Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Tips agar Kamu Gak Malu Berjualan, Introvert pun Bisa
ilustrasi berdagang (pexels.com/Jacob Riesel)
  • Artikel menekankan bahwa berdagang adalah pekerjaan halal dan bermanfaat, bukan sesuatu yang perlu dipermalukan, bahkan bagi mereka yang introvert atau memiliki latar belakang pendidikan tinggi.
  • Dijelaskan bahwa pedagang berperan penting dalam menghubungkan produsen dan konsumen, sekaligus membuka peluang rezeki luas tanpa batasan latar belakang siapa pun.
  • Teks mendorong pembaca untuk fokus pada potensi keuntungan, memanfaatkan cara jualan online agar lebih nyaman, serta menjauhi gengsi dan lingkungan negatif yang meremehkan profesi pedagang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap kali kamu melihat berita tentang kesuksesan seorang pedagang, ada dorongan yang sangat kuat untuk mengikuti jejaknya. Saat dirimu berjalan-jalan dan melihat penjual apa pun, juga muncul suara dalam diri. Kamu pasti bisa memasarkan produk serupa.

Bahkan dirimu yakin omzetnya bakal lebih gede alias dagangan laris manis. Kamu bisa dengan cepat menganalisis apa yang kurang dari cara seseorang berjualan. Namun, kenapa keinginanmu berdagang tidak juga direalisasikan?

Mungkin hambatan terbesarnya bukan modal atau kesibukanmu yang sudah tinggi. Namun, semata-mata ada rasa malu buatmu dikenal orang sebagai pedagang. Kenapa mesti malu? Kami berikan tipsnya supaya kamu gak malu berjualan dan mampu memandang berdagang sebagai hal yang biasa dan tidak merusak citra diri. Segera dimulai, ya.

1. Pahami bahwa berdagang juga cara halal untuk mencari rezeki

ilustrasi jaga warung (pexels.com/Duy Pham)

Ada banyak sekali cara untukmu mendapatkan rezeki. Fokuslah pada kehalalannya dan bukan jenis pekerjaannya. Berdagang adalah pekerjaan yang halal. Apalagi barang yang diperjualkan bukan sesuatu yang buruk.

Justru kamu mesti malu kalau melakoni pekerjaan yang tampaknya keren, tapi ternyata penuh dengan keburukan. Seperti pejabat yang suka suap. Dia memanfaatkan posisinya untuk mengeruk keuntungan pribadi sebanyak mungkin.

Berdaganglah dengan jujur. Jangan ada sedikit pun pemikiran bahwa jalan haram mendapatkan uang lebih baik daripada menjadi seorang pedagang yang bisa dipercaya. Hindari mempersulit diri dengan terlalu pemilih terhadap jenis-jenis pekerjaan yang halal.

2. Berdagang juga membantu orang-orang memenuhi kebutuhan

ilustrasi para pedagang (pexels.com/Denniz Futalan)

Berdagang bisa diniatkan tak sekadar buat mencari uang. Pekerjaan sebagai pedagang sama halnya dengan jembatan yang menghubungkan dua titik. Dalam hal ini, produsen dengan konsumen.

Kalau gak ada orang yang berjualan, bagaimana masyarakat dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya? Di lain pihak, produsen tak bisa mendistribusikan produknya. Roda ekonomi berhenti.

Pedagang punya peran yang amat penting. Ini sebabnya berjualan menjadi pintu rezeki yang sangat lebar. Semua orang dapat mencoba berdagang. Tidak ada syarat khusus. Terpenting, produk dan permintaan ada. Kamu akan menjadi pahlawan di lapangan baik bagi produsen maupun konsumen.

3. Fokus di potensi cuan, bukan gengsi

ilustrasi marketing properti (pexels.com/MART PRODUCTION)

Gengsi memang kerap terasa tidak tertahankan. Rasa malu lebih besar daripada keinginanmu memulai rencana berdagang. Padahal, gengsi yang setinggi langit tak memberimu apa-apa selain perasaan bahwa wajahmu terselamatkan dari cibiran orang.

