Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Hal yang Dianggap Healing, tapi Sebenarnya Bukan!
Seni hidup lain selain Stoisisme

Healing sering diartikan sebagai proses memulihkan diri dari kelelahan emosional, stres, atau pengalaman yang berat, dengan cara yang membantu seseorang merasa lebih utuh, tenang, dan seimbang secara jangka panjang. Namun dalam praktiknya, istilah healing sering digunakan secara lebih luas untuk berbagai aktivitas yang memberi rasa senang sesaat, meskipun gak selalu benar-benar membantu proses pemulihan emosi secara mendalam.

Sehingga, gak semua hal yang terasa menyenangkan otomatis bisa disebut healing. Berikut ini ada 5 contoh aktivitas yang sering kita anggap healing, tapi ternyata bukan. Apakah kamu juga melakukannya?

1. Shopping alias belanja

ilustrasi perempuan shoping (freepik.com/freepik)

Banyak orang, terutama perempuan, menyebut belanja atau shopping sebagai bentuk healing. Memang, berjalan-jalan di mall, melihat-lihat barang, lalu membeli sesuatu yang diinginkan bisa membantu meningkatkan mood dan memberi rasa senang. Namun, berbelanja saat kondisi emosi sedang gak baik-baik saja juga memiliki risiko jika dilakukan terus-menerus sebagai pelarian. Sensasi senang setelah membeli barang biasanya muncul karena adanya dorongan dopamin, tetapi efeknya cenderung sementara dan gak benar-benar menyelesaikan permasalahan. Menurut Susan Albers, seorang psikolog, dalam wawancaranya di Cleveland Clinic,

“Belanja berubah dari terapi menjadi perilaku kompulsif yang bermasalah ketika menjadi cara utama untuk mengatasi kecemasan, stres, atau kehilangan. Menikmati aktivitas yang memberi kebahagiaan bukanlah hal yang salah, tetapi kesadaran diri dan moderasi tetap penting."

Selain itu, kebiasaan belanja emosional juga dapat memunculkan siklus rasa bersalah. Pengeluaran berlebihan bisa menimbulkan tekanan finansial dan penyesalan setelahnya, sehingga stres yang muncul justru menjadi lebih besar dibanding rasa lega sesaat yang didapat sebelumnya.

2. Emotional eating

ilustrasi memakan chips (magnific.com/freepik)

Terkadang kita makan bukan karena lapar secara fisik, namun secara mental. Disebut emotional eating, ketika kita makan dengan tujuan untuk membuat perasaan kita lebih baik dan lebih nyaman, menghilangkan stres, atau untuk memberi penghargaan pada diri sendiri. Masalahnya, kita cenderung memilih makanan cepat saji, makanan manis, dan makanan lain yang menenangkan tetapi sebenarnya gak sehat.

Dalam artikel berjudul "Emotional Eating and How To Stop It" dalam laman HelpGuide dan direview oleh Jeanne Segal, seorang terapis, dijelaskan bahwa meski kegiatan itu terasa menyenangkan, namun biasanya justru membuat kamu merasa lebih buruk. Hal ini karena setelahnya, gak hanya masalah emosional yang asli tetap ada, tapi kamu mungkin akan dilanda rasa bersalah karena makan berlebihan.

3. Scrolling media sosial berjam-jam

Ilustrasi Menjelajah Media Sosial (Pexels.com/www.kaboompics.com)

Beberapa orang menganggap scrolling media sosial adalah bentuk healing. Anggapan tersebut bisa dibilang sedikit keliru, terutama ketika itu dilakukan berjam-jam dan konten yang kita konsumsi gak bagus. Doomscrolling adalah versi modern dari jebakan emosional, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus yang justru membuat seseorang merasa semakin cemas dan sulit berhenti. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi juga respons kecemasan di era digital.

Bukannya jadi lebih tenang, doomscrolling justru sering membuat seseorang merasa lebih gelisah, kewalahan, dan terputus dari momen saat ini. Paparan informasi negatif yang terus-menerus dapat meningkatkan stres, mengaburkan pikiran, dan memperburuk kondisi emosional.

4. Traveling untuk kabur dari realita

Traveling (unsplash.com/mantashesthaven)

Traveling sering dianggap sebagai bentuk healing, padahal lebih tepat disebut sebagai refreshing. Liburan memang bisa membantu mengurangi stres, memberikan jeda dari rutinitas, dan membuat pikiran terasa lebih ringan untuk sementara waktu. Perubahan suasana, pengalaman baru, dan waktu istirahat dari pekerjaan dapat membantu tubuh dan pikiran terasa lebih segar.

Namun, traveling umumnya bersifat sementara dan gak secara langsung menyelesaikan masalah emosional atau beban psikologis yang sedang dihadapi. Terutama jika kegiatan ini dikombinasikan dengan belanja impulsif. Hal yang mungkin akan kamu hadapi justru malah kondisi keuangan yang perlu dikelola ulang, baju kotor menumpuk dan lelah secara fisik.

5. Binge watching

Binge watching (unsplash.com/a_d_s_w)

Binge watching sering dianggap sebagai bentuk healing karena terasa menyenangkan dan bisa membantu mengalihkan pikiran dari stres. Namun, kebiasaan menonton secara berlebihan dalam waktu lama justru lebih tepat disebut sebagai pelarian sementara, bukan pemulihan emosional yang sebenarnya. Meskipun memberikan rasa nyaman sesaat, efeknya tidak selalu mendukung kesehatan mental dalam jangka panjang.

Dampak lain dari binge watching bisa berupa kelelahan mata, kurang tidur, hingga tubuh yang terasa lesu karena terlalu lama menatap layar. Selain itu, kehidupan nyata bisa terasa kurang menarik dibandingkan cerita dalam serial yang ditonton. Beberapa orang juga bisa merasa lebih kesepian atau kosong setelah menonton dalam waktu lama, terutama ketika sulit berhenti dan terus mencari episode atau serial berikutnya untuk ditonton.

Itu dia 5 contoh hal yang kita kira healing, namun ternyata bukan. Daripada langsung mencari pelarian instan, akan lebih baik jika kita belajar mengenali emosi terlebih dahulu dan memberi ruang untuk memprosesnya. Hal sederhana seperti istirahat yang cukup, menulis perasaan, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau melakukan aktivitas yang benar-benar menenangkan tubuh dan pikiran secara sadar bisa menjadi bentuk pemulihan yang lebih sehat dan berkelanjutan!

Editorial Team