Ada doom scrolling, ada pula doom spending. Doom scrolling adalah perilaku terus menggulir layar tanpa tujuan yang jelas. Biasanya ini dilakukan untuk membunuh waktu dan mengakses media sosial. Sementara itu, doom spending ialah menggunakan uang secara impulsif.
6 Produk yang Kerap Dibeli saat Doom Spending, Bikin Boncos?

- Doom spending adalah perilaku belanja impulsif untuk pelampiasan stres atau kecemasan, biasanya dilakukan saat kondisi ekonomi sedang sulit.
- Produk yang sering dibeli meliputi pakaian, skincare, parfum, makanan-minuman, perlengkapan olahraga, hingga buku yang akhirnya jarang digunakan.
- Kebiasaan ini menciptakan kebahagiaan semu dan bisa mengganggu keuangan karena frekuensi belanja tinggi meski nilainya kecil.
Orang membeli sesuatu bukan karena butuh atau benar-benar menginginkannya. Namun, hanya untuk pelampiasan dari rasa stres atau kecemasan di tengah situasi perekonomian yang kurang baik dan masalah-masalah lainnya. Produk yang dibeli biasanya tidak terlalu mahal.
Bukan kendaraan, apalagi rumah baru. Namun, meski harganya tak seberapa, frekuensinya yang sering dapat mengganggu keuangan. Juga hanya menciptakan kebahagiaan semu. Berikut produk yang kerap dibeli saat doom spending.
1. Pakaian dan alas kaki

Tumpukan pakaian sampai bikin pintu lemari sukar ditutup. Memang sekali berbelanja cuma satu atau dua potong pakaian yang dibawa pulang. Namun, seringnya ini dilakukan bikin stok baju baru banyak sekali di rumah.
Ketika orang membelinya lagi dan lagi, kerap didasari oleh pemikiran bahwa pasti bakal berguna. Kan, manusia setiap hari harus berpakaian yang cukup pantas. Tak ada salahnya kembali menambahnya.
Pasti suatu saat akan terpakai juga. Begitu pula dengan alas kaki. Kaki manusia cuma sepasang, tetapi jumlah sepatunya berpasang-pasang. Selama ada sandal atau sepatu yang terlihat bagus dan murah, langsung dibeli. Walau belum tahu kapan dan di acara apa alas kaki tersebut hendak digunakan.
2. Skincare

Produk perawatan kulit tubuh dan wajah, termasuk kosmetik, juga paling sering diincar ketika terjadi doom spending. Harga sebuah lipstik atau pensil alis yang tak seberapa dinilai aman dibeli kapan saja. Tidak bakal membahayakan keuangan mereka.
Akan tetapi, belanja impulsif terkait skincare dan kosmetik sebagai pelepasan stres tak hanya terjadi pada perempuan. Pria pun dapat mengalaminya dengan menimbun aneka sabun pembersih wajah, misalnya. Sama sekali tak berarti mereka pasti bakal memakainya.
Bahaya dari doom spending dengan membeli macam-macam produk skincare bukan hanya tentang borosnya. Namun, juga dapat berdampak pada kesehatan kulit apabila dipakai bergantian. Belum tentu semua produk itu cocok di kulit pemakainya.
3. Parfum

Minyak wangi menjadi produk berikutnya yang acap kali disasar ketika belanja impulsif. Khususnya bila seseorang cukup sering beraktivitas di luar rumah. Mereka tak perlu mengecek dulu apakah parfum di rumah masih banyak atau tinggal sedikit.
Pokoknya beli dan beli minyak wangi lagi. Sebagai produk yang digunakan secara rutin, mereka berpikir membelinya tidak bakal sia-sia. Memang benar, parfum telah menjadi kebutuhan utama untuk orang yang terbiasa memakainya.
Bahkan kepercayaan diri dapat drop jika mereka tidak menggunakannya sehari saja. Namun, dari sekian banyak minyak wangi yang telanjur dibeli, belum tentu seluruh aromanya disukai. Kalau 1 atau 2 kali semprot terasa gak cocok, pasti bikin malas memakainya lagi.
4. Makanan dan minuman

Belanja impulsif selanjutnya ialah terkait makanan dan minuman. Terutama jajanan yang sedang viral atau baru ada di sebuah kota. Keputusan membelinya tidak lagi ditentukan oleh lapar atau gak.
Juga bukan lantaran betul-betul menginginkannya. Pokoknya sebatas iseng saja. Terpenting bayar dan bawa pulang dulu. Tak jarang makanan dan minuman tersebut, meski dicicipi, tetap tidak sampai dihabiskan.
Dalam sehari seseorang dapat membeli makanan dan minuman yang berbeda tanpa benar-benar dinikmati. Rasanya cuma gak afdal apabila mereka keluar rumah dan pulangnya tak menenteng jajanan sama sekali. Begitu pula ada waktu luang sedikit, refleksnya buka aplikasi pesan antar makanan serta minuman.
5. Perlengkapan olahraga

Beli perlengkapan olahraga kelihatannya hal yang positif. Harapannya orang yang membelinya dapat lebih rutin berolahraga di rumah kapan saja ia memiliki waktu luang. Faktanya, gak semua orang yang kerap membeli perlengkapan olahraga betul-betul menggunakannya.
Terkadang itu hanya perilaku impulsif dalam berbelanja. Mereka belum membangun kebiasaan atau sekadar semangat berolahraga. Mereka berpikir bahwa bila alat-alatnya sudah dibeli, otomatis muncul keinginan berolahraga.
Kenyataannya, itu tak selalu terjadi. Malah olahraga tanpa bantuan alat pun bisa. Ada pemikiran bahwa alat olahraga telah dibeli, sama dengan gaya hidup sehat sudah mulai dijalani. Peralatan olahraga murah sampai mahal ada di rumah, tapi tidak dibarengi dengan kebiasaan berolahraga.
6. Buku yang gak dibaca

Terakhir, produk yang kerap dibeli saat doom spending adalah buku. Sama seperti pembelian impulsif atas alat-alat olahraga. Belanja buku banyak-banyak juga cenderung menghindarkan orang dari rasa bersalah. Alasannya, buku adalah gudangnya ilmu.
Siapa pun seharusnya menjadikan buku sebagai bagian dari belanja wajibnya. Akan tetapi, dalam doom spending, buku-buku yang dibeli akhirnya tidak dibaca. Buku cuma ditumpuk di rumah. Ada perbedaan antara orang yang membeli buku karena suka membaca dan orang yang melakukan doom spending.
Orang yang gemar membaca memilih buku dengan cermat sesuai minatnya. Itu bikin buku yang dibelinya barangkali tidak banyak, tapi pasti dibaca. Sedang orang yang terjebak doom spending memilih buku secara acak, setibanya di rumah, mereka kian tak berminat membacanya.
Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan, doom spending malah sering terjadi. Orang ingin mencari sensasi lega dan bahagia dengan cara tetap berbelanja, bahkan lebih sering dari biasanya. Itu menciptakan perasaan masih mampu secara finansial.






















