6 Etika War Takjil, Hampir Buka Jangan Rusuh Berebut Makanan

- Artikel menyoroti pentingnya menjaga etika saat membeli takjil menjelang buka puasa, agar suasana tetap tertib dan tidak menimbulkan kericuhan di antara pembeli.
- Ditekankan enam etika utama, seperti tidak menawar berlebihan, antre dengan sabar, tidak merebut makanan orang lain, serta menjaga kebersihan saat memilih takjil.
- Pembeli juga diingatkan untuk jujur kepada penjual dan memarkir kendaraan dengan tertib demi kenyamanan bersama serta kelancaran lalu lintas sekitar area penjualan takjil.
Banyaknya pedagang takjil di sepanjang jalan memang menggoda. Apalagi kalau kamu gak sempat memasak di rumah. Pulang kantor mending sekalian ikut war takjil biar sampai rumah bisa langsung berbuka.
Namun, butuh perjuangan untuk sekadar membungkus jajanan kalau waktu telah menunjukkan jam 16.30. Antreannya panjang sekali. Kesabaran harus ekstra meski tubuh juga makin lemah buat berdiri lama.
Tetaplah menjadi pembeli yang baik dengan memahami etika. Jangan bikin calon pembeli lain kesal cuma buat memuaskan diri sendiri. Ingat, kamu masih berpuasa. Kendalikan hawa nafsumu di hadapan meja yang dipenuhi aneka takjil menggugah selera. Dengan memerhatikan enam etika war takjil, jadilah pembeli yang sopan, ya.
1. Gak usah menawar atau minta bonus meski beli banyak

Di hari-hari biasa mungkin gak apa-apa kalau kamu mau mencoba menawar atau minta bonus. Akan tetapi, pahami bahwa pembeli membeludak setiap menjelang buka puasa. Antrean di belakangmu masih panjang.
Pelayanan menjadi lebih lama kalau kamu tak segera membayar belanjaan. Pun, jika permintaanmu dipenuhi, akan mempersulit pedagang. Orang-orang di belakangmu pasti juga mendesak minta diskon atau bonus.
Penjual bukannya untung, malah rugi. Sudah konsekuensimu sebagai pembeli untuk membayar belanjaan sesuai harga yang tertera atau disebutkan pedagang. Pun, takjil yang dibeli buat berbuka di rumah gak sebanyak untuk acara tertentu. Kamu tak perlu meminta perlakuan khusus.
2. Tetap tertib antrean meski waktu Magrib kian dekat

Kalau kamu gak mau mengantre terlalu lama, datanglah lebih awal. Seperti jam 15.00 atau 15.30. Namun, bila dirimu baru tiba setelah pukul 16.00 apalagi 17.00 pasti antreannya luar biasa.
Sering kali antrean tambah rusuh kurang dari 30 menit sebelum azan Magrib. Kamu kudu bisa jaga attitude. Malu bila penganut agama lain sampai terbengong-bengong melihat ketidaksabaran orang-orang yang hendak berbuka puasa.
Soal perilaku pembeli lain bukan urusanmu. Terpenting, kamu menjaga sikapmu sendiri sampai tiba giliranmu dilayani. Jangan main serobot, apalagi sampai marah-marah, demi beberapa buah kue atau cup minuman. Jika kamu tak sanggup mengantre dengan tertib, mending masak sendiri di rumah.
3. Jangan merebut makanan atau minuman yang sudah dipilih orang lain

Walaupun seseorang belum membayarnya, jangan mengambil makanan atau minuman yang sudah dipilihnya. Bahkan meski dirimu sangat menginginkannya dan tidak ada lagi takjil sejenis. Sudah risikomu ikut war takjil.
Kadang gak semua makanan atau minuman yang diinginkan bisa diperoleh saat itu juga. Justru di situlah letak keseruannya. Mungkin besok kamu perlu datang lebih awal ke pedagang yang sama biar tidak kehabisan.
Dirimu pasti juga sebal seandainya takjil yang telah dipilih malah diambil orang. Toh, masih ada begitu banyak pilihan makanan dan minuman untuk berbuka. Hindari ribut dengan pembeli lain.
4. Jangan pula sembarangan memegang makanan tanpa pembungkus

Sering kali masalahnya memang penjepit makanan yang disediakan pedagang terbatas. Kalaupun penjual sebenarnya sudah menyediakan satu penjepit di setiap nampan, pembeli jauh lebih banyak dan gak sabaran. Dirimu tak perlu ikut-ikutan sembarangan memegang-megang makanan tanpa pembungkus.
Setiap makanan tanpa pembungkus yang sudah dipegang olehmu harus dibeli. Trik memilih makanan tanpa memegangnya ialah dengan memperhatikannya dulu. Lihat baik-baik makanan yang diinginkan.
Bila hati sudah mantap, baru dirimu mengambil dan memasukkannya ke kantong plastik. Atau, gunakan sisi bagian dalam kantong plastik buat mengambil kue atau gorengan. Ini mencegah tanganmu yang penuh kuman mengenai kue atau gorengan lain. Juga menghindari kuman dari tangan berpindah ke makanan yang nantinya akan dimakan saat buka puasa.
5. Dilarang keras memanfaatkan kelengahan penjual

Jadilah pembeli yang jujur sekalipun kesempatan buat curang terbuka lebar. Mendekati waktu berbuka puasa, jumlah pengunjung membeludak. Beberapa pelayan saja kewalahan, apalagi jika lapak cuma dijaga satu orang.
Bahkan pembeli dibebaskan memilih serta mengambil sendiri aneka takjil. Baru nanti total harganya dihitung. Ini pun sering hanya berdasarkan pengakuan pembeli karena pedagang sudah sangat repot untuk mengecek isi kantong plastik satu per satu.
Kamu gak boleh bilang mengambil 10 gorengan, padahal aslinya 12. Atau, dirimu mengaku mengambil risol isi sayuran padahal sebenarnya risol ayam. Jangan sampai gara-gara harga makanan beberapa ribu rupiah saja, pahala puasamu rusak. Itu sama dengan mencuri.
6. Parkir kendaraan dengan tertib

Bila kamu membawa kendaraan pribadi, soal parkir juga mesti diperhatikan. Meski posisi barisan pedagang takjil sudah mepet jalan, dirimu jangan memperparahnya dengan berhenti asal. Itu akan menyebabkan kemacetan.
Pun pengendara lain tidak bisa disalahkan apabila sampai menyerempetmu. Cari lokasi parkir resmi kalau ada. Bila tak ada, minimal kendaraan diparkirkan di tempat yang tak menghalangi lalu lintas.
Jangan lupa kendaraan dikunci. Kamu berkeliling mencari takjil sambil berjalan kaki saja. Ini juga penting untuk mengurangi paparan asap knalpot ke makanan atau minuman yang tidak ditutup dengan rapat. Pembeli lain pun lebih nyaman karena tak harus menghindari motor atau mobilmu.
Keseruan membeli jangan bikin etika war takjil tampak minus. Berebut makanan dan minuman menjelang buka puasa pasti bukan semata-mata karena lapar serta haus yang tak tertahankan. Namun, lebih ke godaan hawa nafsu.


















