infografis AI Jadi Tempat Curhat Baru Gen Z & Milenial, Sekadar Teknologi atau Teman Emosional? (dok. IDN Times/Mardya Shakti)
Lebih dari 70 persen orang mengaku pernah curhat ke AI. Topik terbesar yang biasa mereka sampaikan ke AI meliputi overthinking atau kecemasan, karier dan masa depan, hingga burnout atau kelelahan mental. Hampir semua aspek kehidupan bisa diceritakan kepada AI.
Lantas, mengapa mereka memilih curhat ke AI daripada manusia? Data survei mengungkapkan fakta bahwa ada 43,7 persen responden merasa lingkungan sekitar kurang menyediakan ruang aman untuk menuangkan cerita, curhatan, keluh kesah. Gak ada wadah yang tepat untuk menyalurkan apa yang responden pikirkan dan rasakan.
Dari segi psikologis, Putri menjelaskan bahwa ruang aman adalah ruang di mana kita bisa menjadi diri sendiri, bebas berekspresi, berpendapat, tanpa buru-buru dikoreksi. Terkadang, manusia hanya butuh penerimaan bahwa begitulah mereka apa adanya.
“Ada kalanya keluarga dan teman hadir secara fisik, namun tidak secara emosional. Entah karena mereka mungkin judging, atau beberapa klien merasa sungkan/tidak enak untuk merepotkan keluarga/teman dengan cerita mereka. Apalagi topik yang berulang,” sambungnya.
Hal yang sama juga dijelaskan oleh Sri Rahayu Setiani, Gen Z yang berasal dari pulau Jawa ini berpendapat, “Kemungkinan ketika di real life seseorang tersebut mengalami hal yang tidak diinginkan seperti tidak didengar, dihakimi, atau bahkan dianggap berlebihan sehingga salah satu solusi yang seseorang itu pikirkan adalah curhat ke AI yang mana bisa membawa 'ruang aman'.”
Mayoritas responden yang curhat ke AI merasa nyaman dengan hal tersebut karena merasa tidak dihakimi (68,9 persen). Perasaan ini juga yang dirasakan oleh responden asal pulau Jawa, Sisilia Selestkha K Gustie.
"Aku pakai Chat GPT buat curhat sambil berusaha kembali mengoreksi diri sendiri, apa yang harus aku ubah. Tapi, aku juga masih rajin berdoa dan melanjutkan hobi. Hanya agak kecewa dengan orang-orang yang gak pernah mengerti perasaan lebih dalam lagi, jadinya salah paham terus,” ujarnya.
Bagi beberapa orang lainnya, curhat ke AI dirasa nyaman karena privat (54,8 persen) dan selalu tersedia (73,3 persen), dan tidak merepotkan (44,4 persen).
Dari sudut pandang seorang Milenial bernama Aliya, ia mengatakan, “Kebanyakan anak muda sekarang 'sensitif' terhadap 'judgement' yang diterima saat lagi curhat. Jadi, AI dianggap sebagai ruang aman tanpa penghakiman, karena AI justru memberi support dan solusi.”
Itulah mengapa mereka lebih memilih AI. Kecenderungan seseorang untuk curhat ke AI dipengaruhi oleh kebutuhan akan ruang aman. Survei menunjukkan 88 persen responden yang kurang mendapatkan ruang aman dari lingkungannya, memilih untuk curhat ke AI.
Putri menuturkan, “Hal yang sebenarnya mereka inginkan adalah perasaan didengar. Bahwa apa yang dia sampaikan bisa diterima tanpa buru buru mengoreksi. Kadang ketika kita sedang dalam kondisi emosional tinggi, fakta apapun "belum" bisa masuk, sehingga kita perlu ruang nyaman untuk bercerita/berekspresi tanpa dihakimi itu.”
Di lingkungan nyata, beberapa orang mungkin merasakan kekosongan afeksi. Bagi mereka, ruang aman bukan soal kehadiran seseorang. Ada orang yang selalu hadir tapi gak aktif mendengarkan. Namun, ada pula yang bersedia membuka telinga meski raganya jauh.
Bagi orang yang merasa kekurangan ruang aman, yang mereka butuhkan adalah ruang atau tempat yang tidak menghakimi dan sosok yang selalu tersedia kapan pun. Namun, Gen Z dan Milenial juga beranggapan bahwa curhat ke AI bisa membantu memberikan penjelasan yang lebih komprehensif.
“Saya juga pernah mencoba menggunakan AI, dan AI cukup lihai untuk melihat sudut pandang atau alasan lain yang bisa memvalidasi perasaan kita, yang bahkan kita tidak pikirkan sebelumnya,” ujar Putri.
Di samping itu, mereka merasa curhat ke AI terasa nyaman karena sifatnya lebih privat. Mereka bisa menceritakan hal-hal yang mungkin gak bisa diceritakan kepada orang lain.