Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan yang Menjauhkan Rezeki, Jadilah Magnet yang Menariknya
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Vitaly Gariev)

Semua orang berharap punyaRezeki tiap orang berlimpah. Baik berupa uang, kesehatan, maupun segala hal baik lainnya. Akan tetapi, rezeki terkadang seperti sangat pemilih. Tidak semua orang dihampirinya. Mereka yang rezekinya seret kerap kali cuma menyalahkan berbagai pihak.

Atau, terlalu cepat pasrah seakan-akan takdirnya memang seperti itu. Padahal, boleh jadi penyebab rezeki tersendat-sendat justru diri sendiri. Ada hal-hal yang perlu diubah dari dalam diri apabila kamu ingin rezeki mengalir lancar.

Hilangkan hambatan-hambatan di diri serta caramu membangun relasi dengan orang lain. Yakini bahwa semua orang bisa menjadi magnet rezeki apabila mau memperbaiki dirinya. Gak mengherankan rezekimu seret kalau sikap-sikap di bawah ini terus dipertahankan.

1. Bermalas-malasan

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Иван Лемехов)

Kamu merasa dirimu pemalas atau tidak? Mungkin kamu menyebutnya sebagai sikap santai. Akan tetapi, sebenarnya kebiasaanmu sehari-hari bukan lagi santai melainkan sudah termasuk pemalas. Dirimu tipe orang yang berprinsip kalau masih bisa nanti kenapa harus sekarang?

Dengan kata lain, kamu selalu terjebak penundaan. Dirimu tidak suka bergegas mengerjakan apa pun. Bahkan ketika pekerjaan datang padamu, kamu tak bersikap antusias. Lumrah kalau rezekimu juga gak lancar.

Orang yang hendak memberimu pekerjaan menjadi malas. Sama-sama dia akan mengeluarkan uang buat memakai sebuah jasa, mending memilih penyedia layanan yang lebih rajin. Kalaupun dirimu malas sebab merasa telah nyaman sebagai karyawan kantoran pasti kamu menjadi jarang dilibatkan dalam proyek-proyek yang cuannya gede.

2. Menjelek-jelekkan pemberi kerja

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Kari Alfonso)

Pemberi kerja bisa bos, klien, atau pembeli jika dirimu berdagang. Tanpa mereka semua tentu dirimu tidak memperoleh penghasilan. Akan tetapi, terkadang kamu mungkin lupa diri. Bukannya bersikap penuh terima kasih secara konsisten di depan maupun belakang mereka, dirimu justru suka menjelek-jelekkan.

Memang bos, klien, atau pembeli kadang bersikap kurang menyenangkan. Seperti atasanmu galak, klien banyak sekali kemauannya, serta pembeli cuma beli sedikit pun minta diskon. Akan tetapi, semua itu gak perlu diumbar.

Jika pun dirimu merasa perlu membicarakannya dengan orang lain, batasi dengan teman kerja atau keluarga. Jangan seakan-akan kamu menyebarkan keburukannya yang dapat memengaruhi citranya di mata orang lain. Apalagi menambah-nambahi sifat minus itu hanya karena dirimu kurang menyukainya. Bila sampai mereka tahu sikapmu tentu malas kasih kerjaan lagi.

3. Lebih suka mengembangkan permusuhan daripada pertemanan

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Raul Ortega)

Orang yang lebih suka bermusuhan daripada berteman memancarkan energi negatif yang kuat. Siapa pun seperti diajak bertengkar. Cara bicaramu ke orang lain tidak ramah dan justru menekan. Kamu juga mengembangkan kecurigaan yang tak ada habisnya.

Semua sikap itu tentu membuat orang-orang menjauhimu. Bagaimana rezeki akan mendekat padamu jika para perantaranya saja malas dekat-dekat denganmu? Cobalah menjadi pribadi yang lebih bersahabat dengan siapa saja.

Jangan pura-pura friendly cuma saat dirimu butuh seseorang. Bersikaplah yang baik kapan pun dan pada siapa pun. Supaya sewaktu-waktu dirimu membutuhkan mereka atau mereka ingin menjalin kerja sama menjadi lebih mudah.

4. Sering berbohong

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ucapanmu harus bisa dipegang kalau kamu mau rezeki yang lebih baik. Kejujuranmu adalah kunci kepercayaan orang lain. Jangan pernah berbohong walaupun sepertinya itu menguntungkan buat keperluan jangka pendekmu.

Main aman saja dengan selalu tetap berkata apa adanya. Apalagi berkaitan dengan pekerjaan. Orang lain gak mau repot-repot mempekerjakan pembohong. Sebab setiap kebohongan pasti dimaksudkan buat kepentingan sendiri dan berpotensi merugikan pihak lain.

Begitu dustamu merugikan orang yang bekerja sama denganmu niscaya mereka tak mau lagi kerja bareng kamu. Orang pandai banyak. Bahkan orang yang kurang pintar pun dapat diajari. Namun, orang jujur seperti berlian yang begitu berharga. Rezeki yang baik akan mengikuti. Selagi kebohongan cuma kasih keuntungan semu atau sesaat.

5. Menyepelekan pendapatan kecil

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tentu pemasukan yang besar lebih disukai daripada penghasilan kecil. Akan tetapi, mencari rezeki mirip dengan menjaring ikan di lautan. Walaupun target utamanya ikan-ikan besar, ikan-ikan kecil pasti ikut terjaring.

Kalau ikan besar cuma dapat sedikit bahkan gak terjaring sama sekali, apakah ikan-ikan kecil bakal dibuang begitu saja? Tentu tidak. Lebih baik masih ada ikan yang tersangkut jaring ketimbang sama sekali gak ada yang bisa dijual atau dikonsumsi.

Begitu pula dalam dirimu mencari rezeki. Hindari bersikap sia-sia pada rezeki yang gak sebesar harapan. Proyek-proyek kecil misalnya, diambil saja selama kamu bisa. Tak perlu terlalu bergantung pada proyek-proyek besar yang duitnya banyak, tapi datangnya lebih tidak menentu.

Rezeki tiap orang memang berbeda-beda. Namun, kamu bisa mengusahakannya agar lebih maksimal dengan memperbaiki diri. Hindari sikap-sikap di atas mulai sekarang dan rasakan perubahannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article