Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
seorang wanita yang sedang bersantai
ilustrasi seorang wanita yang sedang bersantai (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Hidup stabil bukan berarti penuh makna.
    Stabilitas eksternal tidak selalu memberi kepuasan batin, membuat hidup terasa monoton dan melelahkan meski tampak baik-baik saja.

  • Terjebak dalam mode bertahan hidup.
    Mode ini membuat fokus menyelesaikan hari, bukan menikmati prosesnya, sehingga kehidupan terasa datar dan hampa.

  • Merasa bersalah karena tidak bahagia.
    Rasa kosong bukan selalu kurang syukur, melainkan sinyal ada kebutuhan emosional atau nilai hidup yang belum terpenuhi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak semua quarter life crisis datang dengan air mata, konflik besar, atau masalah yang tampak jelas. Pada sebagian orang, krisis justru hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: hidup terlihat baik-baik saja, pekerjaan ada, rutinitas berjalan, namun di dalam diri muncul rasa kosong yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang “salah”, tetapi juga tidak ada yang benar-benar terasa bermakna.

Kondisi ini sering membingungkan karena tidak sesuai dengan gambaran krisis yang selama ini dikenal. Banyak orang akhirnya memilih diam, merasa tidak berhak mengeluh, dan memaksa diri untuk bersyukur. Padahal, perasaan hampa yang berlarut-larut tetap layak dipahami dan dihadapi dengan serius. Yuk, pahami penyebabbya!

1. Hidup stabil bukan berarti penuh makna

ilustrasi sekelompok wanita yang tersenyum menghadap ke depan (pexels.com/Yan Krukau)

Stabilitas sering dianggap sebagai tujuan utama di usia dewasa awal. Ketika pekerjaan, penghasilan, dan rutinitas sudah terbentuk, seseorang diasumsikan telah “aman”. Namun, stabil secara eksternal tidak selalu berbanding lurus dengan kepuasan batin.

Rasa kosong muncul ketika hidup dijalani hanya sebagai rangkaian kewajiban, bukan pilihan yang disadari. Tanpa makna personal, stabilitas justru terasa monoton dan melelahkan, meski dari luar tampak baik-baik saja.

2. Terjebak dalam mode bertahan hidup

ilustrasi seorang wanita yang fokus bekerja menggunakan laptop (pexels.com/Anna Shvets)

Banyak orang menjalani hari-harinya dalam mode bertahan hidup: bangun, bekerja, pulang, istirahat, lalu mengulang kembali. Tidak ada krisis besar, tetapi juga tidak ada ruang untuk benar-benar merasa hidup.

Mode ini membuat seseorang fokus menyelesaikan hari, bukan menikmati prosesnya. Dalam jangka panjang, kehidupan terasa datar dan hampa karena tidak ada koneksi emosional dengan apa yang sedang dijalani.

3. Merasa bersalah karena tidak bahagia

ilustrasi seorang wanita yang merasa kelelahan (pexels.com/Ron Lach)

Salah satu ciri quarter life crisis tanpa drama adalah munculnya rasa bersalah. “Harusnya aku bersyukur,” menjadi kalimat yang sering diulang untuk membungkam perasaan sendiri. Akibatnya, emosi tidak diproses, hanya ditekan.

Padahal, rasa kosong tidak selalu menandakan kurangnya rasa syukur. Ia bisa menjadi sinyal bahwa ada kebutuhan emosional atau nilai hidup yang belum terpenuhi, meski kebutuhan dasar sudah tercukupi.

4. Kehilangan koneksi dengan diri sendiri

ilustrasi seorang wanita duduk di depan jendela (pexels.com/cottonbro studio)

Kesibukan dan tuntutan hidup sering membuat seseorang menjauh dari dirinya sendiri. Hobi ditinggalkan, refleksi diri jarang dilakukan, dan keputusan hidup diambil secara otomatis tanpa banyak pertimbangan personal.

Ketika koneksi dengan diri sendiri melemah, hidup terasa seperti dijalani oleh “autopilot”. Inilah yang membuat perasaan hampa muncul, meski tidak ada masalah besar yang terlihat.

5. Rasa kosong sebagai ajakan untuk berhenti sejenak

ilustrasi seorang wanita yang bersantai sambil membaca buku (pexels.com/Ron Lach)

Alih-alih dianggap musuh, rasa kosong bisa dilihat sebagai ajakan untuk berhenti dan mendengarkan diri sendiri. Ia memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dievaluasi, bukan dihindari.

Dengan memberi ruang untuk refleksi, seseorang dapat mulai menyusun ulang arah hidup secara lebih sadar. Tidak harus drastis, tetapi cukup dengan langkah kecil yang lebih selaras dengan nilai dan kebutuhan diri.

Hidup yang terlihat baik-baik saja tidak selalu berarti hati merasa utuh. Rasa kosong yang muncul bukan tanda kurang bersyukur, melainkan sinyal halus bahwa ada bagian diri yang ingin didengar. Dalam keheningan inilah, seseorang diajak untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya dengan jujur tentang apa yang benar-benar dibutuhkan.

Alih-alih menekan perasaan itu, memberi ruang pada rasa kosong justru bisa menjadi awal pemulihan. Perlahan, dengan kesadaran dan keberanian untuk mengenal diri sendiri kembali, hidup yang semula terasa datar dapat menemukan maknanya, bukan dari pencapaian besar, melainkan dari hubungan yang lebih jujur dengan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team