Pusatkan perhatianmu pada potensi keuntungan dari berjualan. Itu yang paling nyata dan bermanfaat buat hidupmu. Bukan kamu malah kasih makan terus buat rasa gengsimu. Membuang gengsi jauh-jauh tak hanya memberanikanmu untuk mulai berjualan.

Dirimu pun dapat memperdagangkan produk-produk yang bagi orang lain mungkin memalukan. Akan tetapi, potensi cuannya besar serta sepanjang musim. Contohnya, menjual pakaian dalam.

Satu orang saja minimal ganti pakaian dalam 2 kali sehari. Di musim hujan, pakaian dalam yang tak kunjung kering juga menjadi masalah besar. Orang akan terus membelinya dalam jumlah melebihi kebutuhan harian untuk stok.

4. Toh, sekarang berjualan tidak harus face to face

ilustrasi berjualan online (pexels.com/MART PRODUCTION)

Apakah rasa malu dipicu oleh bayangan dirimu mesti bertemu begitu banyak orang setiap hari? Kamu pun kudu mempromosikan daganganmu secara langsung di hadapan mereka. Dirimu takut diperhatikan, apalagi dikritisi orang lain.

Faktanya, hari ini berjualan makin gampang. Kamu tidak harus secara langsung berinteraksi dengan calon pembeli. Ikut dalam program affiliate, misalnya, gak kudu kamu siaran langsung.

Intinya hanyalah barang terjual. Dirimu cuma rajin membagikan tautan produk pun bisa. Kamu duduk manis di rumah, uang datang sendiri dalam bentuk komisi. Orang yang paling pemalu dan introvert juga dapat melakukannya.

5. Berada di circle yang positif

ilustrasi berjualan sepatu (pexels.com/Kampus Production)

Pengaruh lingkungan juga bisa selalu membuatmu maju-mundur untuk berdagang. Misalnya, teman-temanmu kerap memandang rendah orang yang berjualan. Alasannya, gak perlu pendidikan tinggi buat melakukannya.

Kalau kamu ikut berdagang padahal ijazahmu dari kampus ternama, dirimu dipandang sama saja dengan pedagang yang gak kenal bangku kuliah. Tolak pandangan begini setidaknya dalam pikiranmu. Secara teori, berjualan memang pekerjaan yang paling gak ribet soal syarat minimum pendidikan.

Terpenting pedagang mengerti tentang nominal uang, usaha sudah bisa jalan. Akan tetapi, faktanya, orang dengan latar belakang pendidikan jempolan juga belum tentu bisa bikin dagangannya laris. Tinggalkan orang-orang yang pernah berdagang saja tidak, tapi nyinyirnya minta ampun.

6. Gak usah membandingkan pekerjaanmu yang lain

ilustrasi berjualan tas (pexels.com/Kishan Kumar)

Kamu mungkin sudah punya pekerjaan utama. Namun, dirimu masih ingin berdagang sebagai pekerjaan sampingan. Gak selalu motivasinya uang. Bisa pula karena kamu merasa berjualan menyenangkan.

Ada rasa puas yang berbeda saat dirimu berhasil menjual satu produk saja. Namun, keinginanmu berdagang seperti gak pas dengan pekerjaanmu selama ini. Contoh, kamu seorang dokter. Masa dirimu di rumah masih mau berjualan buah? Bukannya penghasilan seorang dokter sering disebut sudah tinggi? Apa kamu gak malu ke rumah sakit sambil membawa pesanan buah dari rekan sejawat? Atau, pasien beli buah darimu. Dua pekerjaan atau lebih tidak untuk dibandingkan. Dalam contoh di atas, misalnya, dokter juga butuh refreshing dari rutinitasnya memeriksa pasien. Kalau berjualan terasa seru buatmu, jalani saja.

Apabila setiap rasa malu diikuti, boleh jadi kamu urung melakukan apa pun sepanjang hidup. Dunia ini selalu riuh oleh penilaian, komentar, bahkan kecaman. Oleh sebab itu, kamu gak perlu malu berjualan dan jangan lagi ragu untuk mulai menawarkan produk pilihanmu, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team