Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan Kebutuhan Tersier Digemari saat Ekonomi Sulit
Ilustrasi Pria dan Wanita Sedang Shopping (Magnific.com/rawpixel.com)
  • Fenomena lipstick effect menunjukkan orang tetap membeli barang kecil bernuansa mewah sebagai bentuk coping dan menjaga rasa normal di tengah tekanan ekonomi.
  • Kecemasan finansial dan stres akibat krisis mendorong perilaku belanja impulsif untuk mencari kenyamanan emosional serta rasa aman sementara.
  • Pembelian barang tersier juga berfungsi mempertahankan citra diri dan kepercayaan diri agar tetap merasa berharga meski kondisi ekonomi sulit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat kondisi ekonomi sedang sulit, banyak orang mungkin berpikir pengeluaran bakal lebih difokuskan ke kebutuhan pokok saja. Namun nyatanya, barang tersier seperti kopi mahal, gadget, konser, sampai fashion tertentu tetap punya banyak peminat. Bahkan, gak sedikit yang masih rela checkout barang self reward meski dompet lagi harus diajak kompromi.

Kalau kata orang sekarang, “In this economy, kok masih sempat beli barang nonesensial?". Ternyata, fenomena ini bukan cuma soal gaya hidup atau ikut tren semata. Ada alasan psikologis di baliknya, mulai dari cara seseorang menghadapi stres, mencari rasa nyaman, mempertahankan rasa percaya diri, hingga kebutuhan untuk tetap merasa normal di tengah situasi yang serba tidak pasti. Inilah beberapa alasan kebutuhan tersier tetap digemari saat ekonomi sedang sulit!

sumber:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/how-to-make-better-choices/202408/overcoming-financial-anxiety-and-doom-spending

https://link.springer.com/article/10.1007/s12144-024-06604-2?utm_source=chatgpt.com

https://www.investopedia.com/terms/l/lipstick-effect.asp

1. Lipstik effect, tetap mencari kemewahan kecil di tengah krisis

Ilustrasi wanita menggunakan lipstik (pexels.com/Sam Lion)

Dalam kondisi krisis, tentu banyak orang gak bisa membeli barang mewah berharga besar. Namun, muncul fenomena lipstick effect. Menurut Adam Hayes, penulis keuangan dan ahli ekonomi perilaku, mengatakan kepada Investopedia,

"Lipstick effect menggambarkan tren konsumen yang tetap membeli barang-barang kecil yang terasa mewah dan masih terjangkau, seperti lipstik, parfum, kopi premium, atau produk perawatan kulit kelas atas selama masa resesi ekonomi."

Perilaku ini jadi salah satu mekanisme coping untuk memberikan rasa nyaman, normalitas, dan sedikit kemewahan di tengah situasi yang penuh tekanan. Dengan membeli barang kecil mewah yang menyenangkan, seseorang tetap bisa merasa memanjakan diri tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar membeli barang mewah premium. Akibatnya, orang tetap merasa bisa menikmati hidup dan merawat diri, tetapi tanpa muncul rasa bersalah berlebihan karena dianggap masih berada dalam batas pengeluaran yang masuk akal.

2. Melampiaskan rasa cemas dan mencari rasa nyaman atau ketenangan sementara lewat belanja

ilustrasi seorang wanita tersenyum sambil memegang tas belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

James Langabeer, peneliti perilaku sekaligus profesor Psikiatri di University of Texas Health Science Center at Houston, menjelaskan melalui Psychology Today bahwa salah satu dampak krisis ekonomi adalah munculnya kecemasan finansial. Kondisi ini terjadi ketika tuntutan finansial terasa melebihi sumber daya yang dimiliki sehingga memicu stres psikologis yang signifikan, rasa kehilangan kendali, serta dorongan kuat untuk mendapatkan kembali rasa aman. Perasaan gak berdaya dan ketidakpastian tersebut juga semakin diperbesar oleh paparan berita negatif yang terus-menerus.

"Keadaan emosional yang gak nyaman, mendorong sebagian orang mencari kelegaan dan kenyamanan instan melalui berbelanja. Orang membeli barang bukan semata karena kebutuhan, tetapi untuk membuat diri mereka merasa lebih tenang dan nyaman pada saat itu," jelasnya.

