Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Jadi Referral Sebuah Produk agar Raih Cuan Maksimal

menjelaskan produk
ilustrasi menjelaskan produk (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
Intinya sih...
  • Pahami ketentuan kerja sama dengan pasti, termasuk batas tugas dan komisi yang akan diperoleh.
  • Miliki penilaian positif terhadap produk untuk meyakinkan calon konsumen.
  • Dekati calon konsumen secara lembut tanpa tekanan, dan pastikan komunikasi lancar dengan staf penjualan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Referral merupakan salah satu strategi marketing yang memanfaatkan pelanggan lama buat mendapatkan pelanggan baru. Kerja sama ini saling menguntungkan tidak hanya bagi perusahaan maupun pengguna produk yang menjadi referral.

Calon pengguna produk pun bakal lebih yakin bila mendapatkan rekomendasi darimu yang sudah membeli dan memakai produknya. Kalau mereka hanya mencari informasi dari staf penjualan resmi ada rasa takut termakan janji-janji manis. Ucapanmu diyakini lebih jujur.

Tentu kamu akan memperoleh komisi jika berhasil mendapatkan pelanggan baru. Namun, ini memang cukup menantang. Apalagi kalau produk yang ditawarkan berharga tinggi seperti properti. Untukmu yang tertarik memperoleh tambahan penghasilan melalui jadi referral sebuah produk, simak lima tipsnya.

1. Pahami ketentuan kerja sama

menjelaskan produk
ilustrasi menjelaskan produk (pexels.com/Arina Krasnikova)

Seperti bentuk-bentuk kerja sama lainnya, penting untukmu tahu dengan pasti ketentuannya. Bahkan meski status sama-sama referral produk, beda perusahaan tentu lain pula aturannya. Jangan sampai dirimu salah memahami dan berekspektasi melampaui kenyataannya nanti.

Saat kamu diajak oleh suatu perusahaan untuk menjadi referral produk, ada beberapa hal penting yang perlu dicari tahu. Pertama, cara kerjanya. Ini dasar buatmu yang belum pernah melakoni peran sebagai referral produk.

Kedua, batas tugasnya. Beberapa perusahaan mungkin membatasi tugasmu hanya mengumpulkan nomor HP calon konsumen potensial. Lalu ada staf penjualan resmi yang akan melakukan follow up. Di tempat lain boleh jadi dirimu sampai harus benar-benar mengegolkan penjualan.

Ketiga, tentu terkait komisi jika klienmu jadi membeli. Ini meliputi besaran komisi serta cara dan waktu pembayarannya. Keempat, batasan tanggung jawabmu seandainya dalam proses jual beli ada masalah. Apakah itu cuma menjadi urusan konsumen dengan perusahaan atau dirimu bakal ikut kena?

2. Kamu punya penilaian positif terhadap produk sehingga meyakinkan

menunjukkan produk
ilustrasi menunjukkan produk (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sebenarnya kamu bisa saja direkrut atau mendaftar sebagai referral produk apa pun yang pernah dipakai atau dibeli. Statusmu tetap pelanggan atau pengguna. Namun, bagaimana penilaian jujurmu terhadap suatu produk?

Sebaiknya dirimu gak menjadi referral produk semata-mata untuk mengincar komisinya. Penting buatmu memiliki penilaian positif yang jujur tentang produk. Contohnya, kamu baru membeli suatu produk.

Tentu setiap produk tetap ada kelebihan dan kekurangannya. Akan tetapi, selama penilaianmu lebih banyak positifnya, dirimu pantas merekomendasikannya ke orang lain. Ini bukan hanya soal kamu gak membohongi mereka. Target konsumen pun bakal dapat merasakan kejujuranmu dan percaya.

3. Mendekati calon konsumen secara soft tanpa memaksa

menjelaskan produk
ilustrasi menjelaskan produk (pexels.com/Arina Krasnikova)

Kamu mungkin tidak terlatih menjadi seorang agen penjualan profesional. Maka dari itu, dirimu mesti tahu dasar komunikasi yang baik dengan calon konsumen. Pahami bahwa kebanyakan orang gak nyaman kalau didekati secara agresif apalagi ditekan untuk membeli.

Dekati calon konsumen secara perlahan-lahan saja. Lihat-lihat apakah mereka terlihat membutuhkan produk yang hendak ditawarkan atau gak? Juga, apakah mereka tampak cukup nyaman di awal dirimu mendekati atau perlu lebih banyak privasi?

Misal, kamu ingin mendapatkan nomor telepon mereka supaya dapat diberikan pada staf penjualan resmi. Kemas tujuanmu dengan bahasa yang sopan. Misalnya, "Kalau Mas/Mbak berkenan, boleh saya simpan nomor teleponnya dan diteruskan ke staf terkait agar dijelaskan lebih lanjut?" Jika mereka bilang hendak menghubunginya sendiri, gak usah dipaksa kasih nomor.

4. Komunikasi yang lancar dengan calon konsumen dan staf yang akan menindaklanjuti

menjelaskan produk
ilustrasi menjelaskan produk (pexels.com/RDNE Stock project)

Komunikasi yang lancar dengan calon konsumen bukan artinya dirimu terus-menerus menghubunginya. Nanti malah mereka merasa dikejar-kejar seperti sedang diteror. Cukup setelah dirimu mendapatkan nomornya dan meneruskannya ke staf penjualan resmi, segera kabari.

Sampaikan bahwa nanti ada staf penjualan yang menghubunginya untuk informasi lebih lanjut. Sertakan pula permintaan agar calon konsumen tidak sungkan bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan padamu. Demikian pula komunikasimu dengan staf marketing resmi mesti jelas.

Jangan dirimu cuma kasih nomor telepon seseorang tanpa memberikan gambaran lebih lanjut. Misal, kamu menjadi referral perumahan. Sampaikan hasil obrolanmu dengan calon konsumen ke staf penjualan resmi.

Contohnya, perkiraan usia, ukuran rumah yang diinginkan, juga tujuannya buat ditempati sendiri atau investasi. Demikian pula perumahan-perumahan yang sudah pernah didatanginya. Makin banyak informasi yang dapat diberikan olehmu, makin mudah staf marketing menyusun strategi buat lebih menarik minatnya.

5. Cek bonusmu cair sesuai kesepakatan atau tidak

tanda tangan akad
ilustrasi tanda tangan akad (pexels.com/Gustavo Fring)

Setelah proses yang butuh kesabaran untuk mendapatkan konsumen pertamamu, waktunya cek pendapatan. Kalau sebelumnya kamu lebih fokus ke konsumen, sekarang kembali ke perusahaan. Cek apakah besaran komisi yang turun sesuai janji?

Begitu pula dengan waktunya. Jika konsumen baru telah diperoleh tetapi jatah komisimu gak beres, ini harus menjadi perhatian. Kamu perlu melakukan penagihan sampai komisi cair.

Juga peneguhan komitmen kerja sama kalian. Bila kerja sama hendak dilanjutkan, perusahaan mesti tepat waktu serta tepat jumlah dalam membayar hakmu. Jangan hanya perusahaan suka saat ada pelanggan baru dan mengabaikan perjanjian soal komisi.

Jadi referral sebuah produk sebenarnya cukup mudah kalau dilihat dari ketiadaan target dan jam kerja khusus. Beda dengan staf marketing resmi. Tantangannya ialah mendapatkan kepercayaan dan kesediaan calon konsumen. Namun, setelah beberapa kali dirimu berhasil memperoleh konsumen pasti jaringanmu membesar. Nantinya lebih gampang buatmu menjual produk apa pun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Mix and Match Sepatu Boots ala Prilly Latuconsina, Outstanding!

21 Jan 2026, 16:00 WIBLife