Gak Ada Tutorial Jadi Dewasa, Bagaimana Cara Menjalaninya dengan Baik?

Apa yang dirasakan olehmu setelah menginjak usia 20 tahun ke atas? Lebih tepatnya mendekati 25 tahun hingga 30 tahunan. Mungkin dirimu baru sadar bahwa ternyata menjadi dewasa tidak segampang kelihatannya.
Banyak tantangannya dan gak ada lagi teman tongkrongan seseru dulu. Hidup terasa tambah sepi sekaligus keras untuk dijalani. Rasanya kamu berjingkat dari satu perjuangan ke perjuangan berikutnya. Dirimu kadang sampai merasa capek.
Hingga kapan hidup bakal terus begini? Apakah kamu akan kuat menjalaninya dan menjadi orang dewasa yang mapan? Bagaimana bila justru gagal? Ketiadaan tutorial menjadi orang dewasa membuatmu seperti berjalan dalam kegelapan sembari meraba-raba. Lima cara di bawah ini bantu kamu menjadi pribadi dewasa yang makin utuh dari hari ke hari.
1. Jangan malu sharing dengan orang yang lebih berumur

Sayangnya, banyak orang mengartikan kedewasaan sebagai bersikap makin tertutup dari siapa pun. Seakan-akan menceritakan masalahmu pada mereka adalah aib. Kamu takut dianggap lemah, gampang bingung, serta belum bisa mengambil keputusan sendiri.
Akan tetapi, kedewasaan adalah perjalanan yang sangat panjang. Dari dewasa awal hingga akhir nanti makan waktu puluhan tahun. Ini fase perkembangan terpanjang dalam hidup manusia. Melebihi masa remaja serta anak-anak.
Jangan sampai energimu habis di awal masa dewasa. Dirimu butuh teman sharing yang tepat. Orang berumur 10 tahun di atasmu cocok menjadi kawan bicara yang menenangkanmu dari berbagai kegelisahan sekaligus memecahkan kebuntuan yang dialami. Mereka pernah ada di posisimu dan telah mampu melaluinya dengan cukup baik.
2. Terus melatih kemampuan untuk mindfulness

Orang dewasa gak boleh bertindak secara gegabah. Tindakan seperti itu sangat rentan membuatmu melakukan kesalahan. Kamu perlu belajar berpikir lebih panjang dan meningkatkan kesadaranmu. Baik kesadaran atas diri maupun hal-hal di luar.
Latihan mindfulness yang dapat dilakukan secara mandiri dan sesering mungkin misalnya, berdiskusi dengan diri sendiri. Kamu perlu meluangkan waktu untuk ini. Supaya dirimu lebih memahami apa yang diinginkan dalam hidup.
Kamu juga akan menjadi diri sendiri. Bukan sekadar ikut-ikutan orang lain seperti saat dirimu masih remaja. Tenangkan pula emosimu di berbagai situasi. Kamu punya perasaan dan pendapat, tetapi hindari menutup mata dari kebenaran berbeda menurut orang lain. Orang dewasa perlu belajar lebih objektif dalam menilai segala hal.
3. Buka diri untuk belajar lebih banyak dalam hidup

Kehidupan ini sangat luas. Siapa yang tekun mempelajari kehidupan akan menjadi orang yang bijaksana. Kebijaksanaan itu menjadi salah satu ciri kedewasaan. Dirimu tak hanya mempelajari berbagai skill yang akan berguna untuk bekerja.
Kamu juga perlu menandai pola-pola yang berulang dalam hidup meski makan waktu. Contohnya, masa susah yang tidak berlangsung selamanya. Pasti setelahnya akan datang masa mudah. Begitu pula sebaliknya.
Memikirkan hal-hal dalam hidup akan membuatmu lebih memiliki pedoman. Tak satu pun perkara terjadi dalam hidup tanpa mengandung pelajaran. Kalau hikmah itu berhasil dipetik, kamu punya bekal dalam menjalani hidup. Ada keyakinan-keyakinan positif yang menjadi tempat berpegang ketika hidup mulai goyah oleh ujian.
4. Menjaga arus kas sangat penting

Orang dewasa tidak bisa lepas dari uang. Materi sangat berharga tak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, juga buat menentukan statusmu di tengah masyarakat. Kamu barangkali bukan orang yang kaya raya.
Akan tetapi, dirimu tetap butuh kehidupan yang cukup stabil dari segi finansial. Oleh karena itu, berapa pun pendapatanmu harus diatur dengan baik. Jangan selalu menyalahkan penghasilan yang menurutmu kurang.
Kalau pemasukan masih minim, coba cari tambahan. Namun, yang jelas dirimu tak bisa 24 jam nonstop mencari uang. Ujung-ujungnya kamu tetap perlu mengatur arus kas sebaik mungkin. Pemasukan dan pengeluaran mesti dijaga supaya gak minus.
5. Banyak yang perlu dipikirkan, tapi tidak perlu overthinking

Beda dengan saat kamu masih remaja apalagi anak-anak. Saat itu, segala tentang hidupmu dipikirkan oleh orangtua. Dirimu tinggal menjalankan arahan mereka. Sementara kini sebagai orang dewasa, segalanya mesti dipikir sendiri.
Saking banyaknya hal yang perlu dipikirkan, pikiranmu menjadi bercabang-cabang. Ini mengurangi fokusmu. Apabila kamu larut dalam overthinking makin sulit lagi untukmu memusatkan perhatian pada tugas saat ini. Misalnya, bekerja.
Dirimu tetap perlu memikirkannya, tetapi beri batasan. Pahami bahwa hidup tidak berhenti hanya di alam pemikiran. Kamu mesti terus bergerak dengan cara melakukan ini itu. Sementara overthinking bakal membuatmu cemas dan menyulitkan aktivitas. Toh, kamu overthinking atau tidak, sesuatu yang harus terjadi akan tetap terjadi.
Memasuki usia dewasa, kamu seperti anak pingitan yang baru kali ini dibiarkan berada di luar rumah. Banyak hal terasa membingungkan dan bikin cemas. Tarik napas dalam-dalam lalu embuskan pelan-pelan biar dirimu sedikit lebih santai. Tantangannya memang beragam, tapi biarkan mengalir seperti air. Jangan terlalu mengkhawatirkan apa pun.




















