Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Banyak Gen Z Mulai Mengurangi Screen Time?

Kenapa Banyak Gen Z Mulai Mengurangi Screen Time?
Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)
Share Article

Selama bertahun-tahun, Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan smartphone. Hampir seluruh aktivitas mereka, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mencari hiburan, dilakukan melalui layar digital. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren yang cukup menarik: semakin banyak anak muda yang mulai membatasi penggunaan gadget dan mengurangi screen time dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya popularitas digital detox, penggunaan fitur pembatas waktu aplikasi, hingga tren kembali menikmati aktivitas offline seperti membaca buku fisik, berjalan kaki, berkebun, atau nongkrong tanpa sibuk memegang ponsel. Bagi banyak Gen Z, mengurangi screen time bukan lagi sekadar tantangan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital.

1. Media sosial membuat mental mudah lelah

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu alasan terbesar Gen Z mulai mengurangi screen time adalah kelelahan mental akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Setiap hari mereka dibombardir oleh informasi, berita, tren, iklan, hingga kehidupan orang lain yang terus muncul di layar ponsel.

“Jika kamu menghabiskan banyak waktu di ponsel, kamu memiliki lebih sedikit waktu untuk aktivitas yang dapat membangun kepercayaan diri, rasa pencapaian, dan keterhubungan,” jelas psikolog klinis Alexandra Hamlet, PsyD dalam Child Mind.

Selain itu, paparan informasi yang tidak pernah berhenti membuat otak sulit beristirahat. Banyak Gen Z mulai menyadari bahwa terlalu lama berselancar di media sosial justru membuat mereka lebih mudah cemas, stres, dan kehilangan fokus. Karena itu, membatasi waktu layar menjadi cara untuk memberi ruang bagi pikiran agar lebih tenang.

2. Kualitas tidur menurun akibat terlalu lama menatap layar

Ilustrasi bermain hp (pexels.com/Photo by Ron Lach)
Ilustrasi bermain hp (pexels.com/Photo by Ron Lach)

Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ponsel sebelum tidur dapat mengganggu kualitas istirahat. Cahaya biru (blue light) yang dipancarkan layar smartphone dapat memengaruhi produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.

"Cahaya biru telah terbukti mengurangi atau menunda produksi melatonin alami di malam hari dan mengurangi perasaan mengantuk. Cahaya biru juga dapat mengurangi jumlah waktu yang kamu habiskan dalam tidur gelombang lambat dan gerakan mata cepat (REM), dua tahap siklus tidur yang sangat penting untuk fungsi kognitif," laporan Sleep Foundation yang telah ditinjau oleh dokter spesialis tidur Kimberly Truong, MD, MPH.

Akibatnya, banyak Gen Z mulai menerapkan kebiasaan seperti tidak membuka media sosial satu jam sebelum tidur atau mengaktifkan mode fokus di malam hari. Mereka menyadari bahwa tidur yang cukup memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibanding beberapa menit tambahan untuk scrolling tanpa tujuan.

3. Ingin kembali menikmati kehidupan nyata

Ilustrasi bersenang-senang dan bahagia (unsplash.com/Photo by alexey turenkov)
Ilustrasi bersenang-senang dan bahagia (unsplash.com/Photo by alexey turenkov)

Tren mengurangi screen time juga didorong oleh keinginan untuk lebih hadir dalam kehidupan nyata. Banyak anak muda merasa terlalu sering melihat dunia melalui layar hingga kehilangan kesempatan menikmati pengalaman secara langsung.

“Semakin sedikit kamu terhubung dengan manusia secara mendalam dan empatik, semakin sedikit kamu benar-benar mendapatkan manfaat dari interaksi sosial. Semakin dangkal interaksi tersebut, semakin kecil kemungkinannya membuat kamu merasa terhubung, yang merupakan sesuatu yang kita semua butuhkan,” kata Alexandra Hamlet, PsyD.

Karena alasan tersebut, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, berolahraga, bertemu teman, membaca buku, atau menikmati secangkir kopi tanpa gangguan notifikasi mulai kembali diminati. Aktivitas-aktivitas ini membantu seseorang lebih fokus pada pengalaman yang sedang dijalani daripada terus menerus terdistraksi oleh dunia digital.

4. Screen time berlebih dapat menurunkan konsentrasi

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

Banyak Gen Z mulai menyadari bahwa terlalu sering berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain membuat kemampuan fokus mereka menurun. Notifikasi yang terus berdatangan membuat otak terbiasa melakukan multitasking yang sebenarnya tidak efektif.

"Ketika kita menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar, otak kita mengalami banjir informasi yang konstan, sehingga lebih sulit untuk berkonsentrasi pada satu tugas. Studi menunjukkan bahwa penggunaan layar yang sering mengurangi rentang perhatian dan meningkatkan kemungkinan multitasking, yang selanjutnya mengurangi produktivitas," kata Dr Robin Baweja, MD dikutip dari Sharpe Minds.

Gangguan digital yang terus menerus dapat membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali fokus pada pekerjaan utama. Karena itu, banyak Gen Z mulai mematikan notifikasi yang tidak penting dan menetapkan waktu khusus untuk membuka media sosial agar produktivitas mereka meningkat.

5. Muncul kesadaran baru tentang digital detox

Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)
Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)

Digital detox kini tidak lagi dianggap sebagai tren sesaat. Bagi sebagian Gen Z, mengurangi screen time merupakan bentuk self care yang membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan online dan offline.

"Detoks digital berarti seseorang atau individu memutuskan hubungan dengan perangkat atau media sosial untuk jangka waktu tertentu. Menurut penelitian, tidak menggunakan media sosial dapat berdampak signifikan pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang," demikian laporan jurnal "A Comprehensive Review on Digital Detox: A Newer Health and Wellness Trend in the Current Era" dalam National Library of Medicine.

Kesadaran inilah yang mendorong banyak anak muda untuk lebih selektif menggunakan teknologi. Mereka tidak meninggalkan internet sepenuhnya, tetapi mulai berusaha menggunakannya secara lebih sehat. Dengan cara tersebut, teknologi tetap menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sesuatu yang mengendalikan kehidupan mereka.

Fenomena Gen Z yang mulai mengurangi screen time menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap teknologi. Jika dulu semakin lama online dianggap sebagai hal yang wajar, kini semakin banyak anak muda yang menyadari pentingnya menciptakan batasan agar kesehatan mental, kualitas tidur, dan produktivitas tetap terjaga.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Melakukan Slow Living di Tengah Hustle Culture, Masih Mungkin?

03 Jun 2026, 08:45 WIBLife