Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Manusia Suka Menyalahkan Setan atas Kesalahannya?
ilustrasi setan (vecteezy.com/Anton Rysak)
  • Banyak orang menyalahkan setan agar kesalahan terasa ringan dan tidak memalukan, seolah terjadi tanpa kesadaran penuh.
  • Kebiasaan sejak kecil mendengar ungkapan tentang godaan setan membentuk refleks bahasa yang menggeser tanggung jawab pribadi.
  • Tradisi turun-temurun membuat setan jadi kambing hitam, padahal keputusan salah tetap berasal dari diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setan sering muncul sebagai pihak yang dituduh ketika seseorang berbuat salah, mulai dari urusan kecil seperti menunda pekerjaan sampai keputusan besar yang berujung penyesalan. Saat ngobrol pun, kaata seperti “khilaf" atau "digoda setan” terasa ringan dan mudah dilontarkan begitu saja.

Padahal, kebiasaan menyebut setan sebagai penyebab kesalahan bukan sekadar candaan, melainkan cerminan tentang cara banyak orang memaknai tanggung jawab dalam hidup mereka. Berikut lima alasan yang membuat manusia kerap menyalahkan setan atas kesalahannya.

1. Manusia sering mencari alasan yang tidak terlihat memalukan

ilustrasi berbohong (vecteezy.com/ Viorel Kurnosov)

Coba perhatikan momen ketika seseorang ketahuan berbohong soal hal kecil, misalnya alasan tidak datang ke acara teman. Jarang ada yang langsung bilang, “Aku memang tidak mau datang.” Tapi, yang keluar justru, “Khilaf,” atau “lagi kena godaan.” Kalimat itu terdengar lebih ringan, seolah kesalahan muncul tiba-tiba tanpa direncanakan. Dengan menyebut setan, kesalahan terasa seperti terpeleset, bukan keputusan sadar.

Alasan semacam ini juga sering muncul saat seseorang melanggar komitmen pribadi, seperti diet yang sudah disusun rapi tapi bubar hanya karena diskon tengah malam. Alih-alih mengakui kurang disiplin, lebih mudah menyebut diri sedang tergoda. Padahal tombol checkout tetap ditekan dengan sadar. Menyalahkan setan membuat rasa bersalah terasa setengah-setengah.

2. Kebiasaan sejak kecil membentuk cara orang menjelaskan kesalahan

ilustrasi kesalahan (pexels.com/Timur Weber)

Sejak kecil banyak orang mendengar kalimat, “Jangan ikuti bisikan setan.” Kalimat itu diulang dalam berbagai situasi, dari nasihat orang tua sampai obrolan santai. Lama-lama, ungkapan tersebut bukan lagi sekadar peringatan, melainkan jawaban otomatis ketika terjadi kesalahan. Tanpa sadar, menyebut setan jadi semacam refleks bahasa.

Misalnya saat seseorang terpancing emosi di jalan dan membentak pengendara lain. Setelah tenang, ia berkata, “Tadi kebawa suasana.” Padahal amarah itu tidak datang sendiri, ada pilihan untuk menahan atau meluapkannya. Karena sejak lama terbiasa menyebut godaan, kesalahan terasa seperti sesuatu yang datang, bukan sesuatu yang dipilih.

3. Rasa takut dinilai membuat orang menggeser tanggung jawab

ilustrasi mengakui kesalahan (pexels.com/Prasong Takham)

Mengakui kesalahan itu berat, apalagi jika menyangkut hal yang merusak kepercayaan. Saat seseorang ketahuan berselingkuh, misalnya, jarang ada pengakuan jujur bahwa keputusan itu diambil secara sadar. Yang muncul sering kali kalimat, “Aku lagi lemah.” Dengan begitu, fokus berpindah dari pilihan pribadi ke kondisi sesaat.

Hal serupa terlihat di media sosial ketika figur publik tersandung masalah. Permintaan maaf kerap dibungkus dengan kata “khilaf” agar terdengar lebih manusiawi. Publik pun lebih mudah memberi ruang maaf jika kesalahan dianggap akibat godaan, bukan kemauan. Setan akhirnya menjadi pihak yang selalu siap menanggung beban.

4. Mengakui kelalaian sendiri memang tidak nyaman

ilustrasi mengakui kelalaian (vecteezy.com/Prakasit Khuansuwan)

Menghadapi fakta bahwa diri sendiri lalai bukan perkara ringan. Lebih mudah menyebut ada pengaruh luar dibanding mengakui kebiasaan buruk yang terus diulang. Contohnya sederhana, seseorang sering terlambat bekerja lalu berkata dirinya sulit bangun pagi karena godaan. Padahal tiap malam ia memilih menonton sampai lewat tengah malam.

Selama penyebabnya selalu diarahkan keluar, perubahan jarang terjadi. Orang merasa sudah punya penjelasan, sehingga tidak merasa perlu memperbaiki. Padahal tanpa pengakuan yang jelas, kesalahan yang sama mudah terulang. Menyebut setan sering kali menunda kejujuran terhadap diri sendiri.

5. Cerita dan ungkapan turun-temurun membuat setan jadi kambing hitam

ilustrasi setan (vecteezy.com/ Kanokpol Prasankhamphaibun)

Di banyak keluarga, kesalahan anak kecil sering dijelaskan dengan kalimat, “Pasti ada yang menggoda.” Niatnya mungkin untuk memberi peringatan, bukan untuk membebaskan dari tanggung jawab. Namun kebiasaan itu lama-kelamaan membentuk cara berpikir bahwa kesalahan selalu punya penyebab. Penjelasan terasa lebih sederhana ketika ada pihak lain yang disalahkan.

Saat dewasa, cara pandang itu tetap terbawa. Ketika gagal menjaga komitmen, setan kembali disebut. Padahal keputusan tetap diambil oleh diri sendiri, bukan oleh makhluk tak terlihat. Tradisi bahasa yang terus diulang akhirnya menciptakan pola pembelaan yang terasa wajar.

Setan memang kerap dijadikan alasan ketika kesalahan terjadi, tetapi keputusan tetap lahir dari diri sendiri. Kebiasaan menyalahkan setan mungkin terasa ringan dan aman, namun tidak selalu membantu seseorang belajar dari kekeliruannya. Jika alasan itu terus dipakai, kapan seseorang benar-benar berani mengakui bahwa kesalahan lahir dari keputusan sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team