ilustrasi anak perempuan menggunakan emoji karena sedang tak ingin mengetik pesan panjang (pexels.com/cottonbro studio)
Kadang, kita sebenarnya ingin membalas dengan ramah dan responsif, tapi gak selalu punya energi untuk mengetik panjang-panjang. Mau menjelaskan satu reaksi kecil saja rasanya ribet kalau harus dirangkai jadi kalimat utuh. Di kondisi seperti ini, emoji justru jadi jalan tengah yang paling masuk akal. Misalnya, dengan mengetik respons singkat lalu menambahkan emoji yang sesuai di belakangnya, atau untuk menunjukkan reaksi tertawa, cukup dengan memencet emoji terkait beberapa kali tanpa harus repot mengarang kalimat panjang hanya karena sedang tidak mood untuk berkirim pesan, semua masalah pun beres.
Nyatanya, emoji membuat komunikasi jadi lebih ringkas tanpa harus terasa dingin atau cuek. Kamu tetap terlihat hadir dalam percakapan, meskipun balasannya sederhana. Dengan itu, chatting gak terasa melelahkan, terutama di tengah rutinitas padat atau saat energi mental sedang turun. Jadi, emoji bukan cuma pemanis, tapi juga alat komunikasi yang praktis dan manusiawi.
Walau memang tidak wajib, rupanya emoji cukup diperlukan saat berkirim pesan. Meski begitu, semua kembali lagi ke preferensi masing-masing. Selain itu, perlu diingat bahwa emoji juga bisa membantu memperjelas maksud, menjaga suasana, dan membuat komunikasi terasa lebih nyaman. Selama digunakan secukupnya dan sesuai konteks, emoji justru bisa jadi penyelamat agar chat gak berujung salah paham. Jadi, gak ada salahnya mulai lebih sadar memakai emoji saat berkirim pesan, demi komunikasi yang lebih sehat dan menyenangkan.