitas belanja

Pada impulsive buying, tujuan utamanya adalah memenuhi keinginan yang muncul secara spontan. Seseorang membeli karena merasa produk tersebut menarik atau sayang untuk dilewatkan. Setelah transaksi selesai, aktivitas belanja biasanya langsung berakhir.
Sementara itu, doom spending lebih bertujuan mengurangi tekanan emosional. Proses membeli menjadi cara untuk mengalihkan pikiran dari rasa tidak nyaman yang sedang dirasakan. Karena penyebab utamanya belum terselesaikan, dorongan berbelanja dapat muncul kembali dalam waktu yang tidak lama.
3. Pola yang terbentuk

Impulsive buying dapat terjadi sesekali tanpa menjadi kebiasaan yang terus berulang. Misalnya, seseorang membeli camilan atau aksesori tanpa pikir panjang saat sedang berjalan di pusat perbelanjaan. Selama masih berada dalam batas kemampuan finansial, perilaku ini belum tentu menimbulkan masalah yang serius.
Sebaliknya, doom spending membentuk pola yang lebih berulang karena berkaitan dengan cara seseorang menghadapi tekanan. Setiap kali muncul rasa cemas atau stres, belanja kembali dipilih sebagai pelarian. Akibatnya, kebiasaan tersebut lebih berisiko memengaruhi kondisi keuangan dalam jangka panjang.
4. Dampaknya terhadap Keuangan

Dampak impulsive buying sangat bergantung pada frekuensi dan nilai transaksi yang dilakukan. Pembelian spontan sesekali mungkin hanya mengurangi anggaran hiburan tanpa memberikan pengaruh yang besar. Namun, kebiasaan ini tetap perlu dikendalikan agar tidak semakin sering terjadi.
Pada doom spending, risiko finansial biasanya lebih besar karena pengeluaran dapat berlangsung berulang dalam situasi emosional yang sama. Penggunaan uang menjadi lebih sulit dikontrol dan dapat mengganggu tabungan maupun kebutuhan penting lainnya. Jika terus dibiarkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan finansial.
5. Cara mengatasinya

Mengurangi impulsive buying dapat dimulai dengan memberi jeda sebelum melakukan pembayaran. Membuat daftar belanja dan menghindari keputusan yang terburu-buru juga membantu menahan pembelian yang tidak direncanakan. Langkah ini membuat keputusan belanja menjadi lebih rasional.
Penanganan doom spending perlu dimulai dengan mengenali sumber stres atau kecemasan yang memicu kebiasaan tersebut. Setelah penyebabnya dipahami, carilah cara lain untuk mengelola emosi, seperti berolahraga, berbicara dengan orang tepercaya, menulis jurnal, atau melakukan hobi yang disukai. Dengan begitu, belanja tidak lagi menjadi satu-satunya pelarian saat menghadapi tekanan.
Meskipun sama-sama berkaitan dengan keputusan belanja yang kurang terencana, impulsive buying dan doom spending memiliki penyebab, pola, serta dampak yang berbeda. Memahami perbedaan tersebut akan membantumu lebih peka terhadap alasan di balik setiap transaksi yang dilakukan. Dari sana, kamu dapat membangun kebiasaan belanja yang lebih sehat dan sesuai dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai.











![[QUIZ] Isi Keranjang Belanja Online Bongkar Kepribadian Konsumtif Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250807/growtika-zk2sfqajgdu-unsplash_26102330-80fb-47a8-9ee0-b73cb1b85a29.jpg)
![[QUIZ] Kamu Introvert Bertopeng Ekstrovert atau Sebaliknya?](https://image.idntimes.com/post/20251213/1000002878_cd0b4faf-d52f-4e2f-87b1-4ce2b20e6af1.jpg)
![[QUIZ] Kamu Punya Energi Sepanas Matahari atau Sehangat Bulan?](https://image.idntimes.com/post/20260309/7_ac9d8b6c-ce9a-4d74-b446-17be311ac004.jpg)








