Kenapa Buku yang Jarang Dibaca Cepat Rusak?

- Buku yang jarang dibaca lebih rentan rusak karena kelembapan, debu, dan minim sirkulasi udara yang mempercepat pelapukan kertas.
- Paparan cahaya, waktu, dan suhu ruangan yang tidak stabil mempercepat proses oksidasi. Hal ini membuat kertas menguning dan jilidan melemah.
- Buku yang lama tidak disentuh juga lebih mudah menjadi sarang serangga karena kondisi gelap dan lembap dibiarkan tanpa gangguan.
Banyak orang menyimpan buku dengan rapi di rak dengan harapan suatu hari nanti akan dibaca. Namun, tanpa disadari, buku-buku yang jarang tersentuh justru lebih cepat rusak. Kertasnya menguning, halamannya rapuh, dan aroma apaknya makin terasa. Hal ini sering bikin bingung karena rasanya tidak masuk akal sebab buku yang jarang dipakai kenapa malah lebih cepat rusak?
Ada banyak hal yang membuat buku rusak meski jarang dibuka. Penyebabnya tidak sesederhana karena sudah lama disimpan. Berikut penjelasan yang bisa membuka cara pandang baru soal kebiasaan kita memperlakukan buku.
1. Udara lembap menjadi musuh yang tak terlihat

Buku bukan benda mati sepenuhnya sebab kertas masih bisa bereaksi terhadap udara di sekitarnya. Saat disimpan di tempat yang lembap, serat kertas menyerap air dari udara. Ini membuatnya cepat mengembang dan rapuh. Kondisi ini juga memancing munculnya jamur dan bau apak yang sulit dihilangkan. Itulah mengapa buku yang jarang disentuh lebih rentan karena tidak ada sirkulasi udara yang cukup di antara halamannya.
Selain itu, ruangan dengan ventilasi buruk mempercepat proses pelapukan kertas. Buku yang dibiarkan menumpuk dalam waktu lama akan terjebak dalam kelembapan itu sendiri. Bahkan, rak tertutup tanpa sirkulasi bisa membuat kertas membusuk dari dalam tanpa terlihat dari luar. Itulah alasan kenapa menyimpan buku dengan benar jauh lebih penting daripada sekadar menjaganya tetap bersih.
2. Cahaya dan waktu mengubah warna halaman

Sinar Matahari bisa mempercepat proses oksidasi pada kertas, terutama jika rak buku dekat jendela. Warna putih kertas perlahan berubah menjadi kekuningan karena paparan cahaya yang berlebihan. Buku yang jarang dibuka cenderung diam di satu posisi dan menerima sinar dari arah yang sama terus-menerus. Akibatnya, warnanya memudar tidak merata, bahkan kadang muncul noda seperti terbakar di pinggir halaman.
Menariknya, waktu juga berperan besar tanpa bantuan cahaya. Lem, tinta, dan bahan kimia pada kertas mengalami proses alami yang membuatnya menua. Kalau buku sering dibuka, udara bergerak di antara halamannya dan memperlambat proses itu sedikit. Namun, kalau dibiarkan begitu saja, semua unsur di dalamnya akan diam membusuk.
3. Debu dan serangga menyukai buku yang tak pernah dibuka

Debu bukan sekadar kotoran ringan. Ia bisa mengandung partikel logam dan zat asam yang mempercepat pelapukan kertas. Ketika buku jarang dibersihkan, debu yang menumpuk bisa menembus ke sela halaman, lalu membuat tekstur kertas menipis. Serangga, seperti kutu buku atau rayap kecil, pun sering muncul karena mereka menyukai lingkungan gelap, lembap, dan tidak terganggu manusia.
Buku yang sering dibuka cenderung aman karena gerakan tangan dan udara mencegah serangga bersarang. Namun, kalau bertahun-tahun dibiarkan diam di rak, buku itu bisa jadi rumah bagi mereka. Kadang, kerusakannya baru terlihat saat dibuka, misalnya ada lubang kecil di tengah halaman atau serbuk halus di tepi buku.
4. Suhu ruangan yang tidak stabil mempercepat pelapukan

Perubahan suhu ekstrem membuat kertas mengalami kontraksi dan ekspansi berulang. Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan halaman mudah robek dan jilidan melemah. Saat siang panas dan malam lembap, buku seperti dipaksa menyesuaikan diri terus-menerus. Kalau jarang disentuh, proses ini berlangsung tanpa ada intervensi manusia untuk menyesuaikan posisinya atau menata ulang penyimpanannya.
Buku yang disimpan di kamar ber-AC pun tidak otomatis aman. Udara dingin kering justru bisa menyerap kelembapan alami dari kertas. Ini membuatnya kaku dan mudah patah. Menjaga suhu ruangan agar tidak terlalu ekstrem bisa membuat umur buku lebih panjang daripada sekadar menyimpannya di rak yang harganya mahal.
Buku memang tampak sederhana, tapi cara kita memperlakukannya menentukan awet tidaknya buku tersebut. Jadi, kapan terakhir kali kamu menyentuh buku yang sudah lama diam di rakmu? Jangan sampai pas bukunya kamu buka sudah mulai rusak halaman demi halamannya, ya!



