3. Stres memengaruhi sikap dalam mengambil keputusan finansial

ilustrasi membawa barang belanjaannya (unsplash.com/Erik Mclean)

Selain memicu kecemasan, tekanan ekonomi juga bisa meningkatkan stres psikologis. Perubahan kondisi mental ini membuat pikiran dan emosi menjadi kurang stabil. Hal ini bisa memengaruhi sikap maupun perilaku kita sehari-hari, termasuk dalam mengambil keputusan finansial. Menurut James Langabeer melalui Psychology Today, kondisi stres dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan keuangan secara rasional dan sadar.

"Di bawah tekanan, otak cenderung menggunakan jalan pintas dalam berpikir dan lebih dipengaruhi bias emosional dibanding analisis yang matang. Akibatnya, seseorang lebih rentan membuat keputusan impulsif yang belum tentu memberikan hasil terbaik dalam jangka panjang. Dalam situasi penuh tekanan, kemampuan untuk mempertimbangkan risiko, menunda keinginan, dan memikirkan dampak jangka panjang juga menurun," kata James.

4. Paparan berita negatif memperkuat rasa cemas dan memunculkan pesimisme kolektif

Ilustrasi seseorang yang tidak bisa lepas dari genggaman smartphone. (unsplash.com/Erik Mclean)

Perilaku belanja impulsif ternyata gak hanya dipicu oleh stres sesaat, tapi juga oleh rasa cemas kolektif yang berlangsung terus-menerus. Ketidakpastian ekonomi, situasi politik, serta paparan informasi negatif di media digital, membuat banyak orang merasa masa depan sulit diprediksi. Akibatnya, sebagian orang menjadi lebih fokus pada kepuasan jangka pendek dibanding perencanaan jangka panjang.

James kembali menjelaskan bahwa perasaan pesimis ini bisa memunculkan pola pikir seperti, “Kalau masa depan tetap tidak pasti, untuk apa terlalu menahan diri sekarang?” Kondisi itu bisa menimbulkan rasa pasrah sehingga seseorang lebih mudah mengambil keputusan keuangan impulsif demi kesenangan atau kenyamanan saat ini, meski berisiko menimbulkan dampak finansial di kemudian hari.

5. Mempertahankan rasa percaya diri atau citra diri meski kondisi ekonomi sedang sulit.

ilustrasi pria sedang berbelanja sepatu (unsplash.com/Antoni Shkraba Studio)

Saat kondisi ekonomi sulit, sebagian orang merasa kepercayaan diri, status sosial, atau citra dirinya ikut terancam. Karena itu, mereka tetap membeli barang tertentu, termasuk produk mewah untuk mempertahankan perasaan “tetap berhasil”, “tetap layak”, atau “tetap seperti diri mereka sebelumnya”. Wiktor Razmus dan Mariola Laguna, peneliti psikologi konsumen dari John Paul II Catholic University of Lublin yang meneliti hubungan antara perilaku belanja, brand, dan self-esteem dalam jurnal Current Psychology menjelaskan,

"Sebagian orang menggunakan konsumsi atau pembelian barang sebagai cara untuk mempertahankan rasa percaya diri dan citra diri. Barang atau brand tertentu dapat memberi rasa bangga, pencapaian, dan meningkatkan penilaian terhadap diri sendiri."

Hal ini menjelaskan mengapa di tengah kondisi ekonomi yang sulit, sebagian orang tetap membeli barang mewah atau nonesensial. Bagi sebagian orang, membeli produk tertentu gak hanya soal kebutuhan, tapi juga cara untuk menjaga identitas diri supaya merasa lebih berharga di tengah tekanan dan ketidakpastian ekonomi.

Pada akhirnya, kebiasaan membeli kebutuhan tersier di tengah tekanan ekonomi gak selalu berarti seseorang boros atau gak bijak mengatur uang. Dalam banyak kasus, perilaku ini juga berkaitan dengan kebutuhan emosional dan cara individu menghadapi rasa cemas, stres, maupun ketidakpastian.

Editorial Team