Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Doom Spending Sulit Dihentikan meski Dompet Menipis?
ilustrasi doom spending (pexels.com/Shoper .pl)
  • Doom spending muncul karena dorongan emosional untuk mencari rasa lega dan kepuasan instan lewat belanja, meski kondisi keuangan sedang tidak stabil.
  • Kebiasaan ini diperkuat oleh pengeluaran kecil yang sering diabaikan, kebiasaan self-reward berlebihan, serta kemudahan transaksi digital yang membuat keputusan belanja makin impulsif.
  • Sensasi menunggu paket dan ilusi kendali dari aktivitas belanja menciptakan siklus candu emosional yang sulit dihentikan meskipun saldo tabungan terus menipis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu mengeluh saldo tabungan tinggal sedikit, namun tangan tetap saja gatal menekan tombol check out atau memesan makanan yang harganya jelas melebihi bujet? Fenomena ini disebut dengan istilah doom spending, yaitu dorongan impulsif untuk terus membelanjakan uang tanpa kendali meskipun kamu sadar betul bahwa kondisi keuanganmu saat itu sedang tidak baik-baik saja.

Kebiasaan ini sebenarnya bukan karena kamu butuh barangnya, melainkan karena kamu mencari rasa lega dan kepuasan instan setelah berhasil berbelanja. Alasan inilah yang membuat kamu gampang mengulangi kebiasaan ini, bahkan ketika melihat mutasi rekening yang sukses bikin senam jantung. Yuk, simak alasan mengapa doom spending sulit dihentikan meski dompet menipis!

1. Pengeluaran kecil yang sering menipu

ilustrasi beli kopi (pexels.com/Malidate Van)

Jarang ada orang yang mendadak menguras tabungan jutaan rupiah tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Kebocoran finansial justru sering terjadi lewat hal-hal kecil yang tidak disadari dalam aktivitas sehari-hari. Contoh nyatanya seperti membeli kopi kekinian sebelum kerja, mampir beli camilan di minimarket, atau iseng memesan makanan manis lewat aplikasi pesan antar.

Karena nominalnya kecil, pengeluaran tersebut sering dianggap aman dan tidak akan merusak anggaran bulanan. Masalahnya, kebiasaan ini terus berulang setiap hari dengan berbagai alasan pembenaran yang baru. Kamu pun akhirnya terkejut sendiri saat melihat rekap transaksi akhir bulan yang membengkak akibat akumulasi jajan receh tersebut.

2. Belanja sebagai bentuk apresiasi diri

ilustrasi self reward (unsplash.com/Jacek Dylag)

Banyak orang terjebak dalam siklus self-reward setiap kali melewati hari yang berat. Pulang lembur dari kantor, langsung muncul keinginan beli makanan kekinian yang sedang viral. Bahkan tidak jarang kaki kamu otomatis mampir ke mal demi merayakan keberhasilan karena berhasil bertahan melewati tekanan hari itu.

Wajar saja, kok, kalau kamu ingin memanjakan diri sesekali sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras yang sudah kamu lakukan. Namun jika setiap rasa lelah dan stres selalu ditebus dengan belanja atau bahkan beli ini itu, kebiasaan ini akan menjadi lingkaran setan. Ujung-ujungnya, dompetmu yang harus menanggung beban berat dari setiap hari yang terasa melelahkan.

3. Efek kemudahan transaksi digital

ilustrasi pembayaran QRIS (pexels.com/ iMin Technology)

Teknologi masa kini membuat aktivitas belanja tidak lagi membutuhkan usaha yang besar seperti dulu. Cukup lihat barang menarik di media sosial, masukkan ke keranjang, lalu bayar secara instan menggunakan aplikasi. Seluruh proses transaksi jual beli tersebut bisa selesai dalam hitungan detik saja.

Kemudahan yang serba cepat ini sayangnya menghilangkan jeda waktu bagi otak untuk berpikir jernih tentang penting tidaknya barang itu. Berbeda dengan era dulu saat harus datang ke toko, bahkan masih ada waktu selama perjalanan yang bisa meredam keinginan impulsif. Sekarang keputusan membeli sesuatu sudah selesai bahkan sebelum keinginan itu sempat mereda. Begitu suka, langsung beli saja.

4. Candu saat menunggu paket tiba

ilustrasi kurir (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Banyak orang sebenarnya lebih menikmati sensasi menunggu paket diantarkan kurir ketimbang saat menggunakan barangnya. Setiap kali muncul notifikasi pengiriman barang, tubuh kita seolah mendapatkan suntikan rasa senang yang membuat ketagihan. Kehadiran kurir di depan rumah menjadi momen yang paling dinantikan sepanjang hari.

Sayangnya, rasa bahagia saat membuka paket hanya bertahan beberapa jam saja sebelum barang itu kehilangan daya tariknya. Barang baru tersebut akhirnya berakhir terabaikan di sudut rumah bersama barang belanjaan lainnya. Ketika rasa senang itu memudar, kamu akan kembali berbelanja demi memicu sensasi menunggu paket yang baru.

5. Hasrat belanja yang sulit padam

ilustrasi menjelajahi online shop (Pexels.com/cottonbro)

Logikanya, keinginan belanja akan hilang dengan sendirinya saat melihat saldo tabungan sudah kritis. Namun, apa yang manusia rasakan justru sering bertolak belakang karena dorongan belanja sebagai pelarian dari stres malah menguat saat keuangan memburuk. Belanja dianggap sebagai obat instan untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau.

Kamu yang sudah tahu bujet bulan ini habis tetap saja luluh saat melihat promo dengan dalih "sekali ini saja". Kalimat pembenaran sederhana itulah yang terus memicu pengeluaran impulsif meski kondisi keuangan sama sekali tidak mendukung. Saldo yang menipis terbukti tidak cukup kuat untuk mengerem hasrat berbelanja yang telanjur aktif.

Doom spending sulit dihentikan meski dompet menipis dikarenakan belanja sering menjadi jalan pintas untuk memperbaiki suasana hati. Aktivitas ini memberikan ilusi kendali dan kebahagiaan saat aspek kehidupan lainnya terasa di luar kendali kita. Jika belakangan uangmu cepat habis, cobalah merenung sejenak sebelum bertransaksi kembali, apakah kamu memang butuh barangnya atau hanya mencari rasa lega sesaat untuk mengobati lelah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article