Konsep self-reward sering dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Setelah sibuk bekerja, menghadapi tekanan hidup, atau berhasil mencapai target tertentu, banyak orang merasa berhak memberi hadiah kecil untuk dirinya sendiri. Hal tersebut sebenarnya wajar selama masih berada dalam batas yang sehat dan terkontrol.
Masalah mulai muncul ketika kebiasaan konsumtif perlahan dianggap sebagai kebutuhan emosional yang harus selalu dipenuhi. Dalih “sekali-sekali” akhirnya berubah menjadi pola berulang yang tanpa sadar menguras kondisi finansial dan emosional sekaligus. Karena itu, penting memahami kebiasaan konsumtif yang sering bersembunyi di balik label self-reward agar kondisi keuangan tetap aman tanpa kehilangan rasa bahagia, yuk pahami bersama.